Hanya 12 Persen Penduduk Indonesia Melakukan Deteksi Dini Kanker

Ilustrasi -Dok: CDN

JAKARTA – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, mengatakan, kesadaran masyarakat terhadap penyakit kanker masih rendah, dan menjadi penyebab tingginya kasus kanker di Indonesia.

Subuh juga mengatakan, bahwa diestimasikan hanya 12 persen penduduk Indonesia yang melakukan deteksi dini, guna pencegahan kanker. “Tahun 2017 kami sudah lakukan tes IVA pada tiga juta perempuan Indonesia. Tapi, itu masih jauh sekali, sasaran kita harus 37 juta perempuan Indonesia lakukan deteksi dini,” kata Subuh, Senin (5/2/2018).

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional, Profesor Soehartati Gondhowiardjo, mengungkapkan hanya 3,5 persen perempuan Indonesia yang melakukan tes IVA dan hanya 7,7 persen yang melakukan papsmear sebagai upaya deteksi dini kanker serviks.

Soehartati yang akrab disapa Prof Tati itu menyebutkan, sekira 70 persen pasien kanker datang ke rumah sakit saat sudah stadium lanjut. “Yang banyak di masyarakat itu diabaikan, akhirnya menjadi luka, tidak sembuh-sembuh, baru dibawa ke dokter,” katanya.

Subuh menjabarkan, faktor risiko penyakit kanker tidak hanya dari sisi klinis, namun juga dari faktor lainnya seperti pengetahuan, lingkungan dan kepedulian masyarakat akan kanker itu sendiri.

Ia mengatakan, masyarakat harus diedukasi segala hal tentang kanker, termasuk faktor risiko secara klinis yang menyebabkan penyakit itu muncul.

Saat pengetahuan tentang kanker sudah disosialisasikan, diharapkan perilaku masyarakat berubah menjadi lebih sehat dengan menjaga pola makan, olahraga teratur dan menjauhi perilaku pemicu kanker.

Kementerian Kesehatan melaksanakan sosialisasi dan edukasi tentang kanker pada penyuluh dari berbagai provinsi, yang nantinya akan bertindak untuk mengedukasi pengetahuan tentang kanker kepada masyarakat. (Ant)

Lihat juga...