Berawal dari Iseng, Warga Banyumas Kebanjiran Order Ayam Kalkun
Editor: Koko Triarko
BANYUMAS – Berawal dari iseng, bisnis ternak ayam kalkun yang ditekuni Kusworo, warga Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, kini sudah beromset jutaan rupiah. Bisnis ternak ayam kalkun masih sangat menjanjikan, sebab di wilayah Banyumas dan sekitarnya masih belum banyak yang menekuninya.
Terkait usahanya yang dirintis dalam satu tahun terakhir ini, Kusworo menuturkan, awalnya ia mendapatkan ayam kalkun jantan dari seorang teman. Setelah beberapa hari dipelihara, ia kemudian membeli kalkun betina seharga Rp400.000. Tidak berapa lama kemudian, kalkun tersebut menghasilkan 14 telur dan semua diternak hingga menjadi anakan kalkun.
“Ayam kalkun itu bisa menghasilkan telur antara 10-25, dan kemarin pertama bertelur, ada 14 dan semua dipelihara sampai menetas anakan kalkun,” tutur Kusworo, Selasa (23/7/2019).

Lebih lanjut Kusworo bercerita, untuk anakan ayam kalkun yang usianya masih satu bulan, harganya mencapai Rp80.000 dan untuk anakan yang sudah berwarna, harganya bisa di atas Rp100.000 per ekor.
Perputaran uang di bisnis kalkun ini terbilang cukup cepat. Peminat ayam kalkun sangat banyak, ada yang membeli anakan untuk diternak, ada yang membeli kalkun usia dewasa untuk penggemar ayam kalkun, ada juga yang membeli untuk dikonsumsi.
“Yang pesan untuk dikonsumsi cukup banyak, karena daging kalkun yang usianya di bawah 1 tahun, dagingnya empuk dan rendah kolesterol, sehingga bagi yang diet tetap bisa mengkonsumsi ayam kalkun dan aman untuk kesehatan,” jelasnya.
Harga ayam kalkun pedaging untuk usia 1 tahun, berkisar Rp750.000 hingga Rp1.000.000. Untuk pembelian daging kalkun, Kusworo menyediakan beberapa bentuk pembelian, mulai dari ayam utuh, ayam yang sudah dipotong-potong, dicincang hingga kalkun yang sudah dimasak.
Meskipun pemasaran kalkun masih dilakukan ala kadarnya, yaitu melalui media sosial serta promosi dari mulut ke mulut, Kusworo sudah kebanjiran pesanan. Untuk anakan ayam kalkun, misalnya, ia pernah mendapat pesanan hingga ratusan ekor dari penggemar kalkun di luar Jawa. Sayangnya, Kusworo tidak bisa memenuhi permintaan tersebut, karena keterbatasan stok kalkun.
“Saya ternak sendiri dan sekarang stok yang tersedia hanya ada 3 kalkun jantan, 4 kalkun betina, sekitar 20 anakan kalkun yang usianya sudah dua bulan dan yang baru lahir ada belasan. Untuk memenuhi permintaan lokal dari Banyumas saja masih kekurangan, sehingga permintaan dalam jumlah banyak, belum bisa saya penuhi,” kata Kusworo.
Dalam hal pemeliharaan kalkun cukup mudah. Makanannya hanya cukup katul dan jika menginginkan telur yang dihasilkan lebih banyak, makanan kalkun ditambah dengan sayuran.
Hanya saja, selama musim kemarau ini perlu perhatian ektra, karena ayam kalkun tidak tahan cuaca dingin. Lampu di kandang harus terus dinyalakan, meski siang hari untuk menaikkan suhu udara. Terlebih untuk ayam kalkun usia 0-30 hari, sangat membutuhkan suhu yang hangat.