Belum Ada Laporan Tertulis Soal Tewasnya Petugas Kesehatan di Papua
JAYAPURA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua masih menunggu laporan resmi atas tewasnya Berny Fellery Kunu (24), salah seorang petugas kesehatan yang sedang menjalankan tugas di Kampung Yabasorom, Distrik Pamek, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua.
“Belum ada laporan tertulis dari Dinkes Pegunungan Bintang, terkait salah seorang misionaris di bidang kesehatan yang diutus oleh Gereja Advent yang dibunuh di Pegunungan Bintang, pekan lalu (29/3),” kata Kepala Dinas Kesehatan Papua Aloysius Giyai di Jayapura, Kamis (5/4/2018).
Hingga kini, Dinkes Papua masih menunggu laporan resmi tentang kronologis kematiannya dari Dinkes Pegunungan Bintang, tetapi belum ada laporan tertulis.
Namun, pihaknya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya dan apresiasi kepada organisasi Gereja Advent yang berupaya untuk melaksanakan misi pelayanan kesehatan di daerah-daerah pedalaman Papua.
Selama menjalankan pelayanan kesehatan, seorang pelayan kesehatan dikabarkan tewas.
“Sikap kami dari Dinkes Papua pertama tentu turut serta berduka cita yang mendalam. Sebagai seorang manusia pelayan dari daerah lain datang dan melayani di daerah-daerah pedalaman itu kami apresiasi,” katanya.
Jajaran Dinkes Papua mewakili Pemerintah Provinsi Papua mohon maaf sebesar-besarnya atas hilangnya seorang anak bangsa, seorang pelayan yang luar biasa, di medan perjuangan dan pelayanan bagi sesama di atas tanah ini.
“Kami akan berusaha datang ke rumah duka di Manado atau dengan cara apa pun kami akan menyampaikan turut belasungkawa, pada satu dua hari mendatang,” katanya.
Mantan Direktur RSUD Abepura itu, menyebut, kasus tersebut baru pertama kali ditemukan di Papua sepanjang sejarah.
Aloysius menilai, tempat kejadian itu ada sesuatu yang kurang, yakni barangkali belum ada sosialisasi atau penyampaian informasi, bahwa di kampung tersebut ada petugas kesehatan dari tim itu atau dari suatu organisasi gereja.
“Saya yakin dan percaya, bahwa teman-teman ini bukan brutal, tapi mungkin kekurangtahuan informasi tentang keberadaan di daerah itu atau yang dikirim oleh gereja,” katanya.
Namun, katanya, apa pun alasannya, menghilangkan nyawa orang dikutuk oleh Tuhan, tidak dikehendaki oleh manusia siapa pun.
Untuk itu, Dinkes Papua berharap pihak adat di Pegunungan Bintang membantu pihak berwajib untuk menuntaskan masalah tersebut, terutama demi upaya preventif petugas kesehatan yang bekerja di daerah lain di atas tanah ini pada masa mendatang.
Aloysius meminta kepada para kepala Dinas Kesehatan maupun pemerintah daerah, kepala puskesmas, kalau ada penambahan petugas kesehatan baru, baik sifatnya penempatan PNS, Program Nusantara Sehat, Tim Kaki Telanjang, Tim Kesehatan Terapung, atau Tim Kesehatan Bergerak dalam bentuk kontrak, honor, atau lainnya, sebaiknya diperkenalkan kepada masyarakat setempat, tokoh adat, tokoh gereja, dan masyarakat umum.
“Itu kan sekalian perkenalan, bahwa ada tim kesehatan ini ada datang melayani di sini, tolong fasilitasi, tolong membantu mereka, tolong menopang mereka dalam pelayanan ke kampung-kampung,” ujarnya.
Mantan Kepala Puskesmas Koya itu, menambahkan hal tersebut sebagai langkah penting, karena petugas kesehatan datang utamanya untuk membantu masyarakat kecil. (Ant)