Rumah Kosong di Masa Kecil

CERPEN ERWIN SETIA

BELASAN tahun lalu, aku bersama kawan-kawan masa kecilku biasa bermain di sebuah rumah kosong yang terkenal angker.

Rumah dengan eksterior dan interior serba kumuh itu terletak beberapa petak di samping rumah Pak RT. Pagar besinya, serupa pintu, kayu jendela, dan hal-hal lainnya pada rumah itu sudah reyot dan bolong-bolong.

Lantaran menyeramkan, orang-orang tua menyebutnya “rumah hantu”. Para orang tua juga gemar menjadikan rumah itu bahan ancaman bagi anak-anak mereka ketika menangis atau bandel.

“Sudah jangan nangis, Nak. Kalau kamu masih menangis, nanti makhluk-makhluk seram dari rumah hantu bisa mendatangi rumah kita karena terganggu mendengar suara tangisan anak-anak.”

Begitu ultimatum mereka. Biasanya anak-anak akan lekas meredakan tangis, lalu mengintip jendela penuh was-was kalau-kalau ada makhluk seram yang keburu mendatangi rumah sebelum tangisan mereka usai.

Beda dengan anak-anak bandel. Anak-anak yang suka bermain hingga lewat petang atau menangisi anak perempuan atau mencuri buah mangga dan belimbing dari pohon di pekarangan rumah Pak RT.

Ditakut-takuti dengan makhluk seram dari rumah hantu, mereka malah semakin membandel. Malah penasaran dan menantang. Mungkin mereka mengira makhluk seram atau hantu serupa anak perempuan yang biasa mereka ledek dan tangisi.

Perkiraan mereka jelas tak benar, meskipun tak keliru-keliru amat. Dan aku adalah salah satu dari anak-anak bandel itu.

Suatu kali aku ketahuan mencuri mangga milik Pak RT. Setelah puas mengomeliku, Ibu mengancamku dengan menyebut-nyebut rumah hantu dan para penghuni gaibnya yang ia cirikan berwajah seram seperti gorila, bertanduk merah darah, suaranya serak menakutkan, dan benci anak-anak bandel.

Menyimak deskripsi itu, imajinasiku bergerak liar dan justru penasaran ingin bertemu makhluk yang Ibu sebut. Aku ingin bertanya kenapa Ibu bisa tahu secara detil. Apakah ia pernah ketemu dengannya pada suatu waktu. Tapi urung.

“Aku ingin bertemu makhluk itu, Bu,” seruku.

Muka Ibu memerah. Ia meradang dan menghardik-hardikku serta menambahkan daftar deskripsi: makhluk itu suka menggeret kaki anak-anak yang gemar mencuri, memotong-motong kaki anak itu, dan menjadikan kaki itu lauk makan malamnya.

Tambahan deskripsi dari Ibu terdengar tak meyakinkan, dan membuatku membayangkan makhluk itu adalah orang miskin papa yang karena saking laparnya nekat memakan kaki anak-anak.

Karena melihat aku tak ketakutan dan menatap langit-langit seperti anak kecil membayangkan liburan serta mainan baru, Ibu mengganti bahasan, menarik bajuku lalu menyuruhku mandi.

Saat menyeretku ke kamar mandi sebetulnya aku menanti-nanti tambahan deskripsi lagi—aku senang membayangkannya, walaupun aku sama sekali tak memercayainya. Siapa tahu—untuk menakuti-nakutiku—Ibu bakal mengatakan makhluk itu tidak suka pada anak malas mandi dan akan memandikannya dengan darah.

Tetapi Ibu tak mengatakan apa-apa. Setelah melepas pakaianku, ia memandikanku, lalu memakaikanku baju dan celana seperti biasa, seolah aku tidak pernah mencuri dan kisah soal makhluk seram tak pernah ada.

Lantaran penasaran dan memang begitulah anak-anak, aku dan kawan-kawan mengendap-endap memasuki rumah hantu pada suatu malam selepas shalat isya berjamaah. Ketika itu ada empat orang: aku, Deni-Dani (sepasang kakak-beradik kembar yang sama sekali tak kembar dalam hal kemampuan memanjat pohon—Deni memanjat seperti kera, adiknya memanjat seperti kera yang sudah mati), dan Rivan.

Aku orang pertama yang masuk, setelah mendorong pagar dan pelan-pelan menyibak pintu yang sebagian kayunya remuk dimakan rayap. Disusul Deni, Dani, dan Rivan.

Kuarahkan senter menyapu ruangan. Ruang depan rumah itu sebetulnya tak berbeda dari rumah kebanyakan. Hanya mungkin karena makhluk-makhluk seram—itu pun jika mereka sungguh ada—penghuni rumah tak pernah diajar seni berbenah rumah oleh orang tua mereka, rumah itu jadi tak terurus dan berantakan.

Di pojok atap sarang laba-laba begitu besar, sementara debu-debu dan barang rongsok memenuhi ruangan. Namun bukan itu tujuan kami.

Kami menyelusuri seisi rumah dengan harapan bercampur rasa takut (sebandel-bandelnya kami, kami juga anak-anak kecil yang bisa merasakan takut). Kami berharap dapat menemukan makhluk-makhluk seram, kendati di sisi lain kami juga takut apabila makhluk-makhluk tersebut benar-benar seseram yang orang tua kami ceritakan.

Rumah itu terdiri dari satu ruang tamu, dua buah kamar, dapur, dan kamar mandi. Kami memberanikan diri memeriksa dapur, kamar mandi, dan satu kamar di dekat kamar mandi. Sayangnya tak ada kami temui selain barang-barang rongsok, kloset yang telah rusak dipenuhi reruntuhan batu, dan bau-bau tak sedap.

Tersisa satu ruangan. Kamar kedua dekat pintu belakang. Itu ruangan paling gelap dan pintunya setengah terbuka. Aku menyuruh Dani mengintip celah pintu dengan senterku, namun ia menggeleng dan bibirnya agak bergetar (rupanya selain tak pandai memanjat, ia juga penakut).

Deni mencela adiknya pengecut, namun saat kusuruh ia juga menggeleng dengan bibir bergetar. Sejak itu aku semakin percaya bahwa Deni dan Dani memang anak kembar. Rivan mengajukan diri. Ia menyahut senterku. Dibukanya pintu lebih lebar dan ia berseru menemukan sesuatu.

Kami masuk bersama-sama dan menemukan sebuah boneka berbentuk perempuan kecil. Boneka itu dalam posisi telungkup. Saat aku membaliknya dan mendapati boneka itu tak berwajah dan penuh ulat-ulat kecil mirip belatung, Deni-Dani berteriak, sehingga spontan aku melempar boneka itu dan kami gegas keluar dari rumah itu.

Keesokan harinya aku melapor pada Ibu dan Ibu cuma menanggapi Ibu bilang juga apa dengan raut diliputi kemenangan. Aku ingin membalas. Tapi kan cuma boneka, bukan berwajah seperti gorila dan bertanduk merah seperti kata Ibu, namun urung.

Itu belasan tahun silam. Kini, saat aku pulang ke rumah setelah beberapa tahun di perantauan, aku tak menemukan lagi rumah kosong atau rumah hantu itu.

“Sejak tiga bulan lalu, rumah itu dan sejumlah rumah di sampingnya sudah diubah jadi minimarket,” ungkap Ibu. “Sebelum kosong dan dijadikan bahan untuk menakuti anak-anak, dulunya rumah itu ditinggali anak tunggal Pak RT dan istri beserta seorang anak perempuannya yang masih balita.

Tak berapa lama, anak Pak RT itu pindah dari sana karena tugas kerja. Oh iya, boneka yang dulu kamu dan teman-temanmu temui itu bukan hantu, tapi boneka milik cucu Pak RT yang mungkin tertinggal dan tak sempat terbawa ketika pemiliknya pindah.”

Ibu menceritakan itu—cerita yang belum pernah kudengar sebelumnya—dengan senyum tuanya yang bungah. Lalu ia mengenang kembali diriku ketika masih kecil yang disebutnya sangat bandel dan susah dibilangin.

“Tetapi, Nak, meski sudah berubah bentuk jadi minimarket. Fungsi bangunan yang dulunya rumah kosong itu tetap sama,” kata Ibu.

Aku penasaran. “Kenapa bisa begitu, Bu?”

“Para orang tua sekarang, kalau anak-anaknya menangis dan bandel, biasanya langsung membawa anak-anak mereka ke sana. Tentunya setelah mereka puas mengomelinya.”

Ibu menyunggingkan senyum sekali lagi. Aku mengerti apa yang ia maksudkan. Tiba-tiba saja, aku ingin kembali menjadi anak kecil yang bandel dan berharap Ibu bakal membawaku ke minimarket untuk membujukku agar tak mengulangi lagi kenakalanku. ***

Bekasi, Juli 2018

Erwin Setia lahir tahun 1998. Pembaca puisi dan prosa. Kini bermukim di Bekasi.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media manapun baik cetak atau online. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com

Lihat juga...