Warga Namangkewa Tolak Rastra Bau Apek dan Berkutu

MAUMERE – Sebanyak 31,5 ton Beras Sejahtera atau Rastra yang sudah dikirim dari Bulog Divisi Regional Maumere ke Kantor Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, ditolak warga. Sebab, setelah dibuka ternyata berasnya dipenuhi kutu dan berbau apek.

“Tadi saya lagi di rumah dan tiba-tiba ada tetangga yang mengabarkan, bahwa beras Rastranya ditolak, sehingga saya buru-buru datang ke kantor desa dan mengecek ternyata berasnya tidak layak dikonsumsi dan berbau, sehingga warga menolak menerimanya,” tutur Suter, Sabtu (11/11/2017) sore.

Kepala Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka ,Nikolaus Nong Bale. -Foto: Ebed de Rosary

Saat ditemui Cendana News di Kantor Desa Namangkewa, sekitar pukul 17.00 WITA, Suter mengatakan, beras Rastra yang dulu dikenal dengan nama beras Raskin biasa diterimanya dalam kondisi bagus dan belum pernah ada kejadian seperti ini, sehingga ia mengaku kaget setelah mengecek langsung.

“Saya buka karungnya dan lihat langsung ternyata berasnya dipenuhi kutu dan baunya apek, dan sangat menyengat, sehingga semua warga yang sudah datang ke kantor desa dan hendak menerimanya menolak mengambilnya,” sebutnya.

Warga Dusun Napungseda, Desa Namangkewa ini mengaku kesal dan heran, kenapa petugas Bulog tidak memeriksa kondisi berasnya terlebih dahulu sebelum mendroping ke masyarakat.

Kepala Desa Namangkewa Nikolaus Nong Bale, saat ditemui Cendana News di kantor desa menjelaskan, semua beras yang diterima sebanyak 31,5 ton kualitasnya sangat jelak, berbau dan ada ulatnya semua.

“Tadi setelah pendropingan pertama saya sudah umumkan ke masyarakat untuk datang mengambil. Ternyata, karung yang pecah berasnya tidak bagus dan datang lagi satu truk saya minta berhenti kirim dahulu, sebab masyarakat tidak mau mengambilnya,” ungkapnya.

Nikolaus menambahkan, suasana menjadi gaduh, sebab masyarakat kesal melihat kondisi beras. Lalu, datang anggota DPRD Sikka, Gregorius Nago Bapa, dan terjadilah hiruk-pikuk, sehingga kami memanggil Kepala Bulog divisi Regional Maumere untuk datang dan meminta agar berasnya diambil kembali untuk diganti dengan yang layak dikonsumsi.

“Beras sebanyak 31,5 ton ini rencananya akan dibagikan kepada 175 kepala keluarga, masing-masing kepala keluarga akan mendapat jatah 180 kilogram, namun belum ada yang disalurkan,” terangnya.

Beras ini, tegas Nikolaus, sudah tidak layak untuk dimakan, sebab banyak kutunya dan dirinya sebagai kepala desa merasa sangat kecewa, karena ini bukan beras gratis, karena masyarakat membayarnya satu kilogram dibeli seharga 1.600 rupiah.

“Setiap orang mendapat 180 kilogram sehingga total uangnya 50,4 juta rupiah yang harus disetorkan desa kepada Bulog Divisi Regional Maumere, dan kasus seperti ini sebelumnya tidak terjadi, di mana beras yang selalu dibagikan berwarna putih bersih dan kualitasnya lumayan bagus,” tuturnya.

Masyarakat tidak mau dikembalikan uang, tandas Nikolaus, dan mereka meminta berasnya diganti dan tadi Kepala Bulog sudah datang lalu mengatakan akan menarik kembali berasnya serta akan mengganti dengan beras yang bagus.

“Biasanya setahun dua tahap pengambilan, tapi untuk Desa Namangkewa kami minta setahun sekali diambil, sehingga kami ambil di akhir tahun saja, namun bila kualitas berasnya seperti ini, maka siapa saja tentu keberatan,” pungkasnya.

Lihat juga...