Gabungan Komunitas di Karanganyar Sapu Bersih Sampah

SOLO – Sejumlah pemerhati lingkungan serta netizen di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, langsung sigap melakukan gerakan sapu bersih sampah, usai pelaksanaan karnaval HUT ke-73 Kemerdekaan RI, yang menyisakan sampah berserakan di jalan-jalan. 
Salah satu pegiat sosial media, Siti Marfuah, mengatakan, gerakan sapu bersih sampah ini dilakukan secara spontanitas, karena melihat banyaknya sampah usai pawai dilakukan di pusat Kabupaten Karanganyar.
Gerakan sapu bersih sampah ini pun dilakukan bersama netizen yang tergabung dalam komunitas media sosial ‘Info Warga Karanganyar (IWK)’.
Pemerhati Lingkungan dan Putri Lawu 2018 ikut turun langsung dalam gerakan sapu bersih sampah di Karanganyar -Foto: Harun Alrosid
“Gerakan ini murni kita lakukan, karena kita peduli dengan Karanganyar. Ini adalah tempat kita dilahirkan dan tumbuh di dalamnya. Jangan sampai lingkungan ini tidak kita jaga,” katanya, di sela kegiatan sapu bersih sampah di Jalan Lawu, Karanganyar, Rabu (22/8/2018).
Menurut dia, karnaval dengan menggunakan mobil hias dan menampilkan berbagai potensi unggulan masing-masing kecamatan, menjadi pusat perhatian bagi warga Karangayar. Kondisi itulah yang membuat sampah bekas makanan maupun minuman yang digunakan warga tidak dibuang di tempat sampah. Bahkan, persoalan sampah selalu menjadi kendala utama usai digelarnya pawai atau karnaval.
“Yang pasti, karnaval atau pawai meninggalkan berton-ton sampah. Baik sampah organik maupun unorganik. Ini kita lakukan karena kita peduli, dan mudah-mudahan warga lain juga ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan,” ucap perempuan yang akrab disapa Nyai Dasimah.
Gerakan sapu bersih sampah ini dilakukan untuk menjaga potensi wisata di Karanganyar. Sebab, jika selama ini Karanganyar dikenal memiliki keindahan alam, sangat disayangkan, jika harus tergerus dengan adanya persoalan sampah yang menumpuk.
“Kita ingin apa yang selama ini lekat di Karanganyar bisa terjaga. Terutama wisata di Karanganyar, agar lebih dikenal secara nasional maupun internasional,” tambah Sarah Pungky Astuti.
Perempuan yang menjadi ‘Putri Lawu 2018’ ini menegaskan, tugas dirinya sebagai duta wisata memiliki tanggung jawab tersendiri untuk menjaga lingkungan.
Sebab, katanya, sebagus apa pun daerah memajukan wisata, namun tidak didukung dengan penataan lingkungan yang baik, justru tidak akan maksimal.
“Sampah ini salah satu persoalan yang cukup pelik. Jika tidak ditangani baik, bisa menjadi persoalan yang besar,” tandasnya.
Sementara itu, Hari Beluk, selaku komunitas pecinta lingkungan menambahkan, perlu ada gerakan untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan. Jika tidak ada gerakan-gerakan yang mengarah kepada cita lingkungan dan menjaganya, justru yang terjadi kerusakan alam.
“Makanya kita lakukan turun jalan. Memberi contoh langsung, meskipun hanya sekedar memumut sampah, tapi ini penting dilakukan,” imbuhnya.
Menurutnya, gerakan sadar lingkungan ini akan terus ditularkan kepada berbagai komunitas dan netizen yang ada di Karanganyar. Pihaknya juga terus mengkampayekan cinta lingkungan kepada generasi muda, yakni para pelajar mulai tingkat SD, SMP dan SMA.
“Kita lakukan terus gerakan sadar lingkungan ini, agar ‘Bumi Lawu’ yang kita cintai ini terus bersahabat dengan kita. Minimal dengan tetap menjaga lingkungan, menjaga hayati di ‘Bumi Lawu’, bisa menjadi sumbernya air bagi Solo dan sekitarnya,” pungkasnya.
Lihat juga...