Warga Berharap Jebolnya Tanggul Way Pisang Segera Diperbaiki
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Banjir bandang akibat jebolnya tanggul penangkis sungai Way Pisang di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, sebagian mulai surut, meski masih menyisakan genangan air di area persawahan dan kolam ikan air tawar.
Hasan, pemilik kolam ikan di Desa Sukaraja, menyebut, akibat banjir itu ribuan ekor ikan nila dan patin miliknya hanyut terbawa arus. Kondisi tersebut tidak akan terjadi, jika tanggul Way Pisang tidak jebol.
Jebolnya tanggul Way Pisang, kata Hasan, sudah terjadi dua kali dalam kurun waktu tiga bulan. Sebelumnya terjadi pada Desember 2018, berimbas ratusan hektare lahan sawah dan kolam ikan terendam banjir.

Kejadian tersebut berlangsung saat petani memasuki waktu panen padi pada masa tanam pertama (MT1). Perbaikan tanggul sudah dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS), di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
“Tanggul yang jebol berada pada lokasi tanggul yang sudah diperbaiki sebelumnya, namun dengan panjang tanggul jebol lebih pendek dari saat banjir pada tiga bulan lalu, namun dampaknya sangat merugikan bagi petani,“ terang Hasan, saat ditemui Cendana News, Minggu (17/2/2019).
Menurut Hasan, upaya perbaikan tanggul jebol telah dilakukan. Namun, derasnya debit air sungai Way Pisang membuat tanggul kembali jebol.
Ia menyebut, perbaikan yang tidak disertai pembuatan bronjong dari kawat serta batu, membuat tanggul kembali longsor. Lokasi tanggul yang jebol berdekatan dengan jembatan penghubung Desa Sukaraja dan Desa Pematang Baru di Kecamatan Sragi, membuat akses jalan mengalami kerusakan.
Harapan agar perbaikan tanggul jebol juga diungkapkan oleh Suwigno, salah satu petani penanam mentimun. Ia menyebut, pada jebolnya tanggul pertama kali ia masih sempat memanen tanaman padi miliknya, sehingga tidak mengalami kerugian cukup besar.
Namun, saat banjir pada pertengahan Februari ini, ratusan gulud dan mulsa tanaman mentimun miliknya, membusuk. Kerugian dipastikan mencapai puluhan juta rupiah.
“Luapan banjir merendam tanaman mentimun disertai material sampah dan lumpur, bahkan aspal jalan yang mengelupas,” beber Suwigno.
Suwigno menyebut, petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS), sudah melakukan pengecekan lokasi tanggul jebol. Perbaikan akan segera dilakukan secepatnya, agar banjir susulan tidak merusak lahan pertanian dan kolam budi daya ikan di wilayah tersebut.
Suwigno yang memiliki lahan sawah terdekat dengan lokasi tanggul sungai Way Pisang jebol, berharap perbaikan dilakukan secepatnya. Sebab, hujan yang masih mengguyur wilayah Lampung Selatan berpotensi mengakibatkan banjir susulan.

Selain perbaikan yang diharapkan lebih cepat, ia dan sejumlah petani lain berharap ketinggian tanggul pada lokasi yang jebol ditambah. Penambahan ketinggian tersebut perlu dilakukan, karena lokasi tersebut berada di pintu air atau klep untuk saluran irigasi.
Selain itu, tidak adanya penahan berupa talud diperkuat beronjong membuat tanggul tersebut kembali jebol.
Berbeda dengan petani di wilayah Desa Sukaraja, ratusan petani lain di Desa Palas Bangunan, Harsono, berharap tanggul penangkis diperpanjang.
Sebab, katanya, selama ini tanggul penangkis dibuat hanya berada di wilayah Desa Sukaraja dan sebagian Desa Palas Bangunan. Imbasnya, saat musim penghujan volume air sungai Way Pisang meluap dan naik ke area persawahan.
Naiknya air sungai Way Pisang membuat ratusan hektare sawah terendam air, di antaranya padi sawah berusia satu bulan.
“Tanggul penangkis yang belum tersambung pada bagian bawah membuat air meluap, lalu naik ke area persawahan dan akan surut jika hujan reda,” beber Harsono.
Harsono menyebut tidak tertampungnya air sungai Way Pisang terjadi, karena berkumpulnya aliran air sejumlah anak sungai di wilayah tersebut.
Pendangkalan sejumlah titik di sungai Way Pisang disebutnya ikut menyumbang potensi luapan sungai, selain tanggul penangkis yang belum maksimal.
Menurutnya, butuh waktu hingga lima hari ke depan air di lahan sawahnya surut, meski di sejumlah area sawah lain sudah surut. Ia bahkan harus menyelamatkan benih padi siap tanam yang hanyut, agar tidak terbawa luapan air.