Pemandian Alami WTC, Obyek Wisata Alternatif di Lampung Selatan

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Dianugerahi wilayah alam nan sejuk di kaki Gunung Rajabasa, Lampung Selatan memiliki cukup banyak potensi wisata yang cukup bagus. Seperti mata air Way Tebing Ceppa, yang berada di Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Mata air Way Tebing Ceppa, dengan sumber air jernih, bersih dimanfaatkan warga sebagai sumber air minum, pengairan lahan pertanian dan budidaya ikan air tawar. Way Tebing Ceppa, sesuai penuturan warga setempat, bermakna, Way dalam bahasa Lampung berarti air, sehingga Way Tebing Ceppa diartikan sebagai air mengalir pada tebing yang tidak terlalu tinggi. Pada bagian atas Way Tebing Ceppa, ada sebuah dataran, tempat mengalirnya air, melalui sebuah sungai kecil yang membentuk sebuah kolam alami.

Johanuddin,Kepala Desa Taman Baru,Kecamatan Penengahan,Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Johanuddin, Kepala Desa Taman Baru menyebut, awalnya Way Tebing Ceppa, dimanfaatkan sebagai sumber air bersih menggunakan pipa, yang disalurkan ke bak penampungan dan ke rumah warga. Keberadaan Way Tebing Ceppa, dikenal sebagai tempat pemandian alami. Masyarakat biasa memanfaatkannya menjelang Ramadan serta tahun baru. Di sebutan kekinian,  Way Tebing Ceppa biasa disebut dengan WTC.

“Sebutan yang lebih mudah diingat, dikenal membuat Way Tebing Ceppa kerap disingkat WTC. Konsep serta ide dari masyarakat kekinian tersebut cukup bagus pada penamaan destinasi wisata, yang terus dikembangkan oleh berbagai unsur di desa Taman Baru,” terang Johanuddin, saat ditemui Cendana News, Minggu (21/10/2018).

WTC sudah lama kerap dikunjungi oleh anak-anak muda. Lokasinya di dekat hutan marga, yang dijaga keasriannya oleh warga. Lokasi yang berada di dekat jalan lintas kabupaten, mudah dicapai, dengan patokan masjid Taman Baru melalui jalan lintas kabupaten sejauh 1,5 kilometer.

Akses bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda empat, dilanjutkan kendaraan roda dua melewati kebun milik penduduk setempat.  Dengan kondisi suasana yang sejuk hawa pegunungan, sajian pemandangan areal perkebunan warga, yang didominasi tanaman kakao, kelapa, cengkih, melinjo, jengkol, durian serta tanaman lain, menambah sejuk perjalanan menuju ke destinasi WTC.

Pengelolaan destinasi wisata tersebut, memiliki misi memberi kenyamanan bagi pengunjung, sekaligus memberi manfaat bagi warga sekitar. Destinasi pemandian alami WTC semakin dikenal, karena banyak pengunjung yang mengunggahnya ke media sosial.

Johanuddin menyebut, dikala desa dan kecamatan di Lampung Selatan memiliki objek wisata alam, Desa Taman Baru memiliki potensi wisata tirta. Penataan destinasi wisata tersebut sudah dilakukan bersama dengan pemuda, pemuka desa setempat, dan pemilik lahan di sekitar area pemandian WTC. “Kunjungan ke destinasi wisata sudah cukup banyak semenjak ditata, dikelola termasuk pembuatan fasilitas parkir, tempat singgah, penyewaan ban sebagai pelampung,” tambah Johanuddin.

Sejak dikelola, kunjungan ke destinasi pemandian alami WTC bisa mencapai 80 hingga 100 motor perharinya. Jumlah tersebut bisa meningkat saat libur akhir pekan, serta libur panjang, pengunjung bisa mencapai 200 motor. Hal tersebut direspon pihak desa serta pengelola dengan penyediaan tempat parkir yang memadai.

Fasilitas di destinasi pemandian alami WTC saat ini masih terbilang masih minim. Namun direncanakan, akan terus ditambah, seperti fasilitas ruang ganti dan kamar mandi. Selain mengandalkan pemasukan dari pengunjung, sebenarnya sangat diharapkan perhatian dari pihak terkait, untuk membantu pengelolaan destinasi wisata tersebut.

Upaya pengembangan pemandian alami WTC, menjadi perhatian Wahidin, seorang warga yang berperan sebagai penggerak dan pengembangan wisata tirta di Desa Taman Baru. Penataan tersebut, sejalan dengan upaya mencari inovasi desa, untuk pemberdayaan masyarakat. Pengembangan pemandian alami WTC sebagai destinasi wisata, dipergunakan untuk pemberdayaan masyarakat.

Pemanfaatannya melibatkan 22 orang ibu rumah tangga, yang berjualan makanan dan minuman ringan di lokasi wisata. Pelibatan warga tersebut, sebagai bentuk membuka lapangan usaha baru. “Sebagai tahap awal, pedagang masih belum memiliki kekhasan barang yang dijual, bahkan masih seragam, namun selanjutnya akan diusahakan akan ada ciri khas setiap pedagang,” terang Wahidin.

Penataan lokasi yang sudah dilakukan diantaranya, penyediaan tempat duduk panggung dari bambu, yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat bersantai. Tiga buah kolam alami dibuat dengan bendungan alami berupa batu, menjadi daya tarik tersendiri, dengan kedalaman air yang cukup aman bagi anak-anak.

Selain bisa mandi di air yang jernih terutama saat musim kemarau, pengunjung bisa mengabadikan foto di sejumlah spot seperti, jembatan bambu, kincir air bambu serta wahana buatan lainnya. “Pada tahap awal sebagian uang hasil tiket masuk dipergunakan untuk pembelian peralatan untuk pembenahan, jadi untuk memperoleh keuntungan masih dipikirkan kemudian,” beber Wahidin.

Wahidin optimistis, destinasi wisata pemandian alami WTC, bisa menjadi alternatif, kala masyarakat ingin tempat wisata baru. Pemandian alami WTC Desa Taman Baru, bisa menjadi alternatif, karena biaya masuk masih murah, mudah dijangkau dan cukup nyaman.

Ken, salah satu pengunjung asal Kalianda menyebut, sangat nyaman berada di pemandian alami WTC. Mengajak dua anaknya, Dia memastikan, suasana yang alami, menjadi daya tarik untuk datang ke WTC. Wisata tirta pegunungan menjadi alternatif untuk mengajak keluarga saat akhir pekan.

Lihat juga...