Pegiat Literasi di Lampung Bantu Bangun Rumah Warga

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Rumah pasangan suami istri Jumadi (38) dan Asna (36) warga Dusun Serungkuk Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni yang sempat roboh akhirnya akibat angin kencang dan hujan mulai diperbaiki. Rumah terbuat dari geribik bambu sudah berdiri sejak belasan tahun silam tersebut bahkan diganjal dengan beberapa batang bambu.

Jumadi menyebutkan, saat rumah miliknya masih ditopang dengan bambu ia kerap was was ambruk sewaktu-waktu. Beruntung saat rumahnya ambruk penghuni sedang tidak berada di dalam rumah. Ia juga sempat mengajukan permohonan melalui bantuan stimulan perumahan swadaya atau program bedah rumah meski alokasi program belum dikucurkan di wilayah Bakauheni.

“Rumah milik saya pernah didaftarkan untuk memperoleh program bedah rumah namun hingga rumah roboh tak kunjung ada bantuan hingga ada bantuan material pasir dan semen,” terang Jumadi warga Dusun Serungkuk Desa Kelawi saat ditemui Cendana News, Sabtu (17/2/2018).

Rumah berukuran 6 x 5 meter yang sudah reot dan bahkan ambruk tersebut terpaksa ditinggalkan sementara menunggu biaya untuk perbaikan. Jumadi bersama dua anaknya sementara waktu tinggal di rumah mertua. Beruntung ia mendapat bantuan semen, pasir sebagian dibeli dari uang tabungan diantaranya membeli kayu, batu bata dan bahan bangunan lainan.

Sebelum proses pembangunan rumah Jumadi bahkan menyebut sempat memperoleh bantuan berupa beras, mie instan serta bahan makanan selama rumah miliknya ditopang bambu. Tahap selanjutnya bantuan untuk membangun rumah diperoleh dari pegiat literasi seperti perahu pustaka dan jangkar pustaka. Bantuan tersebut dipergunakan sebagai tambahan untuk proses pembuatan rumah layak huni miliknya dengan rumah permanen terbuat dari batu bata.

pegiat literasi
Jumadi mendapatkan bantuan bahan bangunan berupa semen untuk memperbaiki rumah miliknya yang roboh [Foto: Henk Widi]
Radmiadi, relawan perahu pustaka mengaku bantuan berupa sembako, bahan bangunan diberikan untuk meringankan beban Jumadi sekeluarga. Kepedulian sosial tersebut diakuinya diharapkan bisa membangkitkan kepedulian warga lain kepada warga lain yang kekurangan.

“Kami prihatin dengan kondisi warga yang memiliki rumah tidak layak huni namun belum ada perhatian pemerintah desa atau pihak terkait,“ terang Radmiadi.

Langkah pengajuan ke pemerintah desa sudah dilakukan agar rumah milik Jumadi mendapatkan prioritas alokasi bedah rumah. Selain tidak layak huni kondisi rumah terbuat dari geribik bambu tersebut sudah dalam kondisi rusak dan membahayakan penghuninya.

Lihat juga...