Nuraeni, Berharap Dapat Bantuan KIP
Editor: Mahadeva
BEKASI — Nuraeni (38), merasa setengah putus asa untuk membiayai anak pertamanya, Al-Kaisar melanjutkan sekolah. Anaknya tersebut saat ini, duduk di kelas tiga SMP. Sementara, karena keterbatasan ekonomi, seragam anak bungsunya, Azis (7), yang kini duduk di kelas 1 SD Negeri Jatikarya, sampai sekarang belum ditebus.

Warga kelurahan Kampung Kalimanggis, Rt/RW 001/05 No.23, Kelurahan Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat tersebut, mengaku sudah dua kali mengajukan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Hal itu untuk mendapatkan keringan seragam, ataupun membeli buku pelajaran. Namun, sampai sekarang belum terealisasi. “Sudah mengajukan KIP, setiap bagi raport anak, bahkan sudah bolak balik ke Dinas Sosial agar mendapatkan KIP. Ini saya lakukan karena tidak mampu, dulu saya janda, sudah lima tahun,” ujar Nuraeni, yang mengaku baru tiga bulan ini menikah dan bersuamikan seorang tukang sebagai ojek, Kamis (31/1/2019).
Nuraeni, memiliki tiga anak. Yang tertua kelas tiga SMP, dan dua masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Untuk Azis, yang kini duduk dikelas 1 SD, Nuraeni, baru membayar uang seragam Rp200 ribu, dan masih kurang Rp230 ribu. “Anak saya, sudah sering Tanya, Ma, kapan Aziz bisa, pakai seragam seperti teman yang lain,” ujarnya menirukan keluhan anak.
Dia berharap, pemerintah bisa membantu, dengan segera memproses KIP untuk ketiga anaknya. Hal itu dibutuhkan untuk meringankan beban. Penghasilan suami yang hanya sebagai tukang ojek tidak menentu, dan terkadang hanya cukup untuk keperluan makan sehari-hari.

Lurah Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna, Sulatifah, mengaku kaget mendapatkan laporan mengenai warganya tersebut. Dia langsung turun ke lokasi, untuk bertemu langsung dengan Ibu Nuraeni. Sulatifah langsung melihat kondisi rumah Nuraeni, agar bisa membantu mengajukan diajukan dalam program Rutilahu. Terkait KIP, merupakan program pemerintah pusat, dan tidak melibatkan pihak kelurahan.
“Saya akan sampaikan ke sekolah yang ada di Jatikarya, untuk melakukan pendataan benar-benar ketat dalam seleksi penerima KIP. Karena yang menentukan pihak sekolah, Kelurahan hanya memberikan penghantar setelah dari RT/RW,” jelas Sulatifah.
Di tingkat SD sampai SMP, di Kota Bekasi sudah gratis. Namun, ada tambahan biaya yang dibebankan kepada orang tua siswa, seperti tambahan buku kurikulum dan untuk membeli baju seragam. KIP, adalah program langsung dari pusat melalui sekolah, yang memberikan tambahan keringanan untuk biaya seragam ataupun buku kurikulum.
“Camat sudah memerintahkan agar memanggil seluruh sekolah di Jatikarya, untuk diingatkan lebih selektif dalam pendataan penerima KIP. Karena ini penting, masyarakat tahunya kelurahan, dan mereka akan mengeluh ke lurah atau camat jika tidak mendapatkan jika mereka tidak mampu,” pungkasnya.