TEPAT waktu Tahajud, Abah bangun dengan terkejut. Napasnya tidak beraturan seperti lelah setelah berlarian. Ia duduk di ranjang, sementara aku masih telentang. Abah bergumam, astaghfirullah, mimpi macam apalagi ini.
Aku ikut duduk. Mengelus pundaknya. “Abah, ada apa?”
Tetapi ia tidak menjawab. Tiba-tiba air mata meleleh membasahi pipinya. Dengan sesenggukan seperti anak kecil, kepalanya ia sandarkan di pundakku. Dalam keadaan seperti ini, aku tak bisa berucap apa-apa.
Aku memandang rembulan dari balik jendela yang seprainya tidak menutup rapat. Bulan itu seperti bulan biasanya. Lalu kembali aku memandang wajah Abah ketika kepalanya sudah diangkat dari pundakku, sungguh kusut sekali.
Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, kata-katanya seolah tersendat di tenggorokannya. Jadi, yang keluar sebagai suara hanya sesenggukan.
“Abah, ada apa?”
Tetap tak ada jawaban.
***
AKU bermimpi ada cahaya jatuh di depan rumahku. Tak ada tanda-tanda apa pun mengenai kedatangannya. Malam tampak biasa dengan bulan menggantung di langit yang biasa. Angin berembus sewajarnya.
Detik jam juga berputar sebagaimana hari-hari sebelum malam ini. Aku sedang berzikir setelah salat tahajud.
Aku terkejut ketika melihat cahaya dari celah-celah genting mika rumahku. Aku bergegas menuju beranda rumah. Semula cahaya itu masih berbentuk cahaya. Namun ketika kakiku mendekat, cahaya itu pecah menjadi seorang lelaki tua yang tak berdaya.
Ia tak sadarkan diri. Barangkali ia terjatuh terlalu jauh. Dari langit sampai ke bumi. Apakah ia makhluk Tuhan yang sengaja diutus untuk datang ke sini?
Sebelum aku benar-benar dekat dan tanganku benar-benar menyentuhnya, lelaki tua itu menggerakkan tubuhnya. Terdengar erangan kesakitan dari mulutnya.
“Apa betul kamu orang yang bernama Mabruk?” tanyanya tiba-tiba sambil berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor karena debu, bajunya yang memang kumuh seperti berbulan-bulan tidak dicuci.
“Iya, benar.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. Ragu-ragu.
“Oh.” Ia juga mengangguk-anggukkan kepala. Tapi dengan tidak ragu-ragu.
“Tetapi istriku memanggilku Abah,” tambahku.
“Ah, itu tidak penting.” Ia menggelengkan kepala, seolah-olah dengan yakin dalam hatinya berkata: apalah arti sebuah nama?
Kemudian dengan isyarat tangan, ia mengajakku duduk di sebuah batu di depan rumahku. Batu hitam besar sebesar bangku. Ada jeda yang agak lama dalam pembicaraan ini. Kira-kira lima menit.
Ia memandangi bunga-bunga yang diterpa cahaya lampu neon. Kadang-kadang sorot matanya mengikuti terbangnya kunang-kunang.
Lalu lehernya melengos ke arahku. Sebelum ia bicara, aku sudah mendahuluinya dengan perkataan yang aku kira sudah sangat sopan.
“Sebenarnya, Bapak siapa?”
“Panggil saja aku Pak Tua.” Katanya mantap sambil mengelus jenggotnya yang putih.
“Ada keperluan apa Bapak ke sini, eh, ada keperluan apa Pak Tua ke sini?”
“Jangan terlalu terburu-buru bertanya seperti itu.”
Mendengar ucapan itu, aku tak bisa lagi berkata-kata. Kupandangi ia. Ada sunggingan senyum di wajahnya. Seolah-olah senyuman adalah termasuk jawaban yang memuaskan.
Ia bangkit dari duduknya sambil mengajakku bangkit juga.
“Ayo ikut aku!”
Aku melongo.
“Ayo!”
Aku kaget.
Akhirnya, aku berjalan membuntuti Pak Tua seperti anak kecil yang tak tahu jalan apa-apa.
**
SETELAH kejadian mimpi di malam itu, Abah lebih sering bermuram durja di depan beranda. Ia seperti lupa bagaimana cara tertawa atau sekadar tersenyum saja. Wajahnya kian hari kian memucat.
Aku yakin, di dalam dirinya ada masalah yang sangat besar. Tetapi aku tidak tahu itu apa. Sebab, setiap kali aku bertanya ada apa, ia selalu menjawab tidak ada apa-apa.
Pagi ini, seperti biasa, aku mengantarkan kopi padanya. Duduk sebentar sembari melihat ia menyulut rokoknya. Tidak seperti biasanya ia mengatakan terima kasih padaku. Ia hanya diam. Matanya memandang jauh.
Jauh ke arah langit yang keruh. Mendung pagi. Sebentar lagi mungkin hujan, dan seperti biasanya, kami kedinginan lagi.
“Abah. Tolong, kalau punya masalah, ceritakan padaku,” kataku lirih.
Abah melengos, tatapannya tajam menusuk mataku. Aku tersentak. Lalu, ia bangkit dan memelukku serta berkata, “Umi pernah baca cerita A.A. Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami?”
Aku hanya menggelengkan kepala, tak mengerti.
***
“MABRUK, ketahuilah. Ketika itu aku turun ke bumi menjelma seorang yang sudah renta dan kau biasa memanggilnya Pak Tua, aku tidak diutus oleh siapa-siapa, bahkan Tuhan sekalipun. Aku memang ingin turun dan menemuimu tepat setelah kau salat Tahajud dan kau sedang melamun.
Sudah lama sebenarnya aku ingin menemuimu. Aku ingin mengajakmu ke belantara dunia yang tak kau kenali. Dunia yang juga sama sekali tak tersentuh oleh pandangan manusia yang hanya memikirkan agama.
Maka, lihatlah, kau akan kaget ketika bertemu dengan anak-anak wajahnya pucat pasi dan di perutnya jarang terisi, ibu-ibu yang kehilangan harapannya karena dipaksa bekerja di dapur tanpa nafkah yang memadai, bapak-bapak yang kehilangan pekerjaannya sebagai petani.
Sawah mereka dirampas oleh orang-orang dari kota untuk kepentingan bandara. Meski negara ini telah merdeka, mereka bahkan tak bisa menikmati kemerdekaannya,” ujar suara aneh. ***
Daruz Armedian, mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mendapatkan penghargaan cerpen terbaik tingkat remaja di DIY dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016. Tulisannya pernah tersiar di Media Indonesia, Nova, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, Solo Pos, dan lainnya.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.