Hari Puisi Nasional, Memasyarakatkan Puisi Memuisikan Masyarakat

OLEH MAKMUN HIDAYAT

Makmun Hidayat - Foto: Ist

JAKARTA – Di mana ada penyair di situ ada puisi, di mana ada puisi di situ ada penyair. Dari tangan seorang penyair tercipta puisi, dan dari sebuah puisi terlahirlah “penyair baru” yang membacakannya.

Bagi yang pernah menonton film Ada Apa dengan Cinta (AADC), tentu tidak asing dengan Dian Satrowardoyo yang memerankan sosok Cinta dan Rangga yang diperankan Nicholas Saputra. Di dalam film tersebut ada adegan pembacaan puisi oleh keduanya secara bergantian.

Pecahkan saja gelasnya biar ramai/biar mengaduh sampai gaduh//

Itu merupakan bait cuplikan dari salah satu puisi berjudul Tentang Seseorang yang diciptakan Rako Prijanto, dan menjadi adegan ikonik. Dalam film AADC, puisi itu adalah puisi Rangga yang dibaca dan dinyanyikan oleh Cinta. Baik Nicholas maupun Dian Sastro adalah “penyair baru” yang dilahirkan oleh puisi.

Melalui media film, siapa sangka puisi menjadi memasyarakat. Bait-bait puisi itu, mungkin dihapal oleh anak muda Indonesia. Bukan hanya lewat film saja, puisi juga menjadi bahasan dan kian memasyarakat jika para tokoh negeri ini juga membacakannya di hadapan publik. Sebut saja seorang Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, misalnya.

Salah satu tokoh yang tengah digadang-gadang menjadi Capres-cawapres pada Pilpres 2019 itu, saat menjabat sebagai Panglima TNI membaca puisi bernada kritik berjudul Tapi Bukan Kami Punya di Rapimnas Golkar dan di acara Workshop Peneguhan Pancasila Bagi ASN yang digelar Kementerian Agama.

Gatot pun menjadi buah bibir setelah membacakan puisi karangan pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA yang memang kental dengan kritik sosial itu. Puisi Gatot dibaca dalam kesempatan menyampaikan paparan tentang ancaman pengungsi ilegal di sejumlah negara di hadapan peserta Rapimnas Golkar, dan kondisi kehidupan beragama di Indonesia di hadapan Aparatur Sipil Negera Kemenag.

Cuplikan bait puisi Tapi Bukan Kami Punya sebagai berikut: Sungguh Jaka tak mengerti/ mengapa ia dipanggil ke sini// Dilihatnya Garuda Pancasila/ tertempel di dinding dengan gagah//Desa semakin kaya/ tapi bukan kami punya//Kota semakin kaya/ tapi bukan kami punya//

Denny JA pun senang karya puisinya dibacakan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Dan semakin senang jika semakin banyak pemimpin membaca puisi.

Jika Iwan Fals menyampaikan kritik sosialnya lewat lagu-lagu yang dia nyanyikan diinspirasikan oleh suasana kebatinan yang melingkupi di tengah masyarakatnya, sama halnya puisi juga memotret suasana kebatinan yang ada di masyarakat.

Tentu tak hanya pejabat saja yang boleh membacakan puisi dalam sebuah momentum acara, seorang politisi tak ada salahnya berpuisi. John F Kennedy pernah berkata, ‘Jika saja semakin banyak politisi membaca puisi, dan semakin banyak penyair tahu politik, dunia akan lebih baik’.

Namun, membaca puisi juga tak selalu membuat publik bersuka cita. Sebut saja bagaimana reaksi publik begitu mengetahui Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018.

Puisi Sukmawati berjudul Ibu Indonesia menuai kontroversi. Pasalnya, isi dan konten dari puisi tersebut diduga mengandung unsur SARA dan menghina agama Islam. Puisi tersebut secara vulgar membandingkan cadar dan azan dengan perkara lain.

Tak pelak, puisi Sukmawati menjadi viral, heboh, dan mendapat sorotan tajam publik. Sukmawati pun mendapat kecaman datang bertubi-tubi. Bahkan berbuntut ke pelaporan polisi.

Terlepas dari kegaduhan di dunia maya dan nyata akibat puisi yang dibaca Sukmawati tersebut, tiba-tiba puisi kembali mendadak tenar di masyarakat. Ya, puisi semakin memasyarakat.

Pertanyaannya kemudian, kapan puisi itu lahir untuk diperingati? Ada yang menyebut, tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional. Penetapan hari ini erat kaitannya dengan seorang penyair kebanggaan Tanah Air asal Medan, Sumatera Utara, Chairil Anwar.

Hari Puisi Nasional diperingati untuk menghargai peran besar sang penyair Chairil Anwar yang meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta. Pada tahun 2016, lini masa media sosial ramai oleh perbincangan seputar puisi. Tapi juga muncul tanda tanya besar, apakah 28 April memang Hari Puisi Nasional?

Penetapan 28 April sebagai Hari Puisi Nasional masih menjadi perdebatan. Belum diketahui dengan pasti soal penetapan ataupun deklarasi yang menjadikan tanggal kematian pelopor puisi modern Indonesia itu sebagai Hari Puisi Nasional. Dan, siapa yang mencetuskan tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional juga belum diketahui.

Versi lain seputar Hari Puisi yang kemudian dikenal dengan nama Hari Puisi Indonesia, jatuh pada tanggal 26 Juli. Penetapan tanggal tersebut juga masih tak lepas dari kehidupan Chairil Anwar yang dilahirkan pada 26 Juli 1922.

Bermula dari adanya pertemuan sekitar 40 penyair dari seluruh Indonesia di di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau pada 22 November 2012. Pertemuan itu menghasilkan deklarasi dan menetapkan tanggal kelahiran Chairil Anwar sebagai Hari Puisi Indonesia.

Gagasan berupa pendeklarasian dan penetapan Hari Puisi Indonesia datang dari Rida K. Liamsi yang antara lain didukung Agus R Sarjono, Asrizal Nur, Maman S Mahayana, Jamal D. Rahman, dan lainnya. Turut hadir dalam acara tersebut penyair Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta) selaku presiden penyair Indonesia, D. Kemalawati (Aceh).

Selain itu, ada nama-nama penyair lain seperti Hasan Al Banna (Sumatera Utara), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Rida K. Liamsi (Riau), Hasan Aspahani (Kepulauan Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi) dan Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Gola Gong (Banten), Agus R Sarjono (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Pranita Dewi (Bali), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), dan John Waromi (Papua).

Deklarasi dan penetapan Hari Puisi Indonesia, disemangati oleh ketiadaannya Hari Puisi. Indonesia perlu punya satu hari untuk merayakan dan mengingat puisi, seperti Unesco menetapkan tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Puisi Dunia pada tahun 1999 di Paris, Perancis. Sehingga kemudian mendorong Rida K. Liamsi mengundang para penyair se-Indonesia untuk mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia.

Pertemuan itu menetapkan Hari Puisi Nasional jatuh pada 26 Juli merujuk pada hari lahir Chairil Anwar. Dan, ini tentu berbeda dengan peringatan yang jatuh pada 28 April. Namun, setidaknya, Hari Puisi Indonesia yang diperingati setiap 26 Juli itu, bagaimana asal mulanya dan siapa penggagasnya jauh lebih jelas.

Dalam teks deklarasi Hari Puisi Indonesia pada 22 November 2012 yang dibacakan oleh Sutardji Calzoum Bachri, pujangga Indonesia terkemuka, antara lain berbunyi: “Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.

Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.

Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka,” tutup bunyi teks deklarasi itu.

Namun, terlepas beda versi Hari Puisi Nasional yang merujuk hari meninggalnya Chairil Anwar atau Hari Puisi Indonesia yang merujuk hari lahir Chairil Anwar, karya-karya Chairil Anwar telah melampaui batas waktu hidupnya. Selaras nada dengan bait puisinya: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”

Hari Puisi tentunya bukan semata ditujukan untuk sekadar merayakan Chairil Anwar, tetapi juga sebuah hari milik semua yang memasyarakatkan puisi dan memuisikan masyarakat, baik itu pencipta, penyair, maupun pembaca. Singkatnya orang-orang yang merawat merawat puisi dalam berbagai bentuk. ***

Makmun Hidayat adalah jurnalis Cendana News

Lihat juga...