Berkat Posdaya Mandiri, Siti Kini Miliki Usaha Pembuatan Batik Sendiri
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
YOGYAKARTA — Sejumlah warga di dusun Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, mengakui keberadaan Posdaya Mandiri telah memberikan manfaat yang cukup besar bagi mereka. Kondisi ekonomi warga yang mayoritas merupakan para pengrajin batik tulis bisa terangkat.
Salah satu warga yang merasakan langsung manfaatnya ialah Siti Wahadhah, warga RT 3, dusun Giriloyo, Wukirsari, Imogiri. Ia mengaku banyak mendapatkan berbagai pelatihan dan pendampingan sejak posdaya Mandiri berdiri sekitar tahun 2009 lalu.
Bersama warga pengrajin batik lainnya, ia kerap diikutkan dalam sejumlah diklat atau kursus membatik. Pelatihan itu lebih banyak mengenai proses pewarnaan yang menjadi keterbatasan warga selama ini.
“Dulu saya dan banyak warga disini, hanya membuat batik setengah jadi. Jadi memproses kain mori sampai memiliki motif. Setelah itu langsung kita kirim ke Jogja. Jadi istilahnya kita hanya bikin batik mentah. Karena kita tidak tahu bagaimana proses mewarnai,” katanya.
Namun setelah mendapatkan ilmu pewarnaan dari hasil pelatihan yang ia ikuti, kini Siti telah mampu memproduksi kain batik utuh secara mandiri. Ia bahkan telah mampu menjual kain batik hasil produksinya langsung ke konsumen.
“Berkat pelatihan itu, kita jadi tahu bagaimana proses pewarnaan. Sehingga sekarang kita bisa melakukan proses itu sendiri. Tak hanya itu, dengan pelatihan soal managemen bisnis hingga pemasaran, kita akhirnya juga bisa menjual produk kita sendiri,” ujarnya.
Tak sekedar pelatihan, melalui Posdaya Mandiri, warga pengrajin batik juga diberikan modal usaha berupa peralatan membatik. Posdaya Mandiri menjadi jembatan bagi sejumlah pihak baik pemerintah maupun swasta untuk menyalurkan program bantuan pemberdayaan.
“Saya pernah mendapatkan bantuan peralatan pewarnaan membatik, kompor untuk proses membatik, sampai bahan baku berupa kain mori. Termasuk pinjaman modal usaha lewat koperasi,” katanya.
Dengan adanya sejumlah program pemberdayaan lewat Posdaya Mandiri tersebut, dikatakan Siti, usaha kerajinan batiknya pun mulai berkembang. Secara otomatis penghasilannya juga meningkat drastis. Ia kini bahkan telah memiliki karyawan yang membantu usahanya.
“Jelas penghasilan meningkat, kalau dulu satu kain batik mentah paling hanya dihargai puluhan ribu. Kalau sekarang, karena sudah jadi, satu lembar lain bisa mencapai Rp500 ribu-Rp1,5 juta,” katanya.

Hanya saja dikatakan Siti, untuk memuat satu kain batik yang telah jadi paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 20 hari. Hal itu karena proses yang seluruhnya masih dilakukan secara manual.
“Selain dijual langsung kepada tamu wisatawan yang berkunjung ke sini, saya juga biasa setor ke hotel-hotel di Yogyakarta. Terkadang saya juga dapat pemasukan dari hasil pelatihan membatik untuk tamu yang datang kesini,” katanya.