Ajarkan Demokrasi di Sekolah Melalui Tokoh Pewayangan
Editor: Mahadeva WS
SOLO – Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2019, mendorong sekolah di Solo untuk ikut menggelar pesta demokrasi. Salah satu yang melakukan adalah, SMP N 12 Solo, yang menggelar Pemilihan Ketua Umum Osis (Pemilos) 2018.
Ada yang unik dalam Pemilos yang diselenggakan oleh sekolah tersebut. Selain memberikan pendidikan politik, kegiatan tersebut dimanfaatkan juga untuk memperkenalkan tokoh-tokoh pewayangan. Tokoh yang dihadirkan adalah, tokoh punokawan, Gareng, Semar, Petruk, dan Bagong.
Kepala SMP N 12 Solo, Ari Kristiati, menjelaskan, Pemilos menjadi bagian dari pemberian pembelajaran dini tentang demokrasi. Pemilos menjadi sarana mengenalkan siswa kepada partisipasi pelaksanaan pemilu. “Satu suara penting, Termasuk dalam pememilihan ketua umum OSIS. Melalui kegiatan ini kita berikan pemahaman agar setiap penyelenggaraan pemilu seharusnya disambut dengan suka cita. Termasuk penggunaan tokoh pewayangan agar semakin menarik,” papar Kristiati, Kamis (1/11/2018).
Alasan pemilihan tokoh pewayangan, karena dinilai lebih dapat mengispirasi siswa. Tokoh Punokawan harus dilestarikan, mengingat pentas-pentas hiburan rakyat yang menampilkan cerita humoris tersebut sudah mulai sulit ditemukan. “Jadi ini sekaligus untuk melestarikan budaya asli Indonesia. Tokoh punokawan sebagai sosok yang selalu kompak. Sedangkan pakaian adat yang dikenakan juga sebagai kampaye untuk cinta terhadap produk budaya kita,” urainya.
Dalam Pemilos, semua perangkat yang digunakan sama persis dengan pelaksanaan pemungutan suara di pemilu pada umumnya. Menggunakan kartu suara, bilik suara, serta saksi dan petugas Panitia Pemilihan Suara (PPS). Mekanisme pencoblosan juga sama, yakni dengan mengambil surat suara dan mencoblos pilihannya setelah berada di bilik suara. “Kegiatan ini disamping untuk edukasi demokrasi sekaligus memperiangati bulan bahasa,” imbuhnya.
Salah satu siswa SMP N 12 Solo, Ramadhan Fuad, mengaku sangat senang bisa ikut Pemilos dengan menggunakan pakaian adat Jawa, dan adanya tokoh Punokawan. Pemilos bisa semakin menarik, karena suasana yang dihadirkan juga lebih hidup. “Meski belum punya hak pilih, seharusnya pemilihan umum di Indonesia juga harus semakin menarik. Tidak terkesan kaku atau panas,” pungkasnya.