Warga Cemaskan Abrasi di Pesisir Pantai Utara Kota Maumere
MAUMERE – Abrasi yang terjadi di sepanjang pesisir pantai di kota Maumere dan wilayah sebelah timur kota Maumere hingga ke kecamatan Kewapante, sekitar 8 kilometer arah timur kota Maumere sudah sangat memprihatinkan, dan membuat warga mulai gelisah memasuki bulan Januari dan Februari akibat gelombang tinggi dan angin kencang.
“Setiap tahun abrasi semakin parah akibat gelombang tinggi dan angin kencang sejak Januari sampai Februari. Tahun 2017 lalu saja air masuk hingga ke halaman rumah saya yang jaraknya sekitar 10 meter dari pantai,” ujat Wenefrida Efodia Susilowati, warga desa Habi kecamatan Kangae, Rabu (17/1/2018).
Saat ditemui Cendana News di rumahnya di pesisir pantai pantai Paris Lokaria kota Maumere, Susi, sapaannya, mengatakan, warga yang bermukim di pesisir pantai sudah bersurat dan meminta kepada pemerintah dan DPRD Sikka untuk membangun tanggul. Namun, permintaan tersebut belum terealisasi.
“Warga juga sudah menyampaikan saat reses anggota DPRD Sikka juga namun belum terealisasi. Daripada menunggu lama, saya akhirnya membangun dengan dana sendiri tanggul penahan gelombang,” ungkapnya.
Tanggul yang dibangun tersebut, kata Direktur Bank Sampah Flores ini, memiliki panjang sekitar 60 meter dengan tinggi sekitar 3 meter sepanjang halaman rumahnya yang persis berada di pesisir pantai.Bila tidak dibangun tanggul, sebentar lagi gelombang lebih besar dan air akan masuk ke rumah miliknya.
“Tahun lalu saat musim angin kencang di bulan Januari sampai Februari kami tidak bisa tidur tenang saat malam hari. Saya juga tidak ingin rumah kami hanyut tergerus abrasi,” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua RT 13 Desa Habi, Dominikus Kolit yang meminta agar di sepanjang pantai Lokaris segera dibangun tanggul penahan gelombang agar warga yang bermukim di pesisir pantai tidak terancam bahaya.
Banyak pohon kelapa, kata Dominikus, yang berada di pesisir pantai Paris di Lokaria sudah tumbang semua akibat tergerus abrasi. Air laut juga semakin menggerus daratan hingga beberapa pohon kelapa yang berjatrak sekitar 5 meter dari bibir pantai pun terancam tumbang.
“Setiap tahun warga was-was jika masuk musim barat, karena air laut naik hingga ke rumah warga. Bahkan pohon-pohon yang tumbang akibat diterjang gelombang juga menjadi ancaman untuk warga di sana, sehingga kalau tidak segera ditanggapi bisa jadi akan makan korban,” tegasnya.