350 Warga Desa Wukirharjo Kesulitan Air Bersih
YOGYAKARTA – Hingga sepekan sejak bencana banjir dan longsor terjadi, 350 warga Desa Wukirharjo, Prambanan, Sleman, belum mendapatkan pasokan air bersih secara kontinyu, akibat rusak dan terputusnya pipa saluran air milik Organisasi Pengaturan Air (OPA) desa setempat.
Kebutuhan air masyarakat di dua dusun, yakni Losari 1 dan Losari 2 sampai saat ini masih dipenuhi lewat droping air secara berkala, baik oleh pemerintah maupun pihak terkait.

“Ada dua titik jaringan saluran OPA yang rusak. Sehingga aliran air terhenti. Dampaknya sekitar 300-350 keluarga di dusun Losari 1 dan Losari 2 sampai saat ini tidak mendapatkan pasokan air bersih dari OPA,” ujar Kepala Desa Wukirharjo, Prambanan, Turaji, Senin (4/12/2017).
Padahal, menurut Suraji, keberadaan air bersih yang disalurkan melalui pipa jaringan OPA sangat vital bagi masyarakat di Desa Wukirharjo. Air bersih yang diambil dari mata air di Desa Sumberharjo melalui OPA yang dikelola desa, selama ini sangat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi ribuan warga Desa Wukirharjo.
“Untuk mengatasi hal itu, kita saat ini tengah berupaya membenahi pipa saluran air yang terputus. Yakni, dengan cara menyambung pipa yang putus dengan cara dilas menggunakan pipa besi,” katanya, di lokasi.
Meski pembenahan ini bersifat sementara, namun diharapkan upaya ini dapat mengatasi persoalan ketersediaan air bersih bagi warga. Pihak pemerintah desa menargetkan setelah penyambungan pipa ini selesai, maka suplai air bersih di dua dusun yang selama ini terputus dapat mengalir kembali.
“Kita targetkan setelah perbaikan ini selesai, air bersih yang dikelola OPA sudah bisa mengalir ke rumah-rumah warga,” katanya.
Sebagaimana diketahui, kondisi geografis wilayah Prambanan yang berbukit membuat ribuan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Selama ini, suplai air bersih disediakan oleh OPA yang dikelola pemerintah desa setempat. Setiap warga yang berlangganan air bersih yang dikelola OPA ditarik biaya Rp9.000 per kubik.