Baru 52 Desa dan Kelurahan di Sikka Deklarasikan STBM

Editor: Mahadeva

MAUMERE – Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi masyarkat. Upayanya melalui pemberdayaan masyarakat, dengan metode pemicuan. Hasil yang ingin dicapai, menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lain yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Helena Kidi Labot,kepala seksi Promosi Kesehatan dinas Kesehatan kabupaten Sikka – Foto Ebed de Rosary

“Dari 147 desa dan 13 kelurahan yang ada di Kabupaten Sikka, baru 52 desa dan kelurahan yang sudah mendeklarasikan sebagai desa dan kelurahan yang sudah menjalankan program STBM,” sebut Helena Kidi Labot, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Jumat (15/2/2019).

Program STBM terdiri dari lima pilar yaitu, stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum atau makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga. STBM merupakan program nasional dari kementrian Kesehatan, yang dikhususkan untuk rumah tangga. Program tersebut, berbasis masyarakat, sehingga tidak ada subsidi sama sekali bagi rumah tangga.

Sementara, hampir sebagian besar rumah tangga yang berada di pesisir pantai di Kabupaten Sikka, tidak memiliki jamban. Meskipun memiliki, sering tidak dipergunakan, dan memilih membuang hajat di laut. “Sepanjang lingkungan di Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng, hampir semua rumah tidak memiliki MCK. makanya kami dari dinas kesehatan selalu bicara terus menerus untuk merubah perilaku masyarakat,” tuturnya.

Selain tidak memiliki MCK, hampir semua rumah tangga di Sikka tidak menyediakan tempat untuk mencuci tangan, yang dilengkapi sabun. Persoalan tersebut, belum menyentuh upaya mengelola sampah dan limbah cair rumah tangga. “Perilaku, ini yang masih sulit diubah, tetapi kita bersyukur ada lembaga swadaya masyarakat yang juga membantu lewat program desa STBM. Tentunya ini bukan menjadi tugas pemerintah saja, tetapi semua elemen masyarakat dan keluarga,” ungkapnya.

Dinas Kesehatan Sikka, telah mengumpulkan para kepala desa untuk diberikan pemahaman mengenai kesehatan. Dana desa juga bisa dialokasikan untuk menyediakan sarana STBM seperti pembuatan jamban.

Dandim 1603 Sikka, Letkol Inf. Sugeng Prihatin, Ssos, MSc, dalam kegiatan bakti sosial di Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng Maumere, menyebut, pihaknya bersedia bekerjasama dengan pemerintah desa dan kelurahan untuk pembuatan jamban. “Aparat TNI siap bila diajak bekerja sama dengan menyediakan tenaga untuk membuat jamban, serta membangun tempat sampah di desa atau kelurahan. Kami siap bila ada permintaan dari desa atau kelurahan,” sebutnya.

Dikatakan Sugeng, saat bakti sosial di perkampungan padat penduduk, pihaknya banyak menemukan air tergenang baik di depan rumah maupun di parit. Tempat sampah juga tidak tersedia, dan sampah terlihat berserakan dimana-mana. “Memang kita harus terus menerus mengajak masyarakat untuk kerja bakti membersihkan sampah dan memberikan penyadaran kepada masyarakat soal perilaku hidup sehat,” pungkasnya.

Lihat juga...