Rastra Penuh Kutu Diduga Sudah Dikonsumsi Warga
MAUMERE – Beras Sejahtera (Rastra) yang diterima Desa Namangkewa sebanyak 31,5 ton yang berbau apek dan setelah dibuka karungnya ternyata beras tersebut dipenuhi kutu dan berwana kecokelatan, diduga sudah dikonsumsi warga desa lainnya di kecamatan Kewapante dan Hewokloang.
“Beras Rastra ini sebelumnya sudah dibagi kepada warga desa Kajowair dan Munerana di kecamatan Hewokloang serta desa Seusina di kecamatan Kewapante, dan kemungkinan beras tersebut kondisinya sama, namun warga tetap menerimanya,” sebut Marsel Ishak, warga Kewapnate, Sabtu (11/11/2017) sore.
Saat ditemui Cendana News di Kantor Desa Namangkewa, sekitar pukul 17.00 WITA, Marsel mengatakan, kemungkinan besar warga di tiga desa tersebut sudah mengkonsumsinya, sebab pembagiannya sudah beberapa hari lalu dan saya mendengar katanya kondisi berasnya juga sama.
Baca: Warga Namangkewa Tolak Rastra Bau Apek dan Berkutu

Marsel yang saat ditemui wartawan terlihat emosi dan berbicara dengan suara lantang ini, bahkan mengambil beras ukuran 20 kilogram dan dibawa pulang sebagi barang bukti dan berjanji akan mengembalikannya nanti setelah beras tersebut dibawa ke Jakarta dan diberikan kepada Presiden untuk dilihat.
“Tadi saya minta kepada Kepala Bulog, agar saya ambil sekarung untuk dibawa ke Jakarta beberapa hari lagi supaya saya mau tunjukkan kepada Bapak Presiden, dan pegawai Bulog katakan kalau naik pesawat nanti over bagasi, tapi saya katakan saya bisa bayar ongkosnya”, tegasnya.
Marsel juga menyebutkan, nanti setelah kembali dari Jakarta untuk urusan partai, dirinya akan mengumpulkan masyarakat agar menggelar unjukrasa ke Kantor Bulog Divisi Regional Maumere serta melaporkan pihak Bulog kepada pihak kepolisian, karena ini sebuah bentuk kejahatan dan disengaja karena jumlahnya banyak.
“Kasihan masyarakat kita yang harus mengkonsumsi beras yang tidak layak, padahal mereka membayarnya bukan dibagi secara grati,s sehingga dengan kejadian ini Bulog harusnya bisa mengontrol kualitas beras yang akan dibagikan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Kepala Bulog Divisi Regional Maumere, I Putu Suantara, yang ditemui Cendana News di kantornya pada Sabtu (11/11/2017), sekitar pukul 18.00 WITA, menyebutkan, memang kondisi beras yang dibagikan merupakan beras medium dan kualitasnya juga memang kurang baik.
Putu menambahkan, beras tersebut seharusnya sudah diambil pihak desa sekitar 4 bulan lalu atau sekitar bulan Juni 2017, namun karena belum diambil sehingga disimpan di Gudang Bulog dan mengakibatkan mutunya menurun, sebab seharusnya berasnya sudah harus diambil.
“Selama tidak diambil, beras disimpan di gudang kami, kami juga sudah koordinasikan ke pihak desa dan kami juga tidak tahu kendala apa yang dihadapi di desa, sehingga terlambat mengambilnya,” ungkapnya.
Kalau beras diambil tepat waktu, tegas Putu, maka tidak akan muncul kutu. Sebab, bila semua desa dan kelurahan tetap mengambil tepat waktu sesuai waktunya, setahun dua kali pengambilan, tapi banyak yang tidak mengambil tepat waktu.
“Tadi yang kami sudah drop sekitar 20,7 ton dan tadi kami sudah tarik untuk diproses, agar bisa diganti dengan yang baru agar bisa layak dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya.