Lak-lak, Serabi Khas Bali yang Tetap Eksis

Editor: Satmoko

DENPASAR – Bali yang terkenal dengan dunia pariwisata ke seluruh dunia ternyata kaya akan kuliner.

Tidak hanya terkenal dengan ayam betutu, di pulau yang berjuluk seribu pura ini juga memiliki beraneka ragam kuliner lain yang sudah ada sejak turun temurun, dibuat serta dikonsumsi oleh masyarakat Bali.

Seperti kuliner lak-lak ini misalnya. Kue lak-lak ini merupakan kudapan kuliner asli Buleleng Bali yang menyerupai kue serabi Jawa. Kuliner ini paling cocok dikudap dengan kopi panas, teh, maupun sebagai makanan penutup.

Kue lak-lak ini pada awalnya merupakan makanan yang dikonsumsi oleh keluarga kerajaan Buleleng. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kue ini mulai menjadi kuliner masyarakat dan dapat ditemukan pada acara-acara tertentu seperti upacara adat serta perkawinan.

Gede Yudhi Ariawan, salah seorang penjual kue lak-lak khas Buleleng di Jalan Pemogan, Kota Denpasar.-Foto: Sultan Anshori

Lak-lak sejatinya termasuk kuliner yang sudah langka untuk dijumpai karena semakin banyaknya kuliner modern. Namun di beberapa tempat seperti di kota Denpasar segelintir orang justru masih menjual.

Seperti yang dilakukan oleh Gede Yudhi Ariawan, salah seorang penjual kue lak-lak khas Buleleng di Jalan Pemogan, Kota Denpasar ini, misalnya. Ia mengaku memilih membuka usaha kuliner tradisional dengan alasan ingin tetap melestarikan kuliner daerah. Selain itu ia ingin terus melanjutkan usaha turun temurun dari keluarganya di Buleleng.

“Ya saya pikir ini usaha yang tepat bagi saya. Selain amanah dari keluarga saya tampung, saya juga ingin tetap melestarikan kuliner tradisional ini,” ucap pria yang akrab disapa Yudhi ini, saat ditemui di tempat usahanya, Sabtu (12/5/2018).

Yudhi menambahkan, adonan lak-lak dibuat layaknya kuliner serabi pada umumnya. Bahan-bahan pembuatan lak-lak itu sendiri yaitu terbuat dari daun suji atau daun masak, dicampur tepung beras, dan tidak lupa gula.

Pembuatan kue lak-lak dengan cara yang masih tradisional. Foto: Sultan Anshori

Namun, lanjut Yudhi yang membedakan lak-lak dengan serabi adalah ukuran lak-lak yang jauh lebih kecil daripada serabi.

Selain itu, tambahan gula aren cair serta parutan kelapa bakar menjadi ciri khas lain dari kudapan ini. Cara membuat kuliner satu ini juga masih terbilang tradisional, lak-lak tetap dimasak menggunakan tungku dan arang.

“Wadah memasak adonan lak-lak pun masih terbuat dari tanah liat, cara memasak seperti ini akan berdampak pada rasa yang lebih otentik,” ujar pria asli Buleleng ini.

Penikmat kuliner ini ternyata sangat banyak. Selain menggunakan bahan-bahan alami serta rasa yang enak dengan rasa manis yang pas, kudapan ini ternyata cukup murah meriah. Menurut Yudhi, satu porsi lak-lak dengan isi lima biji serabi ia jual dengan harga lima ribu rupiah.

Bahkan dari banyaknya peminat kudapan lak-lak ini, dalam sehari ia mampu membuat sekitar 25 hingga 30 kilo adonan dengan menghasilkan lak-lak sebanyak seribu porsi.

“Satu porsi isi lima dan harga jualnya lima ribu rupiah saja,” ucap pria yang masih single ini.

Ia berharap, ke depan kuliner ini masih terus eksis di tengah semakin menjamurnya kuliner modern.

Lihat juga...