Kejar Target Fertility Rate, BKKBN akan ‘Rebranding’
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Fertility Rate Indonesia saat ini sudah mencapai 2,38, sudah mendekati angka target 2,1. Untuk mencapainya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan berfokus pada sosialisasi dan rebranding.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menjelaskan, strateginya akan berfokus pada struktur penduduk hingga tercipta bonus demografi.
“Saat ini, usia produktif, yaitu 15 hingga 65 tahun, itu dua kali lipat dari usia tidak produktif. Usia tidak produktif ini yaitu masyarakat yang umurnya 14 tahun ke bawah dan lebih dari 65 tahun,” kata Hasto saat ditemui, Jumat (12/7/2019).
Adapun langkah-langkah yang akan diambil terkait untuk mencapai target fertility rate di 2,1, Hasto menyebutkan akan ada beberapa strategi.
“Yang pertama adalah terkait angka unmeet need. Saat ini Indonesia ada di 10,5. Artinya, ada sekitar 3,6 juta penduduk yang tidak ingin punya anak tapi tidak menggunakan kontrasepsi. Sehingga terkadang mereka bablas,” ujar Hasto.
Untuk memastikan agar unmeet need ini tidak bertambah dan lebih baik lagi jika berkurang, mantan Bupati Kulonprogo ini menyebutkan akan melakukan identifikasi yang berbasis nama dan alamat dengan mengandalkan 18 ribu tenaga penyuluh yang dimiliki oleh BKKBN di seluruh Indonesia.
“Cara yang sama juga akan ditujukan bagi ibu pasca bersalin maupun pasca abortus. Kita akan melakukan konseling langsung setelah proses bersalin atau abortus. Sehingga akan terjadi jarak dari kelahiran mereka,” urainya lebih lanjut.
Selain itu, Hasto juga menyebutkan akan melakukan rebranding BKKBN untuk menarik minat generasi milenial.
“Saya berfikir, bagaimana anak-anak muda akan tertarik dengan program BKKBN, jika melihatnya saja mereka akan berkata jadul. Karena itu saya akan melakukan re-branding,” kata Hasto.
Hasto mengakui kemungkinan tahun ini bisa mencapai fertility rate 2,1 itu kecil persentasenya. Tapi dirinya mengakui bahwa dengan dukungan dari kementerian/lembaga lain, maka itu bukan hal yang mustahil.
“Ini kan pasar potensial sudah didepan mata. Saya berprinsip act from small, berbuat dari yang kecil, yang mudah dikejar. Mungkin tidak tahun ini, tapi akan dikejar,” tegasnya.
Terkait hubungan menjaga kelahiran dengan kesehatan, Hasto menyatakan bahwa potensi high risk itu terjadi pada kelahiran ketiga dan seterusnya.
“Begitu masuk kelahiran ketiga, risikonya kan lebih tinggi. Apalagi jika usia ibu lebih dari 35 tahun,” kata Hasto.
Ia membandingkan angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga Singapura.
“Di Indonesia itu, angka kematian ibu melahirkan adalah 305 setiap 100.000. Coba bandingkan dengan Singapura yang hanya 7 setiap 100.000. Jauh sekali kan. Itulah yang kita kejar,” pungkasnya.