Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Muhaimin. –Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, mendukung seluruh sekolah menjadi Sekolah Ramah Anak (SRA), sesuai dengan ditetapkannya piloting sekolah ramah anak kepada 50 sekolah di Balikpapan. Namun, untuk menjadikan sekolah ramah anak, harus dilakukan secara bertahap, mengingat kondisi sekolah yang ada.
Penetapan piloting sekolah ramah anak ditetapkan melalui surat Keputusan Wali Kota pada 2018, untuk memenuhi hak-hak anak. Tujuan SRA itu untuk pemenuhan hak-hak anak dalam upaya mewujudkan Kota Layak Anak (KLA), melalui sekolah ramah anak, yang merupakan bagian integrasi komitmen dan pengembangan sumber daya pemerintah secara terencana, untuk menjamin terpenuhinya hak anak.
“Salah satu implementasi Perpres 2017 tentang Pendidikan Karakter, salah satunya adalah menjadikan sekolah itu ramah anak. Kedua, bagaimana supaya sekolah ramah anak tentu sarana prasana di sekolah harus dilakukan,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Muhaimin, Kamis (23/8/2018).
Menurutnya, menjadikan sekolah ramah anak itu tidak dapat dilakukan secara keseluruhan langsung, karena harus dilihat kondisi sekolah, sehingga perlu dilihat kriteria sekolah.
“Makanya tidak bisa dilakukan serta merta pada semua sekolah, tapi kita lihat kondisi sekolah. Misal, sekolah harus asri, lingkungan sehat, nah itu kriteria itu yang harus dilihat. Yang sekarang sudah menjadi sekolah ramah anak adalah SD Bhayangkari dan KPS,” terangnya.
Muhamin menjelaskan, dalam menjadikan sekolah ramah anak tersebut, leading sektornya adalah pada Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana.
“Karena program dari mereka, tapi edukasi guru kemudian kegiatan belajar ada di kami (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan). Jadi, kami men-support. Berarti ke depan, yang disiapkan kita akan support,” imbuhnya.
Dia menegaskan, dari 50 sekolah yang ditetapkan menjadi piloting sekolah rama anak itu, harus dilakukan bertahap, sama halnya dengan sekolah Adiwiyata.
“Anggarannya secara simultan, kalau sarana prasana ada di kita, kemudian peningkatan kualitas guru ada dinas, juga. Sekolah negeri sebenarnya siap saja, hanya saja sekolah swasta lebih mudah, karena ada partisipasi orang tua. Kalau negeri kan semua menjadi tanggungjawab pemerintah, jadi bertahap,” ujar Muhaimin.
Dia optimis, semua sekolah ke depan harus menjadi sekolah ramah anak, kendati persoalan setiap sekolah akan berbeda. Dan, yang perlu dilakukan sekolah negeri adalah pola pikir guru dan anak harus diubah secara bertahap. Kedua, menjadikan sekolah itu nyaman beraktivitas, yaitu bermain dan belajar.
“Insyaallah kita sampaikan sekolah negeri ke depan harus menjadi sekolah ramah anak. Memang persoalannya juga berbeda, sama halnya swasta. Yang harus dilakukan juga sekolah negeri, pertama mengubah mainset guru dan anak secara kontinyu. Keduam menjadikan sekolah itu nyaman beraktivitas, yaitu bermain dan belajar,” tutup Muhaimin.