Presiden Soeharto Selalu Ingatkan Masyarakat Makna Kemerdekaan
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Puncak perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-73 sudah berlalu pada tanggal 17 Agustus 2018 lalu, dan masyarakat Indonesia harus tetap bersemangat dalam mengisi kemerdekaan dengan bakti kerja pada Ibu Pertiwi.
Dalam berbagai acara yang diresmikan pada zaman Orde Baru, Presiden Soeharto selalu mengingatkan pada masyarakat tentang makna kemerdekaan.
Seperti di antaranya, dalam pembukaan pameran dan Pemasaran Hasil Produksi Industri dalam Negeri di Gedung Pola Jakarta pada 20 Agustus 1974, sebagaimana dilansir dalam http://www.soeharto.co mengutip buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, bahwa Presiden Soeharto mengingatkan pada masyarakat tentang kemerdekaan politik yang harus berjalan dengan kemerdekaan ekonomi.
Presiden Soeharto menekankan bahwa kemerdekaan ekonomi untuk semangat kebangsaan, jiwa patriotisme bukan hanya di bidang politik, tetapi juga harus dikembangkan di lapangan-lapangan lain termasuk lapangan ekonomi.
“Kita dulu berjuang memberikan segala-galanya yang kita berikan untuk kemerdekaan. Maka dari itu, kita semestinya tidak hanya ingin menikmati kemerdekaan politik, hidup bebas dari kekuasaan asing dan hidup bebas melaksanakan cita-cita kita sendiri,“ ungkap Presiden Soeharto mantap.
Dalam alam kemerdekaan itu, kata Presiden Soeharto, ingin memperbaiki kesejahteraan rakyat, ingin mengejar kemajuan dan ingin menikmati keadilan yang merata.
“Untuk itu kita harus membangun bangsa dan negara kita di segala lapangan, di lapangan ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, dan pertahanan keamanan,“ paparnya.
Presiden Soeharto menyampaikan, menaruh perhatian yang besar pada pembangunan di bidang ekonomi. Ini sama sekali bukan berarti bahwa pembangunan di lapangan lain diabaikan.
“Kita memusatkan perhatian pada lapangan ekonomi karena berhasilnya pembangunan ekonomi merupakan kunci penting daripada terwujudnya kesejahteraan, kemajuan, dan keadilan sosial yang kita cita-citakan tadi,” bebernya.
Presiden Soeharto mengakui bahwa terlambat melaksanakan pembangunan ekonomi. Baru melaksanakan 24 tahun sesudah Indonesia merdeka.
“Kita baru melaksanakan dengan penuh kesungguhan dan dengan cara-cara yang secara ekonomi dapat dipertanggung jawabkan, setelah lahirnya Orde Baru. Beberapa tahun sesudahnya harus bekerja keras melepaskan diri dari kemerosotan ekonomi yang lebih buruk dan menerobos kemacetan-kemacetan produksi,“ tutur Presiden Soeharto.
“Usaha-usaha itu telah memberi hasil sehingga dalam tahun 1969 kita dapat memulai melakukan Repelita I hasil yang dicapai telah banyak,“ imbuhnya.
Presiden Soeharto menilai bahwa semua hasil yang dicapai tersebut menandakan garis pembangunan yang ditempuh selama ini telah menemukan arah yang tepat.
“Namun demikian kita tetap harus waspada, jangan sampai lengah sehingga kemajuan-kemajuan yang telah dicapai itu menjadi mandeg atau merosot kembali,“ imbau Presiden Soeharto.
Karena itu, kata Presiden Soeharto, dalam Repelita II segala hasil yang telah dicapai harus dipertahankan. Harus diperkuat dan dalam Repelita II masalah-masalah yang digarap harus meluas dan meningkat.
“Pada dasarnya kemerdekaan politik harus seiring dengan kemerdekaan ekonomi. Untuk itu semangat kebangsaan, jiwa patriot bukan hanya penting di bidang politik, tetapi juga harus dikembangkan di lapangan-lapangan lain, termasuk lapangan ekonomi,” ujarnya.
Presiden Soeharto mengharuskan adanya kecintaan terhadap pembangunan dengan kekuatan sendiri, mengharuskan adanya kecintaan memproduksi sendiri.
“Karena itu, sekali lagi, pada kesempatan ini, saya ingin mengajak masyarakat untuk lebih banyak lagi memakai barang-barang produksi dalam negeri. Dengan memakai produksi industri dalam negeri, maka berarti kita telah mendorong gerak pembangunan ini,” ucap Presiden Soeharto penuh semangat.
Pada Apel Besar Pramuka dalam rangka hari ulang tahun ke-21 Pramuka di Widya Mandala Krida Bakti Pramuka, Cibubur, Jakarta, pada 16 Maret 1982, sebagaimana dilansir dalam http://www.soeharto.co mengutip buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, Presiden Soeharto menegaskan bahwa kemerdekaan berarti tanggung jawab dan kerja keras.
Presiden Soeharto yakin, generasi muda yang diwakili para Pramuka saat ini akan mampu meneruskan pembangunan mengisi kemerdekaan yang direbut dari tangan penjajah beberapa waktu yang lalu.
