Sebagian Besar Petani di Trucuk Bojonegoro Tidak Ikut Asuransi
BOJONEGORO – Sebagian besar petani di Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, Jawa Timur, tidak mengikuti program Asuransi Usaha Tanam Padi (AUTP). Tanaman padi mereka saat ini kondisinya terendam banjir Kali Kening.
“Sebagian besar petani tidak mengikutkan tanaman padinya dalam program AUTP, sebab petani di desa kami sawahnya tidak terlalu luas,” kata seorang petani Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, Arianto, Minggu (10/3/2019).
Petani di desa tersebut menurutnya, luas sawah yang dimiliki rata-rata hanya sekira 0,25 hektare, seperti sawah miliknya. Sedangkan tanaman padi yang terendam air banjir luapan Kali Kening, selama empat hari, usianya rata-rata sebulan, meski ada juga yang baru mulai menebar benih. “Tanaman padi saya juga tanaman padi petani lainnya di sejumlah desa di Kecamatan Trucuk sebagian besar tidak ada yang diikutkan program AUTP,” tambahnya.
Kepala Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, Bagyo, membenarkan informasi dari Arianto. Sebelum banjir melanda, sudah ada wacana tanaman padi petani di daerah tersebut akan diikutkan program AUTP. “Tapi ditunggu-tunggu tidak ada petugas penyuluh pertanian yang membantu petani mengikutkan tanaman padinya dalam program AUTP,” tandasnya.
Tanaman padi di desa Padang yang terendam air banjir luapan Kali Kening, sekira enam hektare. Rata-rata tanamannya baru mulai tanam, sebagian lainnya baru menebar benih. “Saat banjir luapan Kali Kening datang, ada sebagian petani yang memanen paksa tanaman padinya,” tandasnya.
Petani di Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, Tamran, menambahkan, para petani di desanya pernah ikut program AUTP. Tapi, tanaman padi petani yang terendam banjir luapan Bengawan Solo dan mengalami kerusakan, tidak memperoleh klaim asuransi. “Klaim asuransi bisa diberikan kalau tingkat kerusakan tanaman padi lebih dari 75 persen, ya, kemudian petani enggan ikut program AUTP,” tandasnya.
Akibat meluapnya Kali Kening, ratusan hektare tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Parengan, Tuban, juga tanaman padi di Desa Guyangan, Sumberjokentong, Mori, Trucuk, juga desa lainnya di Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, terendam air.
Data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menyebut, banjir luapan Bengawan Solo melanda 48 desa di 10 kecamatan. Air merendam tanaman padi seluas 1.594 hektare, dan palawija 127 hektare, selain prasarana dan sarana umum, dengan perkiraan kerugian mencapai Rp1 miliar, per 7 Maret. “Kerugian terbesar akibat rusaknya tanaman padi,” kata Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Bojonegoro, Yudi Hendro. (Ant)