Dinkes Tanjungpinang Siapkan Ruang Isolasi “Monkeypox”

Seorang petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan mengoperasikan alat pemindai panas tubuh di terminal kedatangan internasional Bandara Sultan Syarif Kasim II di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (14/5/2019). Otoritas Bandara Sultan Syarif Kasim II menyatakan alat pemindai panas tubuh sudah diaktifkan untuk memantau penumpang dari Singapura dan Malaysia yang berpotensi terjangkit virus cacar monyet (monkeypox). (Ant)

TANJUNGPINANG – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau memnyiapkan ruang isolasi untuk mengantisipasi penyakit cacar monyet atau Monkeypox.

Kepala Dinkesdalduk KB Tanjungpinang, Rustam, mengatakan, ruang isolasi tersebut berada di Rumah Sakit Raja Ahmad Thabib, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). “Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kepri supaya Rumah Sakit Raja Achmad Thabib diaktifkan, sebagai tempat rujukan apabila ada warga terjangkit virus itu,” kata Rustam, Kamis (16/5/2019).

Pihak-pihak terkait lain diminta memperketat pengawasan di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang, yang menjadi pintu masuk warga negara Malaysia dan Singapura ke Tanjungpinang. Hal itu merespon, informasi dari Pemerintah Negara Singapura yang sudah mengkonfirmasi ditemukan virus cacar monyet di negara mereka.

Selain itu, di Pelabuhan SBP Tanjungpinang juga disiagakan alat Thermal Scanner. Alat akan mendeteksi suhu tubuh di atas 37 hingga 38 derajat celcius. Sampai saat ini, Dinkesdalduk Kepulauan Riau belum menemukan adanya warga setempat yang terjangkit virus tersebut. “Dari data puskesmas, rumah sakit dan masyarakat, kami belum menerima adanya warga yang terdeteksi mengidap virus itu,” terang Rustam.

Puskesmas maupun rumah sakit di Tanjungpinang juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penderita demam. Ketika ada pasien panas, dengan gejala ruam pada kulit yang spesifik sepeti cacar monyet patut diwaspadai. Terlebih ada riwayat melakukan perjalanan dari negara yang terdapat kasus virus tersebut. “Singapura dekat dengan Tanjungpinang, jadi patut diwaspadai,” jelas Rustam.

Rustam menyampaikan, cacar monyet adalah virus yang mirip dengan cacar yang biasa terjadi pada manusia. Virus ini sebenarnya sudah diberantas pada 1980. Virus ini tidak menyebar dengan mudah dari orang ke orang, tetapi dalam kasus yang langka, virus ini dapat berakibat fatal.

Cacar monyet biasanya berlangsung selama dua hingga empat minggu. Dimulai dari demam dan sakit kepala, lalu berlanjut ke benjolan kecil (pustula) yang menyebar ke seluruh tubuh. “Penderita harus ditangani dengan cepat, mengingat bersifat menular,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...