“Saat ini, satu-satunya hukum yang kupercayai hanyalah hukum gravitasi!” Lelaki muda itu merasa berteriak sekeras toa, tetapi yang di bawah masih tidak mendengarnya dengan jelas.
“Dia bilang apa di atas sana?”
“Tidak tahu. Sasususasusi…”
“Coba kecilkan radio dangdutmu, Wi. Mungkin dia butuh bantuan. Aku akan mendekat biar terdengar jelas.”
Wika mengecilkan radio dangdut sore di pos satpam dan temannya, lelaki gendut yang napasnya pendek-pendek itu, berjalan penuh perhatian ke menara pengawas kereta yang sudah ditinggalkan penggunaannya sejak revolusi diakhiri dengan diskusi, seminar, dan rapat pembangunan nasional.
“Kamu bilang apa tadi?”
Lelaki muda itu tidak mendengar apa yang dikatakan satpam gendut di bawah sana, yang dari atas terlihat ubun kepala dan tangannya bergerak-gerak seperi sirip ikan kembung berbaju putih. Namun, dia mulai berpikir mungkin satpam itu adalah orang yang mau memperhatikannya, sehingga dia mengulangi dengan teriakan yang lebih keras, dengan tangan mencorong, dan tujuannya ke sudut bawah.
“Satu-satunya hukum yang kupercayai hanyalah hukum gravitasi!”
“Apa? Kamu sedang baca puisi?”
“Hukum! Hanya hukum gravitasi yang kupercaya di dunia ini!”
“O, gravitasi? Kamu mau membuktikan hukum gravitasi?”
Wika, yang dari tadi ikut menyimak, berkata dengan alis menyatu dari sisi satpam gendut, “Bukan. Dia mau bunuh diri.”
Satpam gendut menoleh ke Wika.
“Aku yakin,” Wika bicara, “Harusnya dia tahu daripada mati bunuh diri lebih baik mati di tangan yang dicintai.”
“Jangan bercanda, cepat bertindak!” Satpam gendut bergegas ke pos dengan napas pendek-pendek.
Wika mengikuti, “Aku tidak bercanda. Itu ada di lagunya Leo Waldy.”
“Muchsin Alatas.”
“Itu penyanyinya.”
“Halo, ini benar nomor Damkar? Kami butuh bantuan ada orang mau bunuh diri di menara pengawas kereta, Stasiun Jantera!”
***
Setengah jam kemudian, menjelang pukul lima, situasinya berbeda. Pos satpam itu, yang biasa sepi di sebelah barat stasiun, terutama sejak penataan kereta api meniadakan pedagang-pedagang di dalam stasiun, mengganti pengamanan dengan polisi-polisi khusus kereta yang diambil dari kesatuan militer, dan yang membuat satpam di sisi barat lebih banyak bertugas sebagai penyobek karcis parkir, ramai.
Wika dan satpam gendut bahkan tetap di situ meski jadwal jaga malam harus berganti dengan yang lain. Mereka saling berebut mengatakan tentang siapa yang sebenarnya pertama kali memergoki pemuda viral di atas menara.
Ada kenikmatan tersendiri tiap kali kamera tersorot ke arahnya. Ada sesuatu yang gurih di dada saat bergiliran orang ramai bertanya. Dia bahkan tidak merasa lelah. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.
“Halo Tiktoker, aku sudah di lokasi yang lagi viral nih. Ketemu sama orang yang pertama lihat,” kata seorang pemuda memegang kamera telepon genggam.
Adegan yang sama terus berulang dan Wika dan satpam gendut pun tak bosan pula mengulang jawaban yang sama.
“Ayo, dong, gantian, Kak. Kami juga mau bikin konten!”
“Eh, tambah cahayanya. Ini semakin gelap.”
“Halo, Gaes, ini nih suasana di parkiran barat Stasiun Jantera, ramai sekali. Lihat orang-orang pegang hape semua. Lihat, ada deretan tripod. Mereka siaran langsung, Gaes. Dari awal sore sampai senja begini. Wah, lihat senjanya indah, ya. Nah, itu suara kereta. Kalau yang di atas itu, lihat, itu pemuda yang katanya hanya percaya pada hukum gravitasi dan tidak percaya lagi pada hukum di negara ini. Tadi gelap dan seperti bayang-bayang. Sekarang sudah disorot. Itu tangga Damkar mendekat, tapi belum berhasil membujuk sepertinya. Kita cari tahu, yuk. Pantengin terus.”
***
Selepas Magrib situasinya bertambah ramai. Namun, kuasa kameranya berganti. Televisi swasta, Saluran 9, menyewa tempat untuk siaran langsung tepat di sisi pos satpam. Tempat parkir dialihkan.
Pengunjung-pengunjung dadakan yang sedang mengais penonton dari siaran langsung di Instagram, di Youtube, dan di saluran video lain harus minggir.
Pihak televisi telah bekerjasama dengan pihak stasiun, kepolisian, dan akademisi. Tempat telah ditata dan narasumber satpam seolah tidak berkelas lagi.
“Selamat malam pemirsa, bersama kita sudah ada pakar hukum dan akademisi yang akan menjelaskan fenomena viral, yakni seorang pemuda yang mau bunuh diri dari menara pengawas kereta era kolonial, yang bisa dilihat di belakang sana, yang sebabnya tidak lagi percaya pada hukum positif. Dia hanya percaya pada hukum fisika. Hukum gravitasi. Kita juga sudah terhubung dengan pihak Damkar yang sedang membujuk pemuda itu untuk turun. Semoga nanti kita dapat terhubung langsung dengan pemuda itu pula untuk menanyakan langsung. Bagaimana menurut Anda?”
“Kalau menurut saya, kalau memang alasannya adalah hukum, kita harus lacak. Apakah dia punya masalah hukum atau punya masalah dengan hukum. Misalnya dia merasa tidak mendapatkan keadilan.”
“Atau jangan-jangan ini setingan untuk menjatuhkan kedudukan hukum di mata masyarakat,” pembicara dari aparat angkat bicara.
Perempuan pembawa acara mengambil kendali, “Atau mungkin ada pendapat dari sisi psikologi, misalnya apakah kesehatan mental dan kesepian memang fenomena, anehnya terjadi di era media sosial?”
“Begini, sebagai manusia modern, kita ‘kan menyerahkan kebebasan individu kita ke dalam tatanan sosial. Di dalam tatanan itu kita menyepakati norma, termasuk hukum di dalamnya, sebagai katakanlah cara hidup bersama. Yang menjadi masalah ‘kan ketika tatanan itu tidak adil terhadap semua individu, sehingga menciptakan kesepian hukum, menciptakan rasa terasing dari keadilan, karena bisa jadi keadilan harus dibeli dengan uang, dengan pengaruh. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh semua orang.”
“Lalu mengapa gravitasi?”
“Itu sudah sangat jelas. Di Twitter juga trending itu. Hukum gravitasi menjatuhkan siapa saja yang ada di atas bumi. Sementara hukum negara belum tentu mampu menghukum siapa saja yang bersalah.”
“Kita jeda sejenak untuk melihat bagaimana perkembangan terbaru dari proses penyelamatan di atas menara.”
Kamera berpindah. Iklan mengalir. Penonton meningkat. Namun, sampai saat ini sepertinya belum ada yang benar-benar bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan pemuda itu atau memang dianggap tidak perlu sehingga cerpen ini pun tidak menceritakannya? ***
(2022)
Eko Triono, menulis kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (2016), Republik Rakyat Lucu (2018), dan Berapa Harga Nyawa Hari Ini? (2022).
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.