Pasca Gelombang Tinggi, Nelayan Ketapang Panen Ikan Layur
LAMPUNG — Pasca siklon tropis dahlia, nelayan yang berada di pesisir kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan mulai memanen ikan layur yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Hasil tangkapan yang cukup lumayan mulai menggeliatkan roda perekonomian.
Suhar, salah satu nelayan setempat menyebutkan, gelombang tinggi selain memaksa nelayan beristirahat melaut juga merusak sejumlah budidaya rumput laut di wilayah tersebut. Namun pasca meredanya siklon tropis dahlia dan didukung dengan perahu khusus, nelayan mulai kembali melaut.
“Kondisi perairan dan kontur pantai memang membuat nelayan memiliki jenis kapal yang berbeda. Dengan kapal tradisional jenis kasko kami justru memperoleh tangkapan ikan jenis layur, bilis dan lapan lapan di saat nelayan wilayah pesisir barat sama sekali tidak melaut,” beber Suhar saat ditemui Cendana News seusai menepi dari perairan laut Ketapang, Minggu (3/12/2017).
Disebutkan, sebagian ikan yang ada di wilayah perairan barat bermigrasi ke wilayah perairan Timur untuk berlindung di balik pulau pulau, di antaranya Pulau Kopiah, Seram Besar, Seram Kecil, Mundu, Keramat dan Pulau Suling.

“Dalam kondisi angin kencang dan gelombang tinggi di beberapa wilayah pesisir nelayan tak memperoleh tangkapan ikan sama sekali nelayan Ketapang justru memperoleh hasil tangkapan ikan melimpah jenis layur,lapan lapan dan bilis,”beber Surti.
Harga ikan layur dengan ukuran besar yang sudah disortir saat kondisi cuaca membaik Rp50.000 perkilogram. Ketika kondisi cuaca masih ekstrim bisa mencapai Rp65.000 perkilogram.
Bersama rekan rekan sesama nelayan dalam satu kapal sang suami bahkan mendapatkan ikan layur sebanyak 70 kilogram sementara jenis ikan lapan lapan dan ikan bilis total memperoleh hasil sekitar 300 kilogram.
Berkah pasca gelombang tinggi juga dirasakan oleh Tarjo, nelayan yang sehari hari ikut menjaring ikan di perairan Timur Lampung tersebut juga justru mengumpulkan rumput laut yang menepi akibat terhempas gelombang.
Sebagian besar rumput laut jenis SP dan Cottonii tersebut merupakan milik pembudidaya rumput laut yang jaraknya satu mil dari pantai Ketapang bahkan sebagian dari desa Legundi dan desa Tridarmayoga yang terbawa arus dan terhempas ke pantai.
“Kami meleles di tepi pantai dan memanfaatkan rumput laut yang terhempas ke pantai daripada mubazir kami kumpulkan nanti bisa dijual ke pengepul setelah dikeringkan,” beber Tarjo.