Toilet Senilai Rp5,7 Miliar di Malioboro, Selesai Desember
YOGYAKARTA – Pemda DIY memastikan pada masa libur akhir tahun mendatang, wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta sudah bisa memanfaatkan fasilitas toilet bawah tanah senilai Rp5,7 miliar, yang dibangun di kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Hal itu disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, usai meninjau revitalisasi kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer, Senin (27/11/2017) sore.
Di bawah guyuran hujan, Sultan didampingi Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, berjalan kaki menggunakan payung menyusuri Jalan Malioboro dan Titik Nol Kilometer menuju lokasi toilet bawah tanah di Taman Parkir Jalan Senopati.
“Desember sudah selesai. Libur akhir tahun harusnya sudah bisa dipakai. Targetnya 18 Desember,” ujar Sultan kepada wartawan.
Melihat satu per satu kondisi toilet bawah tanah, Sultan sempat meminta agar lantai pembuangan air dibuat lebih miring, sehingga diharapkan air tidak menggenang. Sultan juga sempat meminta agar disediakan toilet untuk anak kecil yang lebih rendah dan berlubang lebih kecil.
“Saya butuh agak miring, biar buang airnya lebih tajam (langsung masuk ke saluran air). Kalau tidak bakal jadi jenes (becek). Orang malas masuk. Toilet untuk balita 4-5 tahun juga terlalu tinggi. Bisa beli di toko ada. Lubangnya lebih kecil,” ujarnya.
Sementara itu, untuk kawasan Malioboro, Sultan juga meminta adanya tambahan kursi bagi pengunjung atau wisatawan. Pasalnya, di sejumlah lokasi masih terlihat belum dipasang kursi atau bangku. Seperti salah satunya di sekitar Istana Negara Gedung Agung.
Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIY, Muhammad Mansyur, mengatakan, renovasi toilet bawah tanah di kawasan parkir Senopati merupakan bagian revitalisasi kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer tahap II.
Toilet sebanyak 20 buah yang menghabiskan dana mencapai Rp5,7 miliar saat ini sudah hampir selesai dan mencapai 93 persen. “Mudah-mudahan selesai tepat waktu. Nanti akan ada 6 kamar mandi, 12 toilet untuk laki-laki serta toilet untuk difabel dan ruang laktasi atau ruang menyusui. Sebelum digunakan akan kita ujicoba terlebih dahulu,” katanya.
Mahalnya biaya pembangunan toilet tersebut, kata Mansyur, paling besar digunakan untuk proses konstruksi. Toilet berada di bawah tanah, sehingga cukup sulit mengingat banyak kabel telepon, saluran air maupun kabel listrik yang harus disingkirkan.
“Nanti akan ada petugas pengawas kebersihan, agar kebersihan terus terjaga, wangi. Pengunjung toilet juga harus bayar. Tapi, belum kita tentukan tarifnya. Masih dipertimbangkan besarannya. Tapi, yang jelas pengunjung akan mendapatkan layanan dan fasilitas taraf international,” tutupnya.