Kehabisan Modal, Peternak Ayam Potong Bermitra dengan Perusahaan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah peternak ayam mandiri di Kabupaten Kulonprogo diketahui berbondong-bondong pindah sebagai peternak plasma (bermitra dengan perusahaan).

Hal itu muncul sebagai dampak anjloknya harga jual daging ayam potong di tingkat peternak sejak beberapa waktu terakhir.

Setelah mengalami kerugian besar, para peternak ayam potong di Kulonprogo ini mengaku kehabisan modal untuk membiayai operasional usaha produksi ayam mereka.

Baik itu untuk membeli DOC (anak ayam), pakan, obat-obatan, maupun menggaji tenaga. Sehingga mereka pun memilih bermitra dengan perusahaan.

“Kalau bermitra dengan perusahaan kita tidak terpengaruh naik turunnya harga jual ayam. Karena pihak perusahaan pasti akan membeli ayam sesuai harga yang disepakati di awal. Selain itu semua kebutuhan mulai dari DOC, pakan, sampai vitamin juga disuplai perusahaan. Jadi kita tinggal pelihara saja,” ujar salah seorang peternak ayam, Supomo asal Triharjo Wates Kulonprogo, Selasa (9/7/2019).

Meski keuntungan peternak yang bermitra dengan perusahaan minim, namun Supomo mengaku sudah tak punya pilihan. Selain tak ingin rugi untuk kesekian kalinya, ia juga mengaku sudah tak punya modal lagi untuk menjalankan usaha ternak ayam potong secara mandiri.

“Sudah 3 kali panen ini saya selalu merugi akibat hancurnya harga jual ayam. Jadi sekarang sudah tidak punya modal lagi. Mau tidak mau ya harus bermitra dengan perusahaan. Mau bagaimana lagi,” katanya.

Sebagaimana diketahui harga jual ayam di tingkat peternak, hancur sejak beberapa waktu terakhir. Harga jual ayam potong terendah di tingkat peternak bahkan sempat menyentuh hingga Rp6-8ribu per kilogramnya.

Hal itu jelas membuat para peternak kelimpungan, pasalnya harga jual tersebut sangat jauh di bawah harga pokok produksi (HPP).

“Setelah anjlok hingga Rp6-8 ribu per kilo, harga jual ayam sempat naik jadi Rp15 ribu, Rp16 ribu dan Rp18 ribu setelah ribuan peternak melakukan aksi bagi-bagi ayam kemarin. Namun kenaikan itu hanya berlangsung beberapa hari saja sampai di harga Rp19.500 ribu. Harga jual ayam di tingkat peternak saat ini kembali turun di kisaran Rp16.500 per kilo,” katanya.

Memelihara sekitar 6200 ekor ayam potong, Supomo mengaku merugi hingga Rp1000-1500 per ekor ayam, selama 3 kali masa panen terakhir. Jumlah itu belum termasuk biaya untuk membayar tenaga atau anak kandang yang mencapai Rp2,5 juta per sekali masa panen 35 hari.

“Kalau bermitra dengan perusahaan kita jual ayam dengan harga Rp18 ribu per kilo. Dengan syarat bobot 2 kilo umur 35 hari. Kita sebagai peternak bisa untung, tapi bisa juga rugi tenaga. Semua tergantung kualitas DOC, dan pakan. Karena beda perusahaan beda-beda kualitasnya,” ungkapnya.

Lihat juga...