Akui HM Soeharto Tokoh Besar, Titiek Soeharto Apresiasi Ketua Parlemen Maroko

MAROKO – Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto), menyampaikan apresiasinya kepada Ketua Parlemen Maroko, Habib el-Malki, atas pengakuannya terhadap peran Presiden Soeharto sebagai tokoh besar, yang perannya juga diakui di kancah internasional.

“Selama 32 tahun, Pak Harto mengisi kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Presiden Soekarno dengan pembangunan. Rakyat Indonesia memberikan gelar Bapak Pembangunan Indonesia. Semasa menjabat presiden, Soeharto juga mewujudkan kestabilan dan keamanan kawasan. Dalam hubungan dengan Maroko, Presiden Soeharto menginisiasi pembentukan sister city antara Jakarta dan Casablanca, untuk mendekatkan rakyat kedua negara,” ujar Siti Hediati Haryadi, saat memberikan sambutan dalam pertemuan bilateral bersama Parlemen Maroko di Rabat, dalam rangkaian kunjungan kerja dua hari di negara tersebut.

Sebelumnya, Ketua Parlemen Maroko Habib el-Malki, menyatakan menyambut antusias kedatangan delegasi BKSAP DPR RI. Kendati sempat tersiar kabar, bahwa ia tidak dapat menerima kedatangan delegasi BKSAP, namun sebagai bentuk penghormatan, ia membatalkan seluruh acaranya di luar negeri.

Siti Hediati Haryadi, Ketua Delegasi BKSAP DPR RI, berjabat tangan dengan Ketua Parlemen Maroko, Habib el-Malki. -Foto: Ist.

Dalam pertemuan bilateral ini, Habib el-Malki memuji kepemimpinan delegasi BKSAP yang dijabat perempuan. Anggota delegasi BKSAP pun juga terdiri dari banyak perempuan, yang menurutnya menandakan kemajuan demokrasi di Indonesia.

“Saya mendatangi pertemuan dengan delegasi DPR RI, karena rasa hormat pada perempuan sebagai tonggak demokrasi. Maroko perlu belajar banyak dari Indonesia”, katanya.

Habib el-Malki juga memuji kepemimpinan Siti Hediati Haryadi, yang datang dari keluarga terhormat. Ia merujuk pada peran Presiden Soeharto sebagai tokoh besar Indonesia. “Peran Presiden Soeharto dalam kancah pergaulan internasional juga diakui oleh negara-negara lain”, tegas Habib el-Malki.

Sementara dalam sambutannya pula, putri Presiden kedua RI, Soeharto, sebagai ketua delegasi BKSAP DPR RI menekankan enam hal penting. Pertama, bahwa hubungan bilateral Indonesia dan Maroko sangat bersejarah. Secara politik internasional, hubungan kedua bangsa sangat mesra dan kondusif. Namun demikian, DPR RI menyayangkan hubungan bersejarah tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kerja sama ekonomi dan perdagangan.

Ketua Parlemen Maroko, Habib el-Malki, saat berdiskusi bersama Delegasi BKSAP DPR RI di Maroko. -Foto: Ist.

Dalam kurun 2012-2016, kata Titiek Soeharto, neraca perdagangan Indonesia cenderung menurun. Dan, peran parlemen menurutnya sangat signifikan mendorong para pemangku kepentingan dari Maroko dan Indonesia, untuk bersinergi meningkatkan volume perdagangan kedua negara.

Kedua, DPR RI dan Parlemen Maroko selama ini aktif bekerja sama dalam forum-forum parlemen internasional, seperti PUIC dan IPU. Ia mengapresiasi Parlemen Maroko yang telah berjuang bersama Parlemen Indonesia menginisiasi dan menggolkan emergency item on Rohingya, sehingga diadopsi menjadi resolusi IPU.

Baca: Kunjungi Maroko, BKSAP DPR RI Jajaki Penguatan Kerja Sama Ekonomi
Titiek Soeharto Dorong Eksplorasi Peluang Investasi Maroko-Indonesia

Ketiga, Indonesia dan Maroko telah lama memiliki kerja sama sister city. Sejak masa Presiden Soeharto, kerja sama kota bersaudara (sister city) telah dirintis melalui kerja sama Jakarta dan Casablanca pada 25 Mei 1991. Ia pun menyambut baik kerja sama provinsi bersaudara (sister province) antara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Provinsi Fez pada 11 Oktober 2014, dan Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Sous-Masa. Ia berpandangan, bahwa  kerja sama sister city harus direvitalisasi dan direaktivasi, untuk kemanfaatan rakyat kedua negara, sehingga tidak hanya seremonial belaka.

Keempat, dalam perspektif modern, parlemen kedua negara diharapkan berkontribusi dalam mempromosikan hubungan bilateral Indonesia-Maroko, baik itu government to government, business to business, ataupun parliament to parliament, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, atau bidang-bidang strategis lainnya.

Untuk menegaskan pentingnya hubungan Indonesia dan Maroko, Titiek Soeharto berpandangan, bahwa kerja sama bilateral di segala bidang antara Indonesia dan Maroko, merupakan wujud aktualisasi hubungan erat dan bersejarah kedua negara, sehingga dapat memberikan manfaat bagi kepentingan kedua negara di kawasan masing-masing, baik Maroko di Afrika maupun Indonesia di Asia Tenggara.

Kelima, menyambut baik masuknya kembali Maroko ke dalam keanggotaan Uni Afrika. Titiek Soeharto meyakini, jika Maroko dapat memainkan peran strategis di dalam kerja sama kawasan Afrika. Ia juga meyakini, bahwa Parlemen Maroko dapat berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas di kawasan Afrika.

Keenam, Siti Hediati Soeharto mengapresiasi pemberian beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Dalam kesempatan itu, ia mendorong pemberian beasiswa pemerintah Maroko tidak hanya diberikan kepada rumpun bidang ilmu-ilmu keislaman saja, melainkan juga bidang-bidang ilmu sains dan humaniora lainnya.

Pertemuan dengan parlemen Maroko ini kemudian dilanjut dengan pertemuan dan diskusi bersama kelompok persahabatan Maroko-Indonesia.

Berita Titiek Soeharto Klik Kabar Cendana

Lihat juga...