KPN Syariah Disdik Bukittinggi Manfaatkan Website Perluas Pasar Toserba
Editor: Koko Triarko
BUKITTINGGI – Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Syariah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, kini mulai memanfaatkan website untuk memperluas pemasaran dari toko serba ada (toserba) yang dikelolanya. Website ini juga berfungsi sebagai sarana transaksi online, sehingga memudahkan anggota koperasi dan masyarakat umum yang ingin berbelanja.
Menurut Sekretaris KPN Syariah Disdik Kota Bukittinggi, Kafrawi, dengan adanya website, banyak orang bisa mengakses dan mengetahui KPN Syariah Dikbud. Apalagi, sekarang adalah era kemajuan teknologi. Adanya website merupakan upaya koperasi menyesuaikan perkembangan zaman.
“Di website itu halaman pertama ada berita seputar kegiatan di KPN Syariah Disdik. Untuk melihat barang-barang yang dijual di Toserba, ada di bagian bawahnya. Caranya tinggal klik jenis barang yang hendak dibeli, nantinya akan tertera harga dan foto barangnya. Cara transksinya hampir sama dengan situs belanja online lainnya,” katanya, Selasa (23/07/2019).
Namun, Kafrawi mengaku jumlah transaksi online belum terlalu besar. Hal ini karena hampir sebagian besar anggota koperasi sudah berusia di atas 50 tahun. Sementara untuk anggota yang tergolong para guru-guru muda, sebagian besar sudah memanfaatkan website tersebut.
Sedangkan untuk masyarakat umum, bisa dikatakan belum tersebar luas keberadaan website kpndikbud, karena sampai saat ini proses tahap penyelesaian atau penyempurnaan web masih terus dikerjakan.
KPN Disdik Bukittinggi merupakan salah satu yang terbaik dengan jumlah anggota 871 orang, dan aset mencapai Rp51,1 miliar. Anggotanya terdiri dari guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara guru Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak termasuk anggota koperasi, karena kewenangan guru SMA berada di tingkat provinsi.
Menurutnya, memanfaatkan internet menjadi salah satu upaya untuk menjadi koperasi yang mampu bersaing di era Industri 4.0. Hal ini juga bentuk berbenah dari koperasi yang selama ini menerapkan sistem manual, beralih ke sistem otomatis.
Namun demikian, selain membawa harapan, perkembangan industri 4.0 juga membawa tantangan. Implementasi industri 4.0 dikhawatirkan hanya akan menjangkau perusahaan besar tanpa bisa menyentuh usaha kecil menengah (UKM) maupun koperasi.
Sebagian besar UKM dan Koperasi juga jarang mendapatkan program pendidikan, pelatihan atau pun penyuluhan untuk meningkatkan kapasitasnya, guna menghadapi tantangan digitalisasi ekonomi.
Kafrawi mengatakan, ada banyak hal yang perlu disiapkan dalam menapaki Industri 4.0 di Indonesia, seperti sumber daya manusia (SDM). Karena diperkirakan, dengan masuknya industri ini akan memangkas jumlah tenaga kerja manusia.
“Koperasi perlu menyaipkan SDM yang andal. Dan, bagi koperasi yang enggan menapaki Industri 4.0, bisa diperkirakan koperasi terkait bakal sulit hidup, serta bisa terkubur zaman,” pungkasnya.