Wabah

CERPEN EDY FIRMANSYAH

WARGA Desa Sontoloyo mendadak gempar. Mereka semburat ke luar rumah menyelamatkan diri dari serangan sebuah wabah. Wabah mengerikan yang membuat sebagian besar warga pergi meninggalkan desa menyelamatkan diri.

Wabah yang membuat desa itu kini tak lagi bisa ditinggali karena diisolasi. Dan penyebab wabah itu adalah seorang perempuan. Perempuan berlesung pipit dan berambut lurus seperti surai kuda yang tinggal di ujung desa.

Semuanya bermula ketika perempuan berlesung pipit dan berambut lurus seperti surai kuda itu bangun pagi, ia merasakan keningnya tumbuh benjolan yang ketika ia raba dalam keadaan setengah sadar saat terjaga, mirip punuk onta.

Tanpa rasa curiga berlebihan, kecuali rasa nyeri, ia bangkit menuju kamar mandi, kencing. Kemudian mengambil wudhu untuk melakukan salat Subuh. Usai salat, ia mengoleskan minyak tawon ke tempat benjolan itu berada. Berharap rasa nyerinya reda.

Kemudian mulai mengaji sambil sesekali membuka smartphone-nya tiap kali nada notifikasinya berbunyi. Tapi lama-lama ia merasakan kepalanya makin berat dan benjolan itu seakan terus membesar.

Karena penasaran, benjolan apa gerangan yang ada di keningnya, tepat di tempat suaminya biasa menciumnya ketika berangkat kerja atau sedang mesra-mesranya, ia bercermin. Dan terkejutlah dirinya ketika melihat jamur payung tengah menempel di keningnya.

Nasib sial apa yang sedang menimpaku hari ini? Begitu ia membatin. Apakah karena perkataanku pada murid-muridku waktu mengajar bahwa manusia sekarang mulai bergaya menyaingi Tuhan?

Bahwa manusia adalah makhluk darat sehingga tak pantas berjalan-jalan di udara mengendarai pesawat karena itu menyalahi kodrat? Dan akibatnya sering kena adzab kecelakaan pesawat terbang?

Ataukah karena aku mengatakan bahwa semua bencana yang terjadi di muka bumi ini karena ada wakil Tuhan yang sedang dianiaya di bumi sehingga Tuhan marah dan mendatangkan bencana? Padahal semua itu tak pernah ada dalam buku fisika?

Apakah karena aku telah berbuat serong dengan kepala sekolah? Apakah aku terkena kutukan Pinokio? Tapi bukankah Pinokio hidungnya yang bertambah panjang, bukan tumbuh benjolan seperti jamur payung?

Dengan panik, ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Tengkurap. Sambil membenamkan wajahnya ke bantal. Rasa nyeri berdenyut-denyut di keningnya. Sebentar kemudian ia bangkit dan berdiri lagi di muka cermin. Dadanya bergedup-degup. Tangannya gemetar.

Diperhatikan benjolan mirip jamur payung yang terus memanjang itu dengan teliti sambil sesekali memiring-miringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan di muka cermin. Sepintas, benjolan itu mengingatkan dia pada belalai Bona, gajah berbelalai panjang tokoh fiksi dalam majalah anak yang sering dibacanya waktu kecil dulu.

Tapi benjolan itu tidak menjuntai. Tapi tegak lurus. Di cermin ia melihat wajah dirinya yang gelisah.
Karena waktu terus berjalan dan hari kian beranjak siang, dengan muka letih sekaligus suram ia memutuskan mandi.

Usai mandi dan hendak mengenakan seragam kerjanya, ia kembali berkaca dan mulai mencari-cari gunting. Rencananya adalah memotong jamur payung itu, membuangnya ke tempat sampah, kemudian memplester luka di keningnya. Dengan begitu ia tak jadi bahan olok-olok rekan sekerjanya dan seluruh muridnya saat mengajar nanti.

Tapi karena jam dinding menunjukkan pukul 7.55 WIB, ia terpaksa melanjutkan berdandan dan melupakan begitu saja benjolan yang ada di keningnya. Daripada terlambat mengajar, bisik batinnya.

Anehnya, tak ada yang menegurnya tentang benjolan seperti jamur payung yang ada di keningnya saat mengajar hingga ia beranjak tidur dan kembali terjaga. Seolah semuanya baik-baik saja. Malah tadi siang sebelum pulang, bersama kepala sekolahnya, ia mengatur taktik untuk menggaet proyek pembangunan pagar sekolah yang fee-nya bisa untuk belanja kosmetik selama setahun.

Dan tampaknya, kau sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan perempuan muda berwajah manis berambut lurus seperti surai kuda seharian di rumahnya, hari esok, esoknya, dan seterusnya setelah sebatang jamur payung bertengger di keningnya. Jadi, yah, aku tak perlu repot-repot menceritakannya lagi.

Kau pasti ingin memukuliku karena sudah bercerita hal yang tak penting dan aneh ini? Yah, apa mau dikata. Kau tidak penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan benjolan jamur payung yang kian memanjang dan perempuan muda berambut lurus seperti surai kuda yang manis itu?

Kalau tidak, lupakan saja semuanya. Anggap saja kau sedang bernasib sial tengah membuang-buang waktu membaca cerita tak penting ini. Bukan salahku. Salahmu sendiri yang terlalu banyak ingin tahu.
***
PAGI selanjutnya —entah sudah beberapa waktu kita meninggalkan perempuan berlesung pipit itu melakukan aktivitasnya yang monoton, sehari, sebulan, setahun, karena kesibukan kita sendiri sehingga lupa mengawasi perempuan itu seharian— Perempuan berlesung pipit dan berambut lurus seperti surai kuda, tokoh kita itu, memegangi benjolan di keningnya dan menelitinya dengan cermat melalui pantulan cermin.

Benjolan mirip jamur payung itu menegang. Ia kemudian memotongnya dengan gunting. Krass! Darah mengucur dari keningnya. Dan keningnya berlubang.

Satu pemandangan yang mengerikan lainnya tergelar di hadapan perempuan muda berambut lurus seperti surai kuda dan berhidung bengkok seperti paruh burung betet itu. Ia melihat banyak sekali kecebong dan kampret keluar dari keningnya yang berlubang dan meneteskan darah.

Jutaan, ya, jutaan. Kecebong-kecebong itu menggeliat-geliat di lantai. Sementara kampret-kampret itu terbang mengitari kamar, memenuhi ruang tamu, kamar mandi, dapur, lantas menghambur ke luar rumah. Sambil berak. Sungguh mengerikan. Sekaligus menjijikkan. Kotoran kecebong memenuhi hampir seluruh tubuhnya. Bau busuk di mana-mana.

Perempuan muda itu bingung. Ia kemudian berlari ke luar rumah. Panik.

“Tolonggggg… Tolonggg…”

Kecebong-kecebong dan kampret-kampret terus keluar dari keningnya yang berlubang. Langit mendadak gelap karena munculnya berjuta-juta kampret. Tanah, rerumputan dan selokan mendadak hitam dipenuhi jutaan kecebong. Menggeliat-geliat dan melompat-lompat. Suasana jadi mengerikan.

Para tetangga yang mendengar teriakan minta tolong datang menghambur, mulanya merubung perempuan muda itu. Namun kemudian berlalu pergi dengan tergesa sambil menutup hidung mereka. Bukan untuk menolong, tapi melarikan diri. Karena jutaan hewan-hewan itu telah juga menyerbu dan menghancurkan rumah mereka. Kekacauan menyelimuti seluruh desa.

“Kabur… Kabur…”

“Bencana… Bencana…”

“Wabah… wabah…”

Suara sirine ambulan, deru helikopter, raung mesin mobil jihandak polisi memekakkan telinga. Orang-orang berlarian. Jalanan licin oleh lendir kecebong dan darah kecebong yang mati kena injak. Mobil-mobil bertabrakan. Gerobak terjungkal. Gedung sekolah meledak. Kantor kelurahan rubuh. Kampret-kampret memenuhi langit dan terus bertambah banyak. Kecebong-kecebong berlompatan memenuhi jalanan. Ribuan di antaranya berubah menjadi katak. Siang itu jadi kacau dan membara.

Tiba-tiba telepon genggam perempuan berwajah manis berambut lurus seperti surai kuda itu berdering. Dengan nafas ngos-ngosan karena masih berlari, ia mengangkatnya. Dari suaminya yang sedang tugas dinas ke Jakarta. Dari kening perempuan itu masih terus keluar jutaan kampret dan kecebong meski darah sudah tak lagi menetes-netes dari keningnya.

“Mama baik-baik saja?”

“Papa cepat pulang. Mama takut. Kampung kita sedang terserang wabah berbahaya.”

“Wabah apa?”

Dengan terbata-bata dan sedikit terisak perempuan berambut lurus seperti surai kuda itu menceritakan dengan singkat apa yang telah dialaminya sehari setelah suaminya berangkat rapat dinas ke Jakarta.
Ternyata, tanpa pernah diduga, sang suami juga menceritakan hal yang sama pada istrinya tentang apa yang sedang menimpa dirinya.

“Kampret dan kecebong itu masih ke luar dari keningku, Ma.”

“Dari keningku juga.”

“Ma, orang-orang mengikatku, Ma. Mengikatku! Tolongggg… aku tidak bersalah. Tolongggg, Mama, mereka mau menembakku dengan meriam.”

“Papa… papa…”

Hubungan telepon mendadak putus. Sebelum itu, sempat terdengar suara ledakan. Perempuan muda itu makin gelisah. Ia mondar-mandir di bawah pohon beringin di tengah taman. Memikirkan nasib suaminya. Memikirkan nasibnya sendiri.

Ia melihat pistol di tengah jalan. Memungutnya. Kemudian menempelkan moncongnya tepat di pelipisnya. Ia sangat ingin bunuh diri demi mengakhiri penderitaannya yang tak terperi. Ia menarik pelatuknya.

Klik.

Ternyata pistol kosong.

Hewan-hewan laknat itu masih terus keluar seperti magma gunung berapi yang meletus dari keningnya yang berlubang. Nyaris semua tempat di kampungnya dipenuhi kecebong dan kampret. Dedaunan di pohon-pohon diselimuti kampret. Semua hitam. Hitam.

“Dengan apa kuakhiri penderitaanku ini?” kata perempuan itu.
***
DI Jakarta yang panas, dengan lalu lalang kendaraan yang beringas, di sebuah panti pijat, seorang lelaki sedang tengkurap dengan tubuh berkilat-kilat dilumuri minyak zaitun. Wajahnya meringis tiap kali tangan lembut seorang perempuan yang memijatnya menekan otot-otot punggungnya yang kaku.

Sambil meringis, ia sesekali senyum-senyum sendiri karena dia telah mengarang cerita tentang wabah sebagaimana ia menganggap istrinya mengarang cerita tentang wabah di kampungnya melalui telepon barusan.

Kebohongan dibalas kebohongan. Seperti juga ia berbohong sedang rapat padahal sedang pijat, sebagaimana istrinya berbohong hendak rapat tapi main serong dengan kepala sekolah. Impas. Demikian bisik batinnya.

Sayangnya, nasib sial bisa terjadi pada siapa pun. Dari mulut perempuan yang memijatnya, keluar ribuan ular berbisa yang entah mengapa secara ajaib menyusup ke seluruh tubuhnya. Dan wabah mengerikan itu akan terus berlanjut dalam bentuk yang lain. Entah kapan. ***

Edy Firmansyah, penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012) dan “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011). Karyanya berupa, cerpen, puisi, artikel dan esai tersebar di banyak media cetak maupun online, baik nasional dan lokal.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...