Warga Kepulauan di Lamsel Butuh Dermaga Representatif
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Warga Lampung Selatan yang ada di wilayah kepulauan, masih mengandalkan transportasi laut dan kapal tradisional untuk kebutuhan transportasi. Oleh karenanya, keberadaan dermaga yang representatif menjadi salah satu kebutuhan pokok untuk mendukungnya.

Kondisi tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun, sebagai infrastruktur pendukung distribusi barang dan lalu lintas warga. Fasilitas dermaga yang ada di Dusun Gusung Berak, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, masih cukup memprihatinkan. Meski sudah dibangun dengan sistem cor beton, lantai dermaga masih terbuat dari papan kayu, dan sebagian sudah berlubang karena proses pelapukan.
Dermaga Gusung Berak menjadi penghubung dengan dermaga Muara Piluk Bakauheni, yang digunakan untuk distribusi hasil pertanian warga Pulau Rimau Balak. Sejumlah hasil pertanian berupa kelapa, pisang, petai dari Pulau Rimau Balak, Pulau Prajurit, Pulau Kandang Balak, diangkut dengan menggunakan perahu tradisional bermesin 30 daya kuda.
Perahu milik penyedia ojek perahu selalu tersedia selama 24 jam melayani kebutuhan warga untuk menyeberang. “Kebutuhan akan fasilitas dermaga yang lebih besar dan memadai, menjadi harapan kami, karena aktivitas warga antar pulau mengandalkan dermaga yang saat ini cukup sederhana. Sebagian harus ditambatkan pada pohon bakau,” terang Rudi, Rabu (19/9/2018).
Pembangunan infrastruktur dermaga sudah mendapatkan kucuran dana dari Dana Desa (DD). Meski demikian, keberadaan dermaga tambat perahu untuk transportasi masih perlu diperluas, agar representatif bagi pemilik perahu jenis kasko yang ada di wilayah tersebut. Sebaliknya, di dermaga Muara Piluk, sebagian nelayan masih menggunakan dermaga seadanya, memanfaatkan bambu, balok dan papan kayu. Dermaga permanen, digunakan untuk berlabuh kapal-kapal bagan congkel penangkap ikan teri.
Meski dermaga tambat belum representatif, akivitas pelayaran antar pulau kecil masih berjalan normal. Saat kondisi cuaca buruk, sebagian pemilik ojek perahu menunggu kondisi cuaca membaik demi faktor keselamatan. Selain fasilitas infrastruktur dermaga yang belum memadai, penambahan fasilitas dermaga dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.
Penambahan fasilitas dermaga secara swadaya dilakukan di kampung Peritaan, Kampung Sukamaju, yang berada di Pulau Rimau Balak. Meski hanya menggunakan bambu dan papan, dermaga tersebut bisa digunakan selama puluhan tahun oleh warga. Sebagai pemilik ojek perahu Rudi kerap mengantar warga dengan biaya Rp10.000. Sementara untuk kendaraan roda dua ongkos angkutnya Rp15.000.
Sedangkan untuk hasil pertanian pisang, kelapa diangkut dengan sistem borongan, Rp50.000 hingga Rp100.000 sesuai kuantitas muatan. “Terkadang jika musim liburan panjang ada penghobi memancing ingin berburu ikan di sekitar pulau Kandang menyewa perahu ratusan ribu pulang pergi,” beber Rudi.

Paiman, salah satu Warga Dusun Berak menyebut, Dia menyeberang dari pulau Rimau Balak ke Sumatera menggunakan jasa ojek perahu. Lelaki yang kerap membawa serta kendaraan roda duanya tersebut menyebut, keberadaan dermaga yang lebih representatif sangat diperlukan.
Selain warga yang akan berbelanja ke Sumatera, akhir-akhir ini banyak wisatawan yang ingin menyelam di sejumlah spot diving di pulau Rimau Balak. “Dermaga yang ada setidaknya bisa lebih bagus dan papan yang rusak bisa diganti syukur bisa dibangun lantai cor semen,” beber Paiman.
Keberadaan dermaga menjadi pelengkap fasilitas umum yang ada di pulau Rimau Balak. Selain sudah dilengkapi fasilitas dermaga, fasilitas berupa sekolah, musola dan Poskesdes juga tersedia di pulau tersebut. Akses antar dusun dari dermaga ke sejumlah dusun, masih berupa jalan setapak, sebagian sudah diberi paving blok dan sebagian berupa jalan tanah.