Listrik Surya Tingkatkan Kreativitas Sekolah di Sumba

SUMBA – Pembangkit listrik tenaga surya di SD Inpres Laikarenga, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT mampu meningkatkan kreativitas sekolah baik guru maupun para siswanya.

“Sejak ada listrik, guru-guru sudah bisa mengoperasikan komputer, dan tidak perlu jauh-jauh mencari listrik untuk mengetik soal atau laporan,” kata Kepala Sekolah SD Inpres Laikarenga, Karolina Konga Naha yang ditemui di sekolahnya, di Sumba Barat Daya, Selasa.

Selain itu, menurut Karolina, para siswa juga semakin giat belajar karena di rumah mereka telah memiliki penerangan surya atau biasa disebut lampu cas.

Lampu tersebut dapat di isi ulang di sekolah dengan hanya membayar Rp1.500 sekali isi ulang.

Karolina yang telah mengabdi sejak 1982 di sekolah tersebut mengaku sejak ia di sana mereka mengalami kesulitan air bersih dan listrik.

Namun sejak dipasangnya panel surya pada 1 Maret 2017, aktivitas sekolah semakin meningkat karena adanya listrik.

Peralatan elektronik seperti komputer dan laptop yang ada sejak 2005 dan tidak dapat dipergunakan akhirnya bisa bermanfaat.

“Sejak 2005 punya alat elektronik pengadaan dari dana BOS, kadang-kadang pakai genset pakai BBM, kadang harus menumpang ke tempat lain. Setelah ada panel bisa bekerja di sini. Sangat membantu,” katanya.

Heribertus Kaka, siswa kelas enam mengatakan, lampu cas yang mereka punya sangat bermanfaat karena bisa belajar di malam hari.

Dari 392 siswa, yang memiliki lampu cas sebanyak 240, seminggu sekali di isi ulang di sekolah. Keuntungan lainnya, bisa mengisi ulang baterai telepon genggam dengan membayar Rp2.000 sekali mengecas.

Dengan listrik panel surya, para siswa juga bisa menonton televisi seminggu sekali di sekolah.

Pengadaan enam panel surya yang masing-masing menghasilkan energi listrik sebesar 250 watt sehingga total listrik mencapai 1,5 kwH diinisiasi oleh Resco, konsorsium Hivos, organisasi pembangunan internasional.

Melalui Sumba Iconic Island yang diprakarsai Hivos, lewat Proyek Terang hingga akhir 2017 telah berhasil menyediakan energi terbarukan bagi 26 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Selain rumah tangga, sebanyak 25 sekolah di NTT telah menerima sumber energi terbarukan. (Ant)

Lihat juga...