Petani di Babakan Bekasi, Berharap Perhatian Pemerintah

Editor: Mahadeva

BEKASI – Petani di Kampung Babakan, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi Jawa Barat, berharap perhatian pemerintah setempat.

Mereka mengharapkan adanya fasilitasi pembuatan sumur bor, untuk mengantisipasi kekeringan. “Sumur bor, berguna untuk antisipasi jika terjadi kekeringan, untuk mengairi sawah. Sudah sering diajukan jika ada pertemuan dengan dinas pertanian, tapi sampai sekarang belum dibuat,” ujar Sali, salah satu petani padi di Kampung Babakan, Senin (1/7/2019).

Sali, (50) Kelompok Tani Kampung Babakan – Foto M Amin

Kelompok Tani di Babakan ada tiga. Sebelumnya, pernah mendapat bantuan mesin penyedot air. Bantuan itu saat ini dirasakan masih kurang. Bantuan yang diberikan empat unit mesin, untuk dua kelompok tani dengan areal sawah sekira 40 hektare.

Sementara, saat ini kekeringan juga mengancam lahan sawah di Kampung Babakan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan biaya perawatan, jika ingin produksi tetap maksimal. Petani harus mengairi sawah dengan mesin pompa yang membutuhkan bahan bakar minyak.

“Sawah Kampung Babakan bisa dikatakan sawah tadah hujan. Saat ini mengandalkan aliran air dari PT Timah, tetapi sudah kering. Menggunakan sumur bor untuk mengaliri sawah. Sumur bor yang ada hanya beberapa titik, itupun dibuat dengan biaya sendiri,” tukasnya.

Sali menyebut, sekira 30 persen sawah di musim kering terancam gagal panen. Terutama petani yang baru melakukan tandur beberapa waktu lalu, dan hingga kini belum pernah turun hujan. Jika terjadi kekeringan seperti saat ini, petani bisa mendapatkan balik modal sudah bersyukur.

Kendati demikian, Dia optimistis petani masih tetap bisa panen. Meski harus rajin merawat dan dan siap dengan biaya perawatan yang bertambah. Sali menyebut, sudah hampir setahun kelompok Tani Babakan yang mengelola sawah, tidak pernah ada pertemuan dengan pemerintah daerah setempat.

Dulu saat pencalonan Wali Kota Bekasi, Dinas Pertanian sering berkunjung, dan bisa sebulan sekali datang memperhatikan para petani dengan bantuan. Petani lainnya, Canih, mengungkapkan, selain sumur bor petani juga berharap bantuan mesin perontok gabah. Agar petani tidak perluk menyewa mesin perontok saat panen.

“Bantuan tahun lalu selalu ada, obat-obatan untuk rumput. Petani kalau kekeringan begini, yang diperlukan obat rumput karena rumput tumbuh di sela sela padi akibat kekeringan,” paparnya.

Dia juga menyebut bahwa harga pupuk sekarang mencapai Rp235 ribu per-kuintal. Untuk beli pupuk subsidi imbuhnya tempatnya jauh, sehingga petani masih keberatan diongkos transportasi.

Lihat juga...