“Ketika bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, pramuka generasi muda belum lahir sehingga jelas tidak mengalami sendiri. Namun, saya yakin, para pramuka tentu mengetahui betapa hebat dan beratnya perjuangan tersebut serta pengorbanan yang diberikan bangsa Indonesia saat itu,“ Presiden Soeharto mengingatkan.
Presiden Soeharto juga mengharapkan agar para remaja pemuda-pemudi memahami sejarah perjuangan bangsa.
“Bukan hanya mengerti dalam pikiran melainkan menghayati dalam hati sanubari. Dengan demikian kalian akan menjadi pejuang pembangunan bangsa dan menjadi benteng kuat pertahanan Pancasila, nasional, dan konstitusi kemerdekaan,” Presiden Soeharto menyemangati.
Kemerdekaan, kata Presiden Soeharto, merupakan mahkota bangsa yang menunjukkan kedaulatan bangsa sehingga dapat hidup bebas dan terhormat, karena itu kemerdekaan juga berarti tanggung jawab dan kerja keras untuk mewujudkan cita-cita bangsa.
“Para pramuka tentunya tidak lama lagi sudah akan terjun dalam masyarakat. Karena itu mulai sekarang harus benar-benar menyiapkan diri sehingga nanti mampu bergaul dan bekerja dalam masyarakat,” imbau Presiden Soeharto.
Dengan demikian para pramuka harus menggali ilmu pengetahuan serta menguasai keterampilan disamping harus mencintai masyarakat dan berusaha bertindak sebagai generasi muda dari bangsa yang ber-Pancasila.
Presiden Soeharto juga menekankan pentingnya pendidikan kepramukaan. Dengan kepramukaan para remaja dididik dan digembleng untuk mencintai bangsa, negara, berkepribadian, berwatak luhur, cerdas, langkas, rajin, sehat, dan ber-Pancasila.
“Negara kita akan dapat menjadi bangsa yang makmur dan adil jika negara dan bangsa dibangun oleh warga negara yang berwatak seperti disebutkan itu,” tutur Presiden Soeharto.
Presiden Soeharto juga mengungkapkan, banyak pejuang dan pahlawan besar yang semasa mudanya menjadi pramuka yang baik. Untuk itu, ia menyerukan agar para pramuka di seluruh tanah air berusaha menjadi pramuka yang baik, yang benar-benar menghayati dan menjiwai gerakan Pramuka.
“Kepada para pembina dan pimpinan pramuka, saya mengharapkan agar mengusahakan gerakan pramuka sebagai wadah pendidikan remaja untuk memantapkan kepribadian insan Indonesia dan insan pembangunan bangsa,“ tandasnya.
Dalam rangka peringatan HUT ke II integrasi Timor Timur pada tanggal 18 Juli 1978, sebagaimana dilansir dalam http://www.soeharto.co mengutip buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2008, Presiden Soeharto mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk bertanggung jawab atas kemerdekaan dan pembangunan.
Presiden Soeharto menegaskan, seluruh bangsa Indonesia yang berjumlah 135 juta termasuk mereka yang tinggal di Timor Timur mempunyai kewajiban dan tanggung jawab bersama untuk mempertahankan kemerdekaan Timor Timur dari penjajahan, setelah berintegrasi dengan Republik Indonesia sejak dua tahun yang lalu.
“Seluruh bangsa Indonesia, tanpa kecuali juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab bersama untuk membangun Timor Timur, ” kata Presiden Soeharto di depan 10.000 penduduk Kecamatan Maliana, Kabupaten Bobonaro, Timor Timur.
Dalam amanat tanpa naskah, dalam rangka peringatan HUT ke II integrasi Timor Timur itu, Presiden menandaskan bahwa tidak ada kekuatan mana pun yang akan menghalangi atau membatalkan tekad rakyat Timor Timur untuk bergabung dengan saudara kandungnya Indonesia.
“Tanggung jawab sebagai bangsa yang merdeka adalah lebih berat daripada bangsa yang terjajah, sebab segala sesuatunya harus ditanggung sendiri oleh bangsa yang bersangkutan,“ Presiden Soeharto mengingatkan.
Tujuan kemerdekaan adalah untuk memberikan kehidupan yang lebih baik dalam bidang materiil maupun spiritual. Untuk itu, kata Presiden Soeharto, lebih lanjut, diperlukan pembangunan dan pembangunan berarti kerja berat.
“Sanggupkah saudara-saudara bekerja berat?” tanya Presiden Soeharto yang kemudian mendapat jawaban gemuruh dari 10.000 rakyat yang memenuhi sebuah tanah lapang dengan ungkapan, “Sangguuuuup…”
Sambutan Presiden Soeharto yang dibawakan dalam bahasa Indonesia itu diterjemahkan ke dalam bahasa daerah Tetum oleh Bupati Bobonaro Joao da Silva Tepares dan Gubernur Timtim Arnaldo dos Reis Araujo, secara bergantian.
Sebagai presiden, Pak Harto memang harus selalu mengingatkan masyarakat akan makna kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan mati-matian dan penuh penghabisan. Sehingga masyarakat tetap bersemangat dalam mengisi kemerdekaan dengan bakti kerja pada Ibu Pertiwi.