WALDO langsing dan ramping. Tidak ada massa otot yang menggelembung pada pangkal lengan dengan sulur pepal yang menjanjikan kontraksi angkat atau tarik yang luar biasa. Biasa saja.
Tapi, kata orang, ia leluasa mengangkat pohon jati sebesar perut kerbau, sepelukan, yang dipotong sepanjang dua setengah meteran. Mengangkat sendirian ke atas bak truk, lalu pelan mendorong keseluruhannya naik setelah diberi batang untuk menggelincirkan.
Dua batang dinaikkannya sendiri, yang ketiga dan keempat agak sukar sebab diletakkan di atas yang dasar, sehingga perlu dibantu beberapa orang untuk mendorong. Terengah, tapi terus tak berbicara serta merokok, nyala api akan terlihat dari kejauhan di tengah leleh keringat dan nafas bau alkohol arak campuran.
Kemudian batang itu diikat dari samping agar tak menggelundung saat terlonjak-lonjak di jalan. ”Tapi kerja dengan Aldo itu enak,” kata beberapa orang, mengenang. Memang. Meski, katanya, malam-malam, bersigelap menembus hutan dan diam-diam mendatangi pohon terpilih.
Selepas tengah malam memotong dengan gergaji mesin, usai cabang-cabang dirontokkan hingga tak menyangkut cabang dari pohon lain. Dan untuk itu, siang hari, diam-diam mempelajari pohon, memperhitungkan letak cabang, dan di titik mana memotong, lantas menebang. Berdebum jatuh.
Dipotong jadi tiga atau empat, digotong, lantas dinaikkan ke atas colt bak terbuka. Dibawa ke luar dalam gelap, lampu mobil dimatikan. Dari hutan merangkak dan terguncang-guncang lewat jalan makadan, dengan serakan batu sebesar kepala yang disengaja Perhutani tersebar bergeletak agar kendaraan merayap.
Jalan itu leluasa dikejar dengan trail. Meski tidak perlu selama tidak terlalu sering mencuri, sebab mereka bisa dihapal: ke mana dan kapan polisi hutan berpatroli. Sehingga Waldo, nama aslinya tak lagi diingat orang, dan rekan, leluasa memotong kayu, mengangkat ke luar hutan, memasok ke penampung.
Esoknya bisa berpesta atau sekedar makan dengan menu berdaging. Sederhana dan tanpa memakai kata-kata.
***
”KEBUTUHAN hidup yang memaksa kita begitu,” desah Waldo, pelan. Orang-orang tersenyum.
”Nggak apa-apa,” katanya, ”Ini kan punya negara…” Tapi apakah karena kebutuhan? Waldo menggeleng.
Sampai lulus SMA hidup biasa saja. Normal. Setelah lulus tak tahu akan berbuat apa dan mau ke mana. Ia bergerombol di warung kopi. Ngobrol sampai larut dan kemudian pulang, berbaring tak bisa lelap dengan pertanyaan besar: apa tak ada kehidupan lain yang bisa dilakoni? Waldo tak tahu.
Tapi Waldo berkeyakinan tak bisa hanya menunggu. Tak mungkin! Karena itu ia ikut menjadi Pembantu Tukang Batu dan bekerja di luar daerah selama dua tahun.
Kemudan ikut Erlap, menjadi pembantu si jagal sapi di kota kecamatan. Tukang tarik tambang pada keempat kaki sapi, setelah kepala diikat erat di batang melintang, dan mengencangkan pada keempat tiang di empat penjuru.
Sapi terjatuh dan tak bisa bergerak lagi. Terpancang. Hanya matanya yang berkedip-kedip, tak berdaya dan minta dikasihani.
Tapi tak ada rasa kasihan dari penjagal. Kotak besar disorongkan ke titik potong leher, untuk menampung darah. Kemudian, yang dianggap bersih, lantas dipindah ke dalam kaleng-kaleng bekas susu, dikukus sebelum dijual sebagai bagian paling murah dari sapi, dan biasanya paling laku.
Waldo menunggu si penjagal berdoa, memegang kulit leher dan menghunjamkan golok potong sampai mentok di susunan tulang leher, dan pelan disusul menghabiskan rentangan aorta. Sapi akan meronta, tapi tak banyak gerak berkelejat sebab ikatan sangat erat. Darah akan ditampung.
Setelah mau penuh kotak berlapis seng itu akan didorong menjauh. Si penjagal sigap memutuskan leher sehingga kepala sapi segera dibawa pergi. Kemudian badannya, seusai keempat ikatan dilepaskan, digantungkan, agar gampang dibelah, serta seluruh jeroan dikeluarkan, dimasukkan ke dalam kotak untuk dibersihkan. Ususnya pun kemudian dibersihkan secara khusus dan tersendiri.
Kulit akan dikelupas dengan memakai pisau kecil: si penjagal amat ahli, dan sangat hati-hati, karena hanya itu upah dari kerja memotong sapi. Pelirnya juga dipisahkan. Gempalan daging digantungkan dengan kait baja, berjejer empat, bagian kaki bawah akan dijual terpisah, kemudian punggung pun dipisahkan dari lengkung rusuk yang memang jadi bagian terpisah.
Kemudian Juru Periksa Kesehatan Daging datang, mengobrol, memeriksa untuk memberikan jaminan kesehatan, serta pulang dengan dibawakan daging. Setiap sore, setelah Ashar, meski terkadang tidak ada pemotongan serta tempat itu dipakai untuk latihan silat. Ruangan yang cocok di petang hari: remang dan bau amis.
***
SELEPAS Isya Waldo sudah berada di rumah. Meski masih mampir di warung kopi kampung, memesan kopi, makan jajan dan merokok, sudah beberapa saat ia bisa berbelanja sendiri. Kemudian ia jarang pulang serta tidur di kota. Pagi hari ia jadi Pembantu Tukang Daging, siangnya ia bekerja di rumah Tukang Daging.
Tapi sore ia bisa bebas menjadi Pembantu Jagal, karena tak banyak yang kuat dan tega menjerat kaki sapi dan menggelimpangkan. Santai mengincar kaki belakang, lalu mengincar kaki depan, dan menggulingkan ke kiri dengan leher tersengkelit serta terangkat ke atas. Sangat kejam dan untuk itu dibutuhkan yang berani, tegas.
Sebenarnya Waldo bisa menjadi penjagal pengganti, keberanian dan terutama ketegaannya sangat dominan.
Ia pun sempat berkenalan dengan Emersin. Janda tanpa anak, yang bekerja jadi Pembantu Hidang warung kopi Putu Ikah di depan pasar malam hari, warung tenda. Mereka berpacaran. Menikah. Serta pulang ke rumah orang tua Waldo.
Tapi Emersin tak betah dan minta kos di kota. Di mana kebutuhan hidup meningkat dan pekerjaan sebagai Pembantu Tukang Daging serta Asisten Jagal tidak mencukupi kebutuhan gaya hidup Emersin.
Karena itu, seminggu sekali, pada malam hari bulan mati, Waldo ikut ke hutan. Memotong pohon. Menyerahkan uang bagian buat memuaskan nafsu belanja Emersin, tapi Emersin tak pernah puas dan selalu menuntut.
Waldo makin sering masuk hutan dan memotong pohon jati, bahkan berangkat dengan menyopir sendiri. Di titik ini, ketika orang Perhutani merasa risih dengan pencurian yang kian menggila itu, Waldo masuk perangkap.
Dikepung di tengah hutan saat bersusah-payah mengendalikan mobil yang terengah keberatan di jalan makadan yang berbatu. Digiring ke kantor polisi dengan colt bak terbuka, gergaji mesin, serta batang pohon jati curian. Ia mengaku tidak ada pemukulan dan teman tahanannya tak berani mengganggu.
Waldo segera masuk ke kejaksaan, bablas masuk pengadilan, dan mendapatkan liputan pers. Waldo terkena dua tahun tiga bulan setelah dipotong dengan masa tahanan tidak ada orang yang berani mengganggu.
Ia jagoan silat, kuat, dan amat terbiasa serta tega menyekelit dan memotong sapi. Meski bukan itu yang membuat orang takut: di penjara Waldo tidak pernah berbicara, tidak pernah mau bergabung dengan siapa pun dan cuma pelan bergumam, ”Mereka datang. Mereka datang …”
Tak pernah mengganggu. Prosan yang mengganggunya langsung ambruk saat dipukul setelah lima kali dibiarkan memukul Waldo.
Para si terpenjara takut dan lebih menakutkan lagi ketika Waldo cuma diam, menunggu dijenguk Emersin. Tapi Emersin tak pernah mau menjenguk Waldo, bahkan ketika masih ditahan di Polsek. Emersin menghilang.
Katanya, ia ke Surabaya, tapi ada yang bilang ke Jakarta, bahkan ke Borneo. Emersin menghilang, tapi Waldo terus menanti kunjungannya. Emersin raib bahkan sampai Waldo dibebaskan. Pulang kampung serta bertanya tentang Emersin.
Orang menggeleng. Waldo menghela nafas, perlahan memejam. Sejak itu Waldo tidak pernah mau mampir ke warung kopi kampung, untuk berkumpul dan berbicara tentang apa saja dengan siapa saja.
Waldo ke luar di pagi hari, berjalan kaki ke kota kecamatan, berkeliling di pasar, dan pulang lagi. Masuk kamar. Diam. Tak mandi. Jarang makan. Dan, kata orang, tak pernah tidur. Bengong, terkadang mendesis, ”Mereka datang. Mereka datang… ”
***
TUBUHNYA ramping dengan kulit putih. Rambutnya sebahu dengan kumis dan janggut dibiarkan liar. Waldo berjalan di tepi dan tersenyum. Manggut bila kepergok tatap dengan orang lain, siapa pun mereka. Tapi Waldo tak pernah berbicara dengan siapa pun.
Bekas teman yang mencegat akan dilayani dengan senyuman, terus tersenyum. Tak menolak kalau diberi rokok, dan kemudian akan manggut, pamit, terus berjalan. Kadang-kadang ia akan berhenti di depan rumah seseorang, dan baru akan pergi dengan menganggukkan kepala sambil senyum mengucapkan terima kasih serta meminta seribu maaf bila diberi rokok.
Meski tak suka berbicara, Waldo menyenangkan. Kesantunannya, cara menganggukkan kepala dan tersenyum. Dengan muka rupawan dan kulit putih membuat orang senang, meski ia tidak pernah mandi. Dalam enam bulan tak pernah berganti baju.
”Kenapa kamu jadi begini?” desak temannya. Waldo senyum. Terus tersenyum sampai diberi rokok, lalu manggut pamit untuk berjalan ke pasar dan kembali ke rumah.
Ia jarang tidur. Diam. Melongo dan bengong. Sekali rambutnya dipotong dan bajunya diganti, tersenyum ketika digoda dan pada tiga bulan kemudian semuanya kembali ke asal.
Setelah sebulan anunya sangat mengganggu, setelah tiga bulan dan paling lambat enam bulan pelan dibujuk agar mandi, potong rambut, dan ganti baju. Waldo mau, lalu kembali lagi, dan dibujuk lagi.
Seperti siklus tapi Emersin tak pernah datang menjenguk. Bertahun begitu. Tak berbicara. Tak meracau. Tidak mengganggu, melulu tersenyum dan manggut. Sampai Waldo meninggal.
Kami tak lagi bersua lelaki langsing, berambut gondrong, dengan kumis dan jambang liar: tidak pernah bicara, cuma senyum dan sesekali manggut. Dan tidak sekali terkabarkan bahwa Emersin mampir menziarahi makam suaminya, karena mereka belum bercerai. ***
Beni Setia, sastrawan, lahir di Bandung, Jawa Barat, 1954. Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Pertanian Atas, Soreang, Bandung pada 1974. Ia menulis cerpen, puisi, serta esai sosial-budaya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Bukunya yang telah terbit Legiun Asing: Tiga Kumpulan Sajak (1987), Dinamika Gerak (1990), dan Harendong (1996). Karya cerpennya hampir setiap tahun masuk dalam buku kumpulan cerpen pilihan harian Kompas. Kini ia tinggal bersama keluarga di Caruban, Madiun, Jawa Timur.
Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak, dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.