Kemarau, Petani di Lamsel Maksimalkan Pompa Air

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Petani padi di Kecamatan Sragi, Penengahan, Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) dan Lampung Timur (Lamtim), mulai terdampak kemarau, atau masa tanam gadu.

Damin, petani penggarap lahan sawah bengkok milik desa mengaku masih bisa menanam padi saat kemarau dengan mengandalkan mesin sedot air (alkon) untuk pengairan.

Damin mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra agar tanaman padi miliknya bisa tumbuh dengan baik. Memanfaatkan aliran siring alam, ia membendung air yang dipergunakan petani. Saluran air tersebut dikelola oleh Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) mengandalkan mata air dari Gunung Rajabasa. Meski dibendung,sebagian petani masih bisa memanfaatkan aliran air bagi lahan sawah di bagian bawah.

Ia menyebut mengeluarkan biaya ekstra untuk menghidupkan mesin pompa air dengan bahan bakar solar. Mesin pompa untuk mengalirkan air disediakan dengan sistem sewa sementara untuk bahan bakar dibeli dengan sistem eceran. Meski harus menyewa alat, ia mengaku alat disewa dengan sistem patungan Rp100.000 perdua jam. Sementara untuk bahan bakar ia harus membeli perliter solar seharga Rp7.000.

“Sebagian petani tidak memiliki mesin pompa sendiri sehingga terpaksa harus menyewa agar tanaman padi yang sudah terlanjur ditanam bisa tetap hidup hingga masa berbuah,” terang Damin, salah satu petani saat ditemui Cendana News, Rabu (3/7/2019).

Mesin alkon berbahan bakar solar diakuinya menghabiskan bahan bakar sebanyak 4 liter bisa digunakan untuk jangka 8 jam dengan setelan gas stabil. Harga bahan bakar solar di pengecer dibeli dengan Rp7.000 per liter, membuat ia mengeluarkan biaya Rp28.000, belum termasuk biaya operasional lain. Damin menyebut, pengairan kerap dilakukan saat pagi dan sore hari.
Sebagai petani yang memilih untuk menanam padi kala musim gadu, ia sudah siap dengan risiko kekurangan air. Meski demikian, keberadaan aliran siring alam masih bisa dimanfaatkan untuk pengolahan lahan hingga penanaman.

Ia menyebut, untuk pengairan bagi lahan sawahnya ia bisa mengeluarkan biaya lebih dari Rp500 ribu.

“Biaya ekstra harus dikeluarkan karena kekeringan terjadi saat padi memasuki masa tanam,” paparnya.

Menjaga padi yang ditanam tetap bisa tumbuh dan berproduksi diakui Damin sebagian diperoleh dengan berutang. Hutang tersebut kerap diperoleh dari bos pemilik usaha jual beli padi, sehingga saat panen hasil padi bisa digunakan untuk membayar utang.

Damin juga menyebut, untuk pembelian pupuk dirinya kerap masih menggunakan sistem bayar panen (Yarnen) setelah padi dipanen dan dibeli oleh bos pengepul padi.

Dibandingkan petani padi lainnya, Damin mengaku masih lebih beruntung. Sebab, sebagian lahan pertanian padi masih mengalami kekeringan. Lahan padi di wilayah yang jauh dari jangkauan sungai dan susah melakukan proses pemompaan air, bahkan dibiarkan kering oleh petani. Sejak pertengahan bulan Juni, hujan tidak pernah mengguyur lahan pertanian di wilayah tersebut.

“Kami maksimalkan aliran sungai kecil yang ada untuk menanam padi, meski harus menyedot air,” ungkap Damin.

Selain di Lamsel, dampak kemarau juga dirasakan oleh sejumlah petani penanam hortikultura di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah, Lamtim.

Husin, petani penanam kacang tanah, sayuran pare dan tanaman sayuran lain mengalami kekeringan. Pada tanaman sayuran jenis pare, meski sempat berbuah, hasil yang diperoleh tidak maksimal. Buah yang kerdil sebagian layu akibat kurangnya pasokan air.

“Khusus untuk tanaman kacang tanah masih akan disiram memakai mesin alkon, agar bisa berbuah dan dipanen,”cetusnya.

Penggunaan alkon kerap dilakukan saat musim kemarau melanda. Meski kemarau melanda, keberadaan sungai kecil dan sumur bor diakuinya masih bisa dipergunakan untuk pengairan.

Meski demikian, ia harus mengeluarkan biaya puluhan ribu untuk membeli bahan bakar premium. Langkah tersebut dilakukan agar ia tidak gagal panen, meski produksi menurun akan lebih menguntungkan dibandingkan gagal panen

Lihat juga...