Sistem Pertanian Irigasi Kabut, Terkendala Ketersediaan Jaringan Listrik

YOGYAKARTA – Sistem pertanian irigasi kabut di lahan kering berpasir diakui memiliki banyak keuntungan. Selain mampu meningkatkan hasil produksi hingga 2-3 kali lipat, sistem ini juga dinilai mampu meminimalisir tenaga hingga 10 persen, serta mencegah serangan hama penyakit dan menekan penggunaan pestisida hingga 70 persen.

Meski begitu, sistem pertanian yang tengah dikembangkan di kawasan pesisir Samas, Srigading, Sanden, Bantul ini bukan tanpa kendala. Menurut Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur, Sumarno, ketersediaan jaringan listrik serta besarnya modal awal untuk membeli peralatan penyiraman menjadi kendala utama.

Lahan cabai di Dusun Sanden Bantul yang menerapkan sistem pertanian irigasi kabut. Foto: Jatmika H Kusmargana

“Modal awal untuk membeli peralatan seperti pompa, peralon primer, peralon sekunder cukup besar. Mencapai Rp5 juta per 1000 meter. Meskipun penggunaannya sebenarnya cukup lama mencapai 5 tahun,” ujarnya saat acara Temu Tani Wicara Kelompok Tani Pasir Makmur dengan Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi SE atau akrab juga disapa Titiek Soeharto, di Desa Srigading Sanden, Bantul, belum lama ini.

Ketersediaan jaringan listrik sebagai tenaga penghidup pompa di lahan pertanian juga menjadi masalah lain. Pasalnya biasanya lokasi lahan pertanian yang berada jauh dari pemukiman, belum terjangkau aliran listrik PLN. Hal itu jugalah yang dialami Kelompok Tani Pasir Makmur saat ini.

“Di sini belum ada jaringan listrik. Sehingga kita kesulitan mengembangkan sistem ini. Beruntung beberapa waktu lalu, kita mendapatkan bantuan mesin disel sehingga bisa digunakan untuk menambah luas tanam sebanyak 1 hektar,” katanya.

Dengan kondisi lahan pasir yang minim nutrisi, penggunaan pupuk organik juga menjadi salah satu kunci agar hasil produksi dapat sesuai dengan yang diharapkan. Para petani di kawasan pesisir Pantai Samas sