Pariwisata Turut Tumbuhkan Usaha Kecil di Flores

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Potensi wisata yang berkembang pesat di Flores, termasuk di kabupaten Sikka, memberikan peluang besar bagi industri kreatif untuk bertumbuh dan mendapatkan keuntungan dari sektor ini.
“Saya melihat, Kota Maumere semakin berkembang dan banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Sikka. Ini peluang untuk memasarkan produk kreatif kami,” sebut Purwiji Ningrum, perajin di Maumere, Selasa (6/11/2018).
Dikatakan Nining, dirinya pun mulai berpikir untuk membuat manisan dari Pala. Sebab, banyak sekali kulit buah pala yang tidak dipergunakan. Ternyata setelah diolah dan dikemas, banyak pembeli yang menyukai manisan pala ini.
“Untuk membuatnya menarik, manisan ini saya kemas dalam bungkusan dari kertas dan juga dari anyaman. Untuk yang kemasannya kantong dari kertas dijual Rp10 ribu, sementara dari anyaman dijual Rp15 ribu,” terangnya.
Purwiji Ningrum, perajin sovenir dan manisan pala dengan label oleh-oleh Botanis. -Foto: Ebed de Rosary
Nining juga membuat gantungan kunci berbentuk gong Waning dan gendang dari kayu jati yang didatangkan dari Jawa. Harga gantungan kuncinya pun relatif murah, sebesar Rp10 ribu.
“Ternyata banyak juga yang suka dan setiap ada pameran selalu saja banyak yang membeli produk yang saya hasilkan, baik gantungan kunci maupun manisan pala. Memang produksinya masih terbatas, sebab penjualannya pun belum banyak,” ungkapnya.
Promosi produk oleh-oleh Botanis miliknya, kata Nining, hanya melalui pameran-pameran setiap ada kegiatan dari pemerintah yang melibatkan banyak orang, termasuk dari luar daerah. Pihaknya pun hanya menyediakan meja untuk menggelar dagangan.
“Kegiatan pemerintahan dalam skala besar pun mulai banyak di Maumere, sehingga bisa kami manfaatkan juga untuk menggelar dagangan sekaligus mempromosikan produk kami,” sebutnya.
Nining juga memperkenalkan sovenir berupa miniatur destinasi wisata di Flores, seperti danau Kelimutu serta miniatur tentang proses pembuatan sebuah kain tenun, dimulai dari memintal kapas hingga menenun.
“Untuk miniatur yang berukuran agak besar, saya jual satu set empat buah seharga Rp1 juta, sementara untuk satuan harganya Rp300 ribu. Banyak pembeli dari luar daerah yang tertarik dan suka membeli miniatur ini,” terangnya.
Nining berharap, pemerintah selalu mengadakan kegiatan pameran, agar para pelaku usaha kecil dan manengah bisa memasarkan produk mereka, sekaligus memperkenalkan produk.
“Kalau semakin banyak pameran, tentunya produk kami semakin dikenal. Industri kecil perlu didorong dan didampingi pemerintah agar bisa berkembang. Pemerintah bisa membantu pemasaran dan juga memberikan pelatihan terkait manajemen usaha,” pintanya.
Tadeus Pega, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka, menyebutkan, pihaknya selalu memberikan bantuan modal dan pelatihan untuk pengembangan usaha.
“Terakhir kali beberapa bulan kemarin, kami pernah mengadakan pelatihan untuk mendesain kemasan produk, agar menarik sekaligus juga memberikan bantuan mesin pengemasan produk,” tuturnya.
Memang, diakui Tadeus masih banyak pelaku Usaha Kecil dan Manengah yang belum mendapatkan bantuan, sehingga pihaknya berharap agar pelaku UKM bisa mendaftarkan usaha dan produk mereka, agar bisa mendapatkan bantuan pemerintah.
Lihat juga...