Hedung, Tarian Perang Etnis Lamaholot
Editor: Mahadeva WS
LARANTUKA – Sekelompok anak remaja usia Sekolah Dasar (SD) di kecamatan Leweolema, yang berjumlah 12 orang, terlihat berlarian. Mereka menggengam parang di tangan kanan dan perisai (Dopi) di tangan kiri.
Selain parang, ada juga yang memegang tombak dan perisai di tangannya. Ada pula yang memegang anak panah. Mereka terlihat lincah memperagakan gerakan pengintaian dan mengejar musuh sambil mengeluarkan teriakan.

“Tarian yang dibawakan anak-anak ini dinamakan tarian Hedung, tari tradisional masyarakat etnis Lamaholot, yang berdiam di Flores Timur dan Lembata,” sebut Yohanes Pati Ritan, salah seorang tetua adat dari Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Minggu (21/10/2018).
Tari Hedung, dulunya ditarikan untuk menyambut rombongan yang baru pulang dari medan perang, sebagai ungkapan kegembiraan dan penghormatan kepada kaum lelaki yang berjuang membela kepentingan kampung atau Lewo. Dalam menarikannya, kaum lelaki mengenakan Now’in atau kain tenun Lamaholot untuk kaum lelaki, memakai giring-giring yang dikat di pergelangan kaki, serta memakai ikat kepala daun Lontar (Kenobo).
“Ada juga yang mengenakan daun lontar yang sudah dikeringkan dan diikatkan di kedua lengan. Alat berperang seperti parang, tombak, anak panah dan perisai atau Dopi selalu dibawakan saat menarikannya,” tandasnya.
Selain untuk menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang, tari Hedung juga ditarikan sebelum berangkat ke medan perang, untuk memberikan semangat, kekuatan. Sehingga jiwa kesatria kaum lelaki di suku tersebut dapat bangkit memperkuat saat berada di medan perang. Saat membawakan tarian tersebut, para perempuan juga menari bersama. Mereka mengenakan kain tenun (Kwatek), yang dipakai hingga menutupi dada, serta memegang kain atau sapu tangan putih di kedua tangannya.
“Saat menarikan tarian ini, semua penari sesekali juga mengeluarkan teriakan penyemangat. Karena ini tarian sukacita, kegembiraan maka gerakan tari juga melambangkan rasa sukacita dimana penari diiringi dengan pukulan alat music gong dan gendang,” jelasnya.
Ape Maran, salah seorang warga Lewolema menyebut, dewasa ini tarian Hedung juga ditarikan untuk penyambutan tamu, menerima imam baru, pembukaan sebuah turnamen olahraga dan juga saat ritual adat festival budaya. Hampir semua masyarakat etnis Lamaholot, bisa menarikannya. Tari tersebut biasanya dibawakan oleh komunitas Lamaholot, yang juga bermukim di tanah rantau, sehingga tarian ini semakin dikenal khalayak luas.
“Saya berharap, penyelenggaraan festival budaya, serta ritual adat, terus dilakukan, agar tarian-tarian tradisional dan situs adat dan budaya tetap dipertahankan, dan bisa dilestarikan oleh generasi muda,” pungkasnya.