Akses Air Bersih Dukung Kesehatan Warga Penengahan
LAMPUNG — Warga Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan yang membutuhkan air bersih untuk keperluan mandi, mencuci dan memasak. Namun akses untuk mendapatkannya kerap menjadi kendala.
Ika Riani (30), warga Dusun IV RT 07 Desa Sukabaru keluarganya berniat membuat sumur bor dengan biaya sekitar Rp8 juta untuk keperluan saat kemarau. Dirinya masih memanfaatkan air dari Sungai Way Pisang untuk keperluan mandi dan mencuci.
Keberadaan sumur dalam yang dimiliki warga bahkan belum mencukupi terlebih saat kemarau mata air menyusut dan kondisi air terkadang keruh.
Beruntung sejak empat bulan terakhir sejumlah warga di wilayah dusun tersebut memperoleh bantuan instalasi penyedia air bersih, di antaranya berupa saluran pipa, tandon air bersih berkapasitas 3.000 liter, meteran pengukur pemakaian air.
Bantuan juga mencakup lokasi khusus untuk mencuci bahkan mandi bagi anak anak. Lokasi ini dilengkapi dengan kran air masing masing sisi sebanyak 3 buah dengan total sebanyak 12 kran air.
“Pembangunannya memang sudah sejak tiga bulan silam dengan pemasangan tandon serta penambahan fasilitas kran air. Hanya saja fasilitas ini baru difungsikan sepekan terakhir untuk keperluan mencuci. Sementara untuk memasak belum kami gunakan karena masih banyak endapan dan beraroma,” kata Ika Riani kepada Cendana News.
Sebelum ada fasilitas tersebut warga sudah memiliki sumur dalam. Namun beberapa sumur warga menghasilkan air keruh dan berlumpur serta beraroma. Agar air lebih baik harus diendapkan beberapa hari sebelum bisa dimanfaatkan.
Kebutuhan air bersih untuk minum bahkan disebutnya kerap disediakan dengan cara membeli dengan menggunakan galon, meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk akses air bersih.
Air bersih lengkap dengan fasilitas penampungan air bersih merupakan bantuan dari salah salah satu yayasan pendidikan tersebut. Warga memperoleh air bersih secara cuma cuma tanpa harus membayar dengan sebanyak tiga tandon.
Meski saat musim hujan kebutuhan akan air bersih masih bisa dipasok dari sumur dalam. Namun dengan adanya air bersih gratis dirinya bisa menghemat penggunaan listrik untuk mesin penyedot air dari sumur.
“Selama musim hujan ini belum terlihat banyak warga yang mengambil air bersih karena pengoperasian tandon air ini baru sepekan nanti saat kemarau baru akan banyak yang mengambil air di sini,” ujar Ika Riani.
Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) juga memberikan bantuan pembuatan jamban. Sebagian masyarakat mengambil air bersih mempergunakan jerigen lalu menyimpan di sejumlah bak penampungan masing masing untuk kegiatan buang air besar.
Warga lainnya, Suminah membawa bak berisi pakaian ke tempat penampungan air yang disediakan. Adanyalantai keramik untuk mencuci pakaian milik keluarganya membuat dia tak perlu kerepotan menimba air dari sumur.
Hal ini cukup membantu terutama lokasi tandon air tepat berada di pekarangan. Meski memiliki sumur dalam namun Suminah memilih mencuci di lokasi tandon penampungan air dengan pasokan air cukup berlimpah untuk keperluan mencuci.
Mansur (40), selaku salah satu warga lain mengungkapkan hal senada. Akses air bersih yang layak sudah didambakan oleh masyarakat Desa Sukabaru sejak beberapa tahun silam terutama saat musim kemarau.
Keberadaan tandon air bersih dengan kapasitas 3000 liter membantu bagi dirinya untuk keperluan mencuci dan mandi meski harus mengangkut air mempergunakan jerigen atau ember.
“Lumayan bisa menghemat pemakaian air di sumur yang selama ini kami pergunakan untuk mandi dan mencuci meski harus diendapkan terutama saat musim hujan air menjadi keruh,” bebernya.
Sepekan setelah dioperasikan kondisi air dari dalam tandon masih dalam kondisi keruh, sehingga sebagian air sengaja dibuang. Dia menyebut penggunaan sementara air dari tandon tersebut sengaja hanya dipakai untuk mencuci.
Setelah satu bulan ke depan dengan hilangnya aroma plastik tandon baru serta air yang keruh tergantikan dengan air jernih diharapkan air tersebut juga bisa dipergunakan untuk memasak dan minum. Hingga saat ini ia masih membeli Rp10.000 galon isi ulang dan bisa dipergunakan selama sepekan.
Menurut Dimyati, Kepala Dusun Buring meski sebagian warga memperoleh bantuan air bersih, namun untuk wilayah Dusun IV di desa tersebut masih kekurangan air bersih.
Untuk RT I dan RT IV, ia masih berharap diberi bantuan tandon air bersih karena masyarakat masih memanfaatkan air Sungai Way Pisang untuk kebutuhan mandi,mencuci sementara untuk minum dan memasak sebagian membeli galon dari pedagang air keliling.
Keberadaan dua tandon air bersih tersebut diakuinya sudah cukup membantu warga yang sebagian sudah membuat jamban sehat program STBM sehingga kebutuhan air bersih bisa diambil dari tandon tanpa harus melakukan buang air besar sembarangan di sungai.
Toheri, warga Dusun VI masih memanfaatkan sumur dalam meski saat ini kondisi air berwarna keruh sehingga kebersihan air diakuinya tidak memadai untuk diminum.
Dia hanya memanfaatkan untuk kegiatan mencuci dan mandi. Selama bertahun tahun warga di wilayah tersebut diakui Toheri bahkan memanfaatkan air bersih dengan membeli air galon.
“Air sumur dalam di wilayah kami memang berwarna putih karena daerah kami dominan tanah berkapur sehingga tidak cocok untuk minum hanya dipakai untuk MCK,” paparnya.
Dominan masyarakat masih memanfaatkan air Sungai Way Pisang dengan cara mengendapkan di sejumlah bak penampungan untuk bisa dipergunakan sebagai sumber kebutuhan air minum terutama bagi warga yang tidak mampu membeli air galon.
