Gerilyawan Rohingya Sergap Kendaraan Militer Myanmar

YANGON – Gerilyawan Rohingya menyergap kendaraan militer Myanmar di negara bagian Rakhine. Akibat dari insiden tersebut dilaporkan  lima tentara mengalami luka.

Kelompok Tentara Penyelamat Arakan Rohingya (ARSA) mengaku bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Arsa tercatat menjadi kelompok yang melakukan serangan terhadap 30 pos keamanan militer di Myanmar. Akibat dari serangan tersebut, pada 25 Agustus 2017 lalu terjadi gelombang serangan besar-besaran pemerintah Myanmar ke bagian utara Rakhine.

Gerakan militer disertai kekerasan dan pembakaran desa oleh militer membuat sekitar 650.000 orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh. PBB mengecam operasi militer Myanmar dan menyebutnya sebagai pembersihan etnis. Namun pemerintah Myanmar membantah tudingan tersebut. Sejak kejadian di 25 Agustus tahun lalu, ARSA tercatat , sudah jarang melakukan aksi bersenjata.

Militer Myanmar menyebut, kelompok teroris esktrimis Bengali ARSA kembali menggelar serangan pada Jumat (5/1/2018). Kali ini serangan dilakukan terhadap sebuah truk yang tengah membawa seseorang menuju rumah sakit. Penyerangan dilakukan oleh puluhan orang.

“Kendaraan kami diserang oleh 20 gerilyawan dari pegunungan yang membawa senjata kecil dan ranjau rakitan,” demikian pernyataan resmi pemerintah. Keterangan itu berbeda dengan militer yang menghitung ada 10 pelaku serangan.

Juru bicara ARSA kemudian menanggapi dengan mengaku pihaknya bertanggung jawab. “Ya, ARSA mengaku bertanggung jawab terhadap aksi militer terbaru ini,” kata juru bicara ARSA dalam pernyataan resmi ke media di Myanmar.

Dalam sebuah pernyataannya, ARSA membantah punya hubungan dengan kelompok militan Islam lainnya. Mereka beraksi di Myanmar sebagai bentuk perjuangan untuk membebaskan kaum Rohingya dari penindasan.

Sementara itu saksi mata dari warga di tempat penyerangan menyebutkan, aksi tembak-menembak terhadi saat penyergapan terhadap truk militer dilakukan. Pertempuran terus berlangsung meski penyergapan sudah selesai. Saat ini lokasi penyergapan masih ditutup dan terlarang untuk didatangi wartawan.

Myanmar dan Bangladesh tengah merundingkan rencana pengembalian pengungsi Rohingya. Namun, persoalan keamanan di Rakhine akan membuat perundingan itu menjadi berlarut-larut. (Ant)

Lihat juga...