Kesenian Hadroh Jadi Pilihan Hiburan Warga Ketapang-Lamsel
LAMPUNG – Kesenian bernuansa Islami, yakni hadroh, saat ini semakin sering dimainkan di sebuah hajatan atau acara istimewa di Lampung Selatan. Selain sebagai hiburan, hadroh juga memberikan nilai-nilai agama dan doa.
Mahmudi (35) ketua grup kesenian Hadroh asal Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, menyebut hadroh masih diminati masyarakat. Sebab, kesenian Islami yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi alternatif untuk ditampilkan pada acara istimewa.
Sesuai tradisi lisan, katanya, kesenian hadroh bermula saat Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Kebahagiaan umat yang menyambutnya diiringi dengan nyanyian orang-orang Anshor dengan nyanyian atau syair yang dikenal dengan sholawat thola’al badru’alaina, dengan iringan tabuhan terbang.

Menurutnya, hadroh secara umum diartikan sebagai irama yang dihasilkan oleh bunyi rebana. Selain itu, hadroh merupakan metode untuk membuka jalan masuk ke hati.
Syair-syair bernuansa Islami ketika hadroh dimainkan, mengandung ungkapan pujian serta keteladanan sifat Allah serta Rasul-Nya. Penghayatan atas seruan sifat Allah ditunjukkan dengan kesenian yang membuka kesadaran, untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada yang maha kuasa.
Nuansa Islami dari kesenian hadroh, ungkapn Mahmudi, membuat masyarakat yang memiliki acara istimewa memilih kesenian tersebut dibanding kesenian lain.
“Saat ini, beragam pilihan kesenian yang bisa ditampilkan saat hajatan di antaranya wayang kulit, jaipongan, kuda lumping hingga organ tunggal, namun warga Desa Padan yang terkenal Islami memilih mengundang hadroh dari grup kesenian hadroh Nurul Musthofa,” terang Mahmudi, di sela memainkan kesenian Hadroh, Minggu (31/3/2019).
Saat ditanggap untuk mengisi acara khitanan salah satu keluarga di Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Mahmudi menyertakan sekitar 15 orang pemain. Para pemain hadroh tersebut memainkan sejumlah alat musik pukul, seperti rebana atau terbang, keplak, calty atau kendang tumbuk, bas serta darbuka.
Kesenian tersebut dimainkan dengan lagu-lagu bernuansa Islami dengan lagu Salawat, lagu-lagu kontemporer yang bernuansa Islami yang banyak berkembang saat ini.
Mahmudi bahkan menyebut, hadroh yang dimainkan kerap mengiringi lagu-lagu kekinian yang dibawakan oleh Nissa Sbyan, penyanyi lagu rohani Islami. Lagu-lagu yang kerap dinyanyikan, di antaranya Deen Assalam, Ya Habibal Qolbi, Ya Maulana,El qum, Ya Jamalu, Law Kana Bainanal Habib, serta lainnya.
Permintaan dari para penonton yang ikut bernyanyi, bahkan bisa diiringi oleh grup hadroh Nurul Musthofa yang dipimpinnya.
“Secara pakem, musik yang dimainkan menggunakan alat pukul dan mulai dikombinasikan dengan elektone, sehingga bisa mengiringi lagu-lagu kekinian,” tegas Mahmudi.
Salah satu tujuan utama kesenian hadroh, katanya, untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, melalui lagu bernuansa Islami. Syair yang dilantunkan menjadi pengingat, bahwa manusia menjadi makhluk yang tergantung pada Sang Pencipta.
Antusiasme masyarakat akan kesenian hadroh, terlihat dengan diundangnya grup hadroh Nurul Musthofa ke kecamatan lain, di antaranya Bakauheni, Penengahan, Kalianda, dan Palas.
Meski grup tersebut berasal dari Kecamatan Ketapang, permintaan manggung banyak diminta dari wilayah lain.
Mahmudi juga menegaskan, selain oleh masyarakat luas, regenerasi kesenian hadroh dilakukan dengan munculnya grup baru. Grup atau perkumpulan yang dikenal dengan jemaah hadroh, mulai tumbuh berkembang.
Mahmudi mencatat, sejak berdiri pada 2010 hingga 2019, sudah ada 10 jemaah hadroh yang terbentuk. Jamaah tersebut di antaranya grup Shoutu Dhomir, Al Falah, Barikli, Mohabatain, A Salikin serta grup Nurul Musthofa yang dipimpinnya.

Sementara itu, menurut Ustad Humaedi, tokoh agama di Desa Padan, ditampilkannya kesenian hadroh merupakan bentuk ungkapan syukur saat mengadakan acara istimewa.
Penyelenggaraan hari istimewa khitanan yang bagi lelaki muslim merupakan kewajiban, diisi dengan kesenian hadroh. Bagi tamu undangan, kesenian hadroh akan menjadi sebuah hiburan sekaligus pengingat untuk bersyukur. Bagi saiful hajat atau tuan rumah, lantunan syair menjadi doa agar keluarga,anak yang dikhitan selalu dilimpahi berkah.
“Menghadirkan kesenian hadroh sekaligus ungkapan syukur mengadakan pesta tanpa meninggalkan unsur Islami, yang dipegang masyarakat desa kami,” beber ustad Humaedi.
Ustad Humaedi mengaku, masyarakat Padan masih memegang teguh nilai Islami. Pada acara pernikahan, khitanan atau acara-acara lain, kesenian bernuansa Islami tidak pernah ditinggalkan.
Terlebih, satu bulan lagi umat Islam akan menjalani bulan suci Ramadan. Kesenian hadroh yang diisi dengan Salawat serta nyanyian jelang Ramadan menjadi pengingat umat untuk mempersiapkan bulan penuh berkah tersebut.
Ia menyebut, kesenian itu juga sekaligus mengajarkan anak-anak muda di desa tersebut mempertahankan nilai-nilai Islami di tengah perkembangan musik modern.
Ustad Humaedi yang juga salah satu keluarga saiful hajat mengaku, pilihan kesenian hadroh sudah menjadi kesepakatan keluarga. Mendatangkan grup kesenian hadroh Nurul Musthofa juga sekaligus semakin memperkenalkan adanya kesenian bernuansa Islami yang bisa ditanggap saat hari istimewa.
Kehadiran kesenian hadroh, juga menjadi hiburan rohani bagi tamu undangan serta tuan rumah.