Hasil Panen Padi Petani Lamsel Turun Akibat Hama Burung

LAMPUNG — Serangan hama burung pipit di areal lahan persawahan Dusun Pahabung, Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan, memaksa petani melakukan panen lebih awal menghindari kerugian penurunan produksi padi.

Listio, pemilik setengah hektare lahan tanaman padi varietas ciherang, menyebut, biasanya masa panen dilakukan pada usia 100 hari. Namun, akibat serangan hama burung pipit, ia terpaksa memanen saat padinya berusia sekitar 88 hari.

Serangan hama burung, kata Listio, berimbas tanaman padi yang semula menghasilkan panen sekitar 2 ton untuk setengah hektare tersebut, berkurang menjadi sekitar 1,7 ton, ditambah serangan hama tikus yang menyerang tanaman padi pada malam hari, sementara serangan hama burung pipit menyerang tanaman padi pada pagi dan sore hari.

Sistem penanaman bagi hasil dengan tujuh orang penanam, diakui oleh Listio pada masa panen bulan November, dirinya bisa membawa pulang sekitar 1 ton yang sebagian dijualnya.

“Produksi panen semester kedua ini memang menurun dibandingkan panen sebelumnya, karena faktor serangan hama burung bahkan sebelum dirontokkan saya harus mengusir hama burung menggunakan alat seadanya pada beberapa petak yang belum dipanen”, terang Listio, warga Dusun Pahabung, Desa Ruang Tengah, saat ditemui di lahan sawah miliknya, Senin (4/12/2017).

Upaya mengatasi serangan hama burung pipit bahkan diakui Listio mengakibatkannya harus mempergunakan waktunya setiap hari sejak pagi dan sore untuk menjaga serangan hama burung pipit menggunakan orang-orangan sawah.

Cara tradisional tersebut diakuinya mampu menekan serangan hama burung. Namun, diperkirakan produksi padi yang dimilikinya menurun sekitar 30 persen dengan masa panen umumnya 100 hari terpaksa dipanen lebih awal 12 hari.

Masa panen lebih awal tersebut, membuat jerami yang menjadi limbah pertanian diburu oleh peternak sapi dengan kondisi jerami yang masih cukup hijau, sehingga lahan sawahnya langsung bersih tanpa adanya limbah jerami.

Masa tanam yang tidak serentak dengan petani sebelumnya ditambah sebagian lahan sawah lain yang sudah digunakan untuk menjadi lahan jagung, diakuinya menjadi faktor hama burung pipit menyerang padi yang ditanamnya.

Sekitar 50 petani yang menanam padi di wilayah tersebut, kata Listio, bahkan sebagian sudah melakukan pemanenan sekitar dua pekan sebelumnya dan ada yang memanen sepekan sebelumnya, sehingga hama burung pipit semakin gencar menyerang lahan sawah miliknya.

“Burung pipit selalu menyerang berpindah saat petani lain sudah memanen padi miliknya, imbas serangan ke lahan padi yang belum dipanen termasuk ke lahan milik kami. Apalagi, masa pergantian musim otomatis lahan sawah yang belum dipanen diserang hama burung pipit,” beber Listio.

Ia menyebut, pada lahan padi yang dimilikinya di Desa Kelau, ia sudah menjual 1 ton padi seharga Rp5.000 per kilogram, sehingga dalam satu kuintal ia memperoleh uang sekitar Rp500.000 per kuintal. Namun, saat panen di lahan sawah terakhir, harga gabah kering panen (GKP) menurun menjadi Rp4.800 atau sekitar Rp480.000 per kuintal.

Turunnya harga gabah tersebut membuatnya memutuskan untuk menyimpan gabah yang akan dipergunakannya untuk keperluan sehari-hari dengan proses penggilingan menjadi beras.

Usai melakukan panen dengan kondisi sistem irigasi yang baik, ia menyebut pada masa tanam pertama dirinya akan sepakat dengan petani lain untuk melakukan masa tanam sekitar bulan Februari dengan masa bulan Desember dipergunakan untuk masa istirahat lahan dan pengolahan lahan akan dilakukan pada bulan Januari mendatang, sehingga penanaman dilakukan bulan Februari secara serentak agar serangan hama burung dan hama lain tidak menyerang.

 

Lihat juga...