Gaji Rp85 Ribu Sebulan, Guru SMPN 3 Waigete Pasrah
Editor: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Menjadi guru apalagi di daerah terpencil tanpa ada sinyal telepon seluler dan sulit diakses transportasi akibat kondisi jalan yang rusak sana-sini tentu menyulitkan. Namun kondisi ini bukanlah halangan bagi 8 orang guru honor komite dan seorang operator di SMPN 3 Waigete.
“Kami tetap merasa senang mengajar di sekolah ini meski dengan gaji yang bisa dikatakan sangat tidak layak. Bukannya kami tidak menginginkan gaji yang besar tetapi pendidikan anak-anak harus diutamakan,” sebut Maria Yuliwati, guru SMPN 3 Waigete, desa Watudiran, kecamatan Waigete, kabupaten Sikka, Minggu (24/3/2019).
Maria mengakui, awal mengajar tahun 2017, dirinya bersama guru honor lainnya digaji Rp85 ribu, namun tahun 2019 sudah ada peningkatan menjadi Rp125 ribu sebulan. Uangnya pun berasal dari iuran yang dibayarkan orang tua murid sekolah.

“Dengan gaji sebesar itu tentu sangat tidak mencukupi kebutuhan kami setiap hari. Untuk beli bedak saja tidak cukup apalagi untuk makan,” sebutnya seraya tertawa terbahak-bahak.
Maria mengaku, dirinya bersama guru lainnya tetap semangat dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pendidikan anak-anak di desanya jauh lebih penting sehingga membuat mereka tetap semangat mengajar, meski di dalam hati merasa kecewa saat menerima gaji.
“Terkadang memang kami merasa kecewa karena pengabdian kami tidak dihargai dengan bayaran yang sesuai. Namun semua itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk setia menjalani profesi sebagai guru,” ungkapnya.
Hendrikus Seda, kepala sekolah SMPN 3 Waigete mengaku, sejak ditugaskan camat untuk menjadi kepala sekolah, dirinya pun menerima jabatan itu. Dalam menjalankan tugas, dirinya tidak digaji dan mendapatkan gaji dari jabatan kepala sekolah SDK Kloangaur desa Watudiran.
“Walaupun tidak berpikir berapa yang diberi, namun berapa yang bisa saya berikan. Ini yang membuat saya menerima jabatan yang diberikan, meskipun saya harus membagi waktu dengan sekolah induk saya di SDK Kloangaur,” sebutnya.
Tahun pertama, 2017, terang Hendrik, para guru diberi insentif Rp85 ribu sebab kalau dikatakan gaji tentu tidak layak. Dirinya pun menyampaikan kepada para guru, kalau berpikir tentang gaji maka bapak ibu tidak akan mengajar di tempat ini.
“Kalau berpikir tentang gaji tentu mereka tidak akan mau mengabdi di sekolah ini. Tapi karena profesi kita guru dan sayang kalau ilmu yang didapat tidak dipergunakan, maka kita harus mengajar dan jangan melihat gaji dulu,” imbuhnya.
Setiap pagi, terang Hendrik, dirinya selalu hadir di SMPN 3 Waigete selama satu-dua jam. Lalu ke SDK Kloangaur. Tapi kalau ada kepentingan di SDK Kloangaur maka dirinya dahulukan di sana, lalu kembali ke SMPN 3 Waigete.
“Para guru di SMPN 3 Waigete ini dari profesi mereka sama dengan guru lainnya yang berstatus PNS. Tapi dari penghasilan nilainya sangat jauh berbeda ibarat langit dan bumi,” ujarnya.
Untuk gaji guru, tegas kepala sekolah SDK Kloangaur ini, semuanya dia sampaikan di hadapan para guru dan semua orang tua murid. Semuanya disampaikan secara transparan. Pihaknya menginginkan ada kenaikan tapi harus ada pembicaraan dengan orang tua dan komite sekolah.
“Kita membaca bahwa desa juga memiliki uang, tapi hanya untuk membayai PAUD dan TK saja. Ini yang menyebabkan pemerintah desa tidak berani menganggarkan biaya untuk membayar honor guru,” jelasnya.
Ketua komite sekolah SMPN 3 Waigete, Barnabas Kornelis mengakui, setiap siswa dipungut biaya sebesar Rp400 ribu setahun untuk membayar honor kepada para guru di sekolah ini.
“Memang kami telah berpikir untuk menaikkan biaya uang iuran tersebut, namun hal ini perlu dibicarakan kembali dengan pihak orang tua murid. Rata-rata orang tua murid hanya berprofesi sebagai petani,” ungkapnya.
Kor, sapaannya, berharap agar Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka bisa segera membantu biaya gaji para guru. Dirinya pun salut dan berterima kasih kepada para guru yang setia mengabdi di sekolah ini.
“Sebagai orang tua murid kami sangat berterima kasih kepada para guru yang tetap setia mengajar di sekolah ini. Bahkan ada yang ditawari mengajar di tempat lain dengan gaji besar tetapi mereka tidak menerimanya,” pungkasnya.