JAKARTA — Pentas Seni Pelajar Indonesia Maju (Pensi Prima) Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (4/3/2018) siang itu dimeriahkan dengan penampilan Jeffry Andreas, staf Promosi Anjungan Kalimantan Utara TMII.
Pria kelahiran 31 tahun ini memperagakan senjata tradisional Sumpit atau dalam bahasa Dayaknya adalah Keleput. Gerakan Jeffry mengenakan busana tradisional Kalimantan Utara terlihat bagaikan prajurit perang.
Apalagi saat dia meniupkan Sumpit dengan peluru tepat sasaran pada bola warna merah yang dipasang di tepi panggung Walls area parkir selatan TMII, sontak anak-anak dan para orangtua pun terpukau. Tepuk tangan bergemuruh mengapresiasikan penampilan putra daerah Kalimatan Utara ini.
Setiap gerakan Jeffry dalam meniupkan Sumpit itu pun diiringi dengan alunan musik Sampe khas Kalimantan Utara. Ini menambah suasana semakin bergelora. Anak-anak terkadang berteriak manakala Jeffry dengan candaannya mengarahkan Sumpit berukuran 1,5 meter ini ke para bocah tersebut.
“Nggak usah takut. Ayo siapa yang mau mencobanya akan kakak ajarkan,” kata Jeffry penuh rayu.
Namun tak satupun dari anak-anak itu yang maju untuk memperagakan Sumpit. Tapi dari kalangan orangtua terlihat bersemangat maju mengikuti ajakan Jeffry.
Bimo, salah satu orang tua anak yang pentas seni dengan antusias meniup Sumpit. Dengan posisi tubuh sedikit berjongkok sambil menarik napas meniupkan Sumpit hingga mengenai bola warna kuning yang dipasang di pinggir panggung. “Alhamdulillah saya berhasil, rasanya sangat luar biasa,” kata Bimo.
Pada kesempatan ini, Jeffry menjelaskan, bahwa Sumpit itu yang dipakai saat ini berukuran panjang 1,5 cm Sekali tiupan, Sumpit ini bisa menembus jarak 50 meter-100. Sedangkan Sumpit sepanjang 210 cm bisa menembus jarak yang lebih jauh.
“Sumpit ini biasa dipakai masyarakat Dayak untuk berburu binatang maupun membunuh musuh saat berperang,” kata Jeffry kepada Cendana News ditemui usai acara.
Dijelaskan dia, senjata ini sederhana dan kecil tetapi sangat mematikan. Anak sumpit atau yang disebut Damek dibuat dari bilah bambu yang ujungnya seperti kerucut dan terbuat dari kayu dengan massa ringan, seperti kayu pohon aren.
Ujungnya kerucut agar fungsinya damek ini melesat lurus karena memiliki penyeimbang saat dilepaskan dari Sumpit. Biasanya, ukuran kurang lebih 15 cm yang ujung depannya diraut tajam agar dapat menikam musuh.
Menurutnya, dilepaskan dengan cara ditiup. Kuat tidaknya tembakan tergantung sejauh mana napas tekanan yang diberikan Demak untuk melesat menuju target. “Tembakan Sumpit akan tepat sasaran tergantung dari kekuatan napas kita,” jelas Jeffry.
Jika anak panah Sumpit mengenai manusia, kata dia, akan dipastikan korban langsung meninggal. Inilah yang menjadi alasan para penjajah bangsa Indonesia takut dengan senjata tradisional Kalimantan Utara ini.
Jadi peluru dari senapan masih kalah kuat dari anak panah Sumpit karena kecil-kecil tapi mematikan. “Inilah salah satu senjata tradisional Dayak yang ditakuti penjajah atau musuh. Hanya sebilah bambu kecil mampu mematikan manusia maupun hewan,” ungkapnya.
Terkait kekuatan napas sangat menentukan target sasaran ketika meniupkan sumpit. Jeffry menjelaskan, bahwa agar mahir meniup sumpit itu perlu berlatih kekuatan napas dan ketahanan kaki serta tangan. Ini karena saat meniupkan sumpit, posisi tubuh yang baik itu bukan berdiri tapi berjongkok sehingga kekuatan tangan dan kaki harus maksimal. Begitu juga dengan kekuatan napas. Karena saat posisi tubuh berjongkok sambil memegang sumpit, maka tarikan napas dari perut juga harus maksimal untuk mendorong anak panah meleset tepat sasaran.
“Dua minggu berlatih ketahanan kaki dan tangan juga kekuatan napas. Jadi ada olahraganya. Sebulan latihan dipastikan mahir memakai sumpit ini,” ujarnya.
Karena peragaan sumpit ini bersifat olahraga tradisional, maka jelas Jeffry, kerap dilombakan. Contohnya pada pertengahan 2017, lomba sumpit digelar di TMII, dan Jerry adalah salah satu jurinya. Dari lomba itu, pemenangnya mendapatkan hadiah menarik. Untuk tahun 2018 ini, kata dia, lomba sumpit akan digelar di Kalimantan Selatan.
Menurutnya, sumpit ini merupakan ragam seni budaya bangsa yang dimiliki suku Dayak Kalimantan Utara. Maka sudah selayaknya harus dilestarikan karena masing-masing provinsi di seluruh Indonesia memiliki sejarah berbeda dalam menciptakan budaya, tradisi dan bahasa.
Lewat pentas ini, Jeffry berpesan kepada generasi zaman “now” agar melestarikan seni budaya bangsa dari gempuran budaya luar yang begitu bergemuruh.
“Saya harapkan generasi jaman now membentengi diri dengan seni. Pasti sukses seperti sumpit ini ada nilai ekonomisnya, selain menghibur penonton. Nilai ekonomis, saya rasakan saat pentas baik di dalam negeri maupun luar negeri,” pungkasnya.