Jalan Rusak, Petani Keluarkan Biaya Ekstra untuk Distribusi
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Kerusakan akses jalan pertanian di wilayah Lampung Selatan menjadi salah satu faktor penghambat sulitnya petani mendistribusikan hasil pertanian.
Suwito (30) salah satu petani kelapa sawit dan pisang menyebut, jalan tanah merah di Desa Tetaan dan Banjarmasin Kecamatan Penengahan menyulitkannya saat panen. Kondisi tersebut diakuinya diperparah saat kondisi hujan dengan akses jalan berlumpur. Kendaraan roda empat tidak bisa masuk ke lokasi perkebunan semenjak lima tahun terakhir.
Akses jalan tanah tersebut bahkan disebut oleh Suwito hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat hanya bisa mencapai lokasi dengan menggunakan ban yang diberi rantai terutama saat musim hujan. Penggunaan jasa ojek terpaksa dilakukan meski mengeluarkan biaya ekstra untuk setiap ton kelapa sawit yang dipanen.
“Jarak antara titik pengumpulan tandan buah segar sawit dengan lokasi kebun sekitar satu kilometer, karena mobil tidak bisa masuk ke lokasi akibat kondisi jalan yang rusak,” terang Suwito, salah satu petani pemilik kebun sawit di Desa Tetaan Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Sabtu (7/4/2018).
Suwito menyebut pernah mengusulkan untuk perbaikan akses jalan tersebut untuk kelancaran distribusi pertanian. Namun akibat keterbatasan anggaran akses jalan hanya dikerjakan hingga ke titik pengumpulan hasil pertanian warga. Sejumlah petani lain di antaranya petani padi, pisang, jagung juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pengangkutan hasil pertanian.

Sekali panen ia menyebut bisa memanen sekitar empat ton tandan buah segar sawit dengan harga saat ini mencapai Rp1.200 per kilogram. Meski harga cukup bagus ia memastikan potongan untuk biaya operasional pengangkutan dipastikan cukup besar.
“Biaya angkut saja saya bisa mengeluarkan biaya satu juta belum biaya untuk pemanenan sehingga dengan harga jual saat ini belum sebanding,” tegasnya.
Harga TBS sawit sekitar Rp1.200 per kilogram diakuinya belum ideal karena dengan biaya distribusi yang sulit idealnya TBS dibeli dengan harga Rp2.000 per kilogram. Selain bagi petani kelapa sawit, kondisi akses jalan yang sulit juga diakui oleh Hendra, pemilik lahan jagung dan pisang. Jasa ojek jagung per karung dari kebun sejauh satu kilometer saat ini mencapai Rp5.000 untuk jagung gelondongan.

“Saat panen pisang saya tidak memerlukan jasa ojek namun menggunakan kendaraan motor sendiri sehingga bisa dihemat,” bebernya.
Hasil pertanian pisang yang mulai dipanen pada awal April mulai banyak dipesan oleh pengusaha makanan ringan. Sejumlah pohon pisang yang diprediksi akan dipanen pada pertengahan dan akhir April juga digunakan untuk stok Ramadan. Kondisi akses jalan yang buruk di wilayah tersebut diakuinya masih dikeluhkan oleh ratusan petani saat musim panen.
Hasil panen tanaman pisang sebanyak 500 batang bisa menghasilkan sekitar 2 ton pisang berbagai jenis. Pisang jenis kepok, raja nangka, tanduk kerap dikirim ke wilayah Serang Banten. Meski hasil panen cukup melimpah harga jual pisang disebutnya hanya berkisar Rp5 ribu hingga Rp15 ribu per tandan. Rendahnya harga juga dipengaruhi faktor akses jalan yang sulit karena pengepul harus mengeluarkan biaya ekstra untuk kebun yang jauh dengan jasa ojek.
Bersama petani lain ungkap Hendra, ia bahkan sudah melakukan proses swadaya perbaikan jalan. Swadaya perbaikan jalan dilakukan pada titik tanjakan dan turunan dengan pembuatan jalan semen.
Bersama petani lain ia berharap akses jalan perkebunan tersebut bisa ditingkatkan dari jalan tanah menjadi jalan onderlagh atau jalan lapisan tipis aspal dan pasir. Akses jalan yang baik bisa mengurangi biaya ekstra untuk proses distribusi.