Distan Sikka Kembangkan 1.018 Hektare Kedelai

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Komoditi pertanian kedelai yang telah diujicoba untuk ditanam sejak 2016 dan berhasil, membuat Dinas Pertanian (Distan) kabupaten Sikka pada musim tanam 2018 melakukan penanaman kedelai di lahan seluas 1.018 hektare.

“Memang, target awalnya 1.300 hektare, tapi akibat permasalahan administrasi, hanya dikembangkan 1.018 hektare saja untuk tahun ini. Ke depan, kami akan kembangkan dengan jumlah besar, bila hasil produksinya bagus,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian kabupaten Sikka, Inocensius Siga, Senin (5/2/2018).

Kedelai, sebut Ino sapaannya, merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan, sebab kebutuhan akan kedelai baik sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri semakin meningkat. Kebutuhan di kabupaten Sikka pun semakin besar.

Penanaman serentak, lanjutnya, sudah dilakukan Kamis (1/2/2018) lalu di Desa Lepolima, kecamatan Kangae, dengan luas areal 0,75 hektare. Kedelai yang ditanam jenis Anjasmoro, di mana untuk Desa Lepolima luas areal tanam sebesar 40 hektare.

“Jumlah poktan penerima bantuan sebanyak 155 kelompok tani yang tersebar di 94 desa dan kelurahan yang tersebar di 17 kecamatan di kabupaten Sikka,” jelasnya.

Inconesius Siga, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary

Total anggaran yang dibutuhkan, terang Ino, sebanyak 1,283 miliar rupiah, berasal dari APBN. Biaya penanaman per hektare sebesar 1,26 juta rupiah. Biaya tersebut ditransfer langsung ke rekening kelompok tani.

Dengan dana tersebut, sambungnya, kelompok tani membeli benih kedelai 50 kg per hektare, Risobim 150 gram per hektare, pestisida 2 liter, pupuk organik cair 2 liter serta pupuk urea 50 kilogram per hektare.

“Pendampingan pada kelompok tani dilaksanakan oleh Babinsa dari Kodim 1603 Sikka, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), unsur perguruan tinggi dari Undana Kupang dan Gerakan Pemuda Tani Sikka  (Gempita Sikka),” paparnya.

Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera, mengaku program pemerintah pusat ini memang sangat cocok dikembangkan di kabupaten Sikka. Sebab, selama ini petani di Sikka sudah terbiasa menanam kacang hijau.

Apalagi, struktur tanah di kabupaten Sikka sangat cocok untuk mengembangkan tanaman ini. Namun, para petani belum terbiasa. Untuk itu, setelah dilakukan ujicoba, pemerintah ingin kedelai juga bisa ditanam di Sikka.

‘Konsumsi tempe dan tahu masyarakat kabupaten Sikka juga meningkat, karena semakin banyak masyarakat perantau yang menetap di Sikka. Kita ingin, agar bahan baku kedelainya bisa diperoleh di kabupaten Sikka, sehingga coba dikembangkan besar-besaran,” pungkasnya.

Lihat juga...