Sunardi Panen Belasan Juta dari Tas Karung Goni
YOGYAKARTA – Seorang warga kampung Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, Sunardi (43) mampu menghasilkan pundi-pundi uang hingga belasan juta rupiah setiap bulannya hanya dengan bermodal bahan bekas berupa karung goni.
Berawal dari coba-coba, ia membuat produk berupa tas unik dari bahan karung goni untuk ia pasarkan ke sejumlah toko maupun secara online. Tak disangka, usahanya itu berkembang cepat, bahkan hingga membuatnya kewalahan melayani pembeli.
Selain memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, kerajinan tas karung goni milik Sunardi, juga diklaim awet karena terbuat dari bahan serat yang tebal, anyaman yang rapat, serta memiliki nilai seni yang tidak ditemukan pada tas umumnya.
“Dulu awalnya saya buat tas distro dari bahan finil. Lalu saya kepikiran untuk membuat produk tas yang beda dan belum ada. Jadilah saya membuat tas karung goni,” katanya kepada Cendana News, belum lama ini.
Sunardi mengaku, mendapatkan bahan karung goni bekas dari Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Karung goni berwarna coklat yang biasa digunakan untuk bungkus coklat, kacang, maupun biji kopi itu kemudian ia sulap menjadi aneka tas ransel maupun tas tote khas wanita.
“Karung goni bekas harus kita olah dulu sebelum bisa digunakan. Ini proses yang paling membutuhkan waktu lama. Karena karung harus dicuci, dikeringkan, dilapis dan dipres terlebih dahulu,” katanya.
Setelah bahan karung siap, maka proses dilanjutkan dengan membuat pola, disablon kemudian menjahit. Memiliki 2 orang tenaga, Sunardi mengerjakan seluruh proses secara manual. Dalam sehari ia mengaku mampu memproduksi sebanyak 12 tas.
“Kalau sebulan produksi antara sebanyak 50 tas ransel dan 70 tas tote berbagai jenis. Memang masih terbatas, karena hanya dibantu 2 orang tenaga, sementara seluruh proses harus dikerjakan secara manual,” ujarnya.
Selain proses produksi yang membutuhkan waktu cukup lama, ketersediaan bahan baku berupa karung goni juga menadi kendala pengembangan usaha pembuatan tas Sunardi. Pasalnya selama ini ia mengaku hanya mengandalkan pasokan dari Pasar Beringharjo.
“Kadang pas banyak pesanan, bahan baku justru tidak ada. Itu jadi kendala,” katanya.
Dengan harga jual Rp185 ribu-Rp 250 ribu untuk tas ransel dan Rp165 ribu-Rp250 ribu untuk tas tote, Sunardi mengaku kini telah memiliki omzet hingga mencapai Rp5-15 juta per bulan.
Sebagai salah satu upaya mengatasi terbatasnya ketersediaan bahan baku, ia pun berencana mengkombinasikan karung goni dengan bahan lainnya yakni kain jins bekas. Selain menghemat penggunaan karung goni, upaya ini juga dinilai akan menjadi varian produk terbaru yang ia hasilkan.
“Untuk pemesanan selama ini sudah banyak dibantu pemerintah. Yakni melalui promosi lewat pameran-pameran. Dengan begitu saya jadi bisa lebih fokus mengurusi produksi. Karena permintaan cukup banyak,” katanya.