Menag Ajak Ulama Warnai Dakwah di Media Sosial
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak ulama sufi untuk ikut mewarnai dakwah di media sosial.
“Hari ini, saya mengajak kepada kita semua untuk dapat terus membumikan dakwah Islam dengan pendekatan sufistik yang cerdas dan cermat. Mari kita isi media sosial kita dengan hal-hal yang positif dan penuh hikmah,” tutur Menag melalui pesan singkat yang diterima wartawan, di Jakarta Pusat, Rabu (10/4/2019).
Dia merasa mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan yang luar biasa, karena bisa hadir bersama sufi yang mulia, mursyid, muqoddam, baddal, dan khalifah kekasih Allah baik dari Indonesia maupun dari mancanegara.
“Semoga senantiasa tercurah selalu kepada kekasih kita semua, Muhammad SAW yang kepadanya semua sanad dan silsilah tarekat bermuara. Semoga konferensi ulama sufi internasional ini menjadi tali penyambung sanad keilmuan dan pengikat sanad spiritual kita kepada baginda Muhammad SAW,” katanya.
Dia tidak meragukan lagi, bahwa para sufi memiliki peran yang sangat signifikan dalam tumbuh kembang dakwah Islam di Indonesia. Ada pun tiga aspek yang diyakini yakni keislaman, kebangsaan dan keindonesiaan berhasil dilebur menjadi satu kemasan yang indah dan mempesona.
“Ketiganya, keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan telah di-ittihad-kan dan di-hulul-kan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkap dia.

Menag menilai, para sufi lekat dengan kreativitas dalam dakwah. Bahkan, kreativitas itu menjadi sesuatu yang distingtif. Mereka misalnya menggunakan Halaqah Zikir (majelis zikir), Khalwat-khalwat Alquran, dan Zawiyah sufiyah yang dikembangkan sesuai kondisi zaman.
Kreativitas yang sama diperlukan dalam merespon tantangan dakwah era milenial dengan segala perangkat digital dan media sosial. Karenanya, dibutuhkan upaya serius dari kaum sufi untuk menggarap aksi dakwah yang dapat mengangkat harkat dan martabat umat Islam, terutama di media sosial.
“Generasi digital juga harus memahami dan mengingat pengalaman sejarah bahwa Islam masuk ke negeri ini dengan cara damai, antara lain melalui tangan para sufi. Generasi milenial harus tahu bahwa para ulama sufi menyebarkan Islam dengan akhlak yang mulia, sehingga dakwah Islam menjadi lebih efektif dan damai,” sambungnya.
Menag mengucapkan selamat atas suksesnya penyelenggaraan Konferensi Ulama Sufi Internasional. Menag mengajak semua pihak untuk meneruskan dakwah damai baginda Rasulullah SAW sehingga keramahan dan kedamaian Islam tersebar di NKRI dan segenap penjuru bumi.
“Mari kita jadikan situasi umat kekinian yang sedang gundah gelisah ini sebagai momentum untuk merevitalisasi kembali gerakan tarekat dan tasawuf. Mari kita berdoa semoga di tahun politik ini, bangsa kita, Indonesia, dijaga dan diselamatkan dari perpecahan, terus menjaga perdamaian, serta merawat semangat persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” harapnya.
“Semoga pogram kerja dan rekomendasi 4 komisi, yakni komisi ulama luar negeri, tasawuf, ekonomi dan fikih yang dihasilkan konferensi internasional ini dapat dilaksanakan dengan baik,” tuturnya.
Lukman melanjutkan, tarekat sejatinya merupakan organisasi yang berfungsi menjaga otoritas dan kesahihan sanad ilmu yang diwarisi oleh para ahli sufi. Perkembangam teknologi telah mengubah cara umat mendapatkan pengetahuan. Tidak lagi melalui guru atau mursyid melainkan media sosial.
“Jika untuk pengetahuan lahir yang bersifat umum semata tentu cara itu (melalui medsos) tidak ada masalah. Tapi untuk mendapatkan pengetahuan Allah yang sejati tentang kebenaran yang mutlak maka sumber ilmunya harus terverifikasi dengan baik,” katanya.
Diketahui, Menag Lukman hari ini menutup konferensi ulama sufi internasional yang berlangsung di Pekalongan. Menag mengajak ulama sufi untuk ikut mewarnai dakwah di media sosial.
Konferensi ulama sufi internasional atau Multaqa Sufi Al-Alamy ini berlangsung sejak 8 April 2019. Multaqa diprakarsai oleh Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Konferensi ini diikuti 87 ulama sufi dari 36 negara dan dihadiri sekira 3.500 peserta dari kalangan ulama ahli tarikat Indonesia.
“Mari kita isi dunia dakwah kita dengan ngaji rasa. Mari kita banjiri dunia dakwah kita di media sosial dengan uswah hasanah, tidak sekadar mau’izhah hasanah. Mari kita menjadi bumi yang menopang semua orang, menjadi mendung yang menaungi semua insan dan air hujan yang menyuburkan alam,” tuturnya.
Menteri yang juga alumni Pesantren Darussalam Gontor ini lalu menyitir salah satu pesan Imam Junaid al-Baghdadi: “Kaum sufi itu seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa, juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada, seperti air hujan, yang mengaliri segala sesuatu.”