Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek -Foto: Sultan Anshori
BADUNG – Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, menegaskan Pertemuan Global Health Security Agenda (GHSA) Ministerial Meeting, sangat penting digelar. Termasuk karena di dalamnya untuk membahas masalah pencegahan dan pengendalian Zoonosis.
Menurut Moeloek, GHSA merupakan sebuah inisiatif bersama dari negara-negara yang menginginkan dunia menjadi lebih aman dari ancaman berbagai penyakit berbahaya dan menular. Dan, Indonesia juga termasuk yang paling berperan aktif dalam peningkatan keamanan kesehatan global, sebagaimana tertera dalam International Health Regulations 2005 dari WHO.
“Inisiatif pembentukan lembaga GHSA ini, awalnya datang dari Amerika Serikat pada 2014, yang sedang menghadapi masalah virus Ebola, sehingga membuat Global Health Security Agenda. Intinya kita sangat membutuhkan ketahanan kesehatan secara global, untuk mengantisipasi virus endemi yang sangat berbahaya,” ucap Moeloek, di sela acara pembukaan GHSA, Selasa (6/11/2018).
Kata Moeloek lagi, secara teknis terdapat 11 paket aksi (action packages), yang menjadi prioritas GHSA. Yakni, penanggulangan antimicrobial resistance (AMR). Pengendalian penyakit zoonotik, biosafety dan biosecurity, imunisasi, penguatan sistem laboratorium nasional, surveilans, pelaporan, penguatan SDM, penguatan pusat penanganan kegawatdaruratan, kerangka hukum dan respons cepat multisektoral, dan terakhir mobilisasi bantuan dan tenaga medis.
Dalam pertemuan kali ini, Indonesia membawa pendekatan One Health. Kesehatan tidak hanya untuk manusia, tetapi juga hewan. Saat ini sudah disadari, bahwa penyakit yang diderita hewan akan berdampak kepada manusia, baik secara langsung dan tidak langsung.
Pada kesempatan ini, diharapkan akan mendorong banyak pihak lebih berperan aktif dalam meningkatkan keamanan kesehatan global. Tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga sektor-sektor lainnya.
“Dan, One Health ini di mana pengabulan antara dari berbagai institusi, yaitu bidang kesehatan, pertanian dan lingkungan. Karena ini tidak bisa berdiri sendiri dalam mewujudkan program Zoonosis Disease Action Package (ZDAP) itu,” imbuh Moeloek.
Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga dilangsungkan beberapa agenda kerja sama lain. Salah satunya tawaran indonesia untuk menjadi Sekretariat GHSA.
Karena diketahui, sejak pertama kali dibentuk, GHSA ini belum mempunyai kantor sekretariat secara resmi. Hal ini dilakukan, mengingat Indonesia dipandang berhasil dalam melakukan tindakan preventif penanggulangan penyakit yang disebabkan oleh hewan liar.
“Kami sudah ajukan, dan saat ini dokumennya masih diperiksa. Kami juga bahas kerja sama dengan negara Italia, yang merupakan ketua GHSA sementara,” pungkas Moeloek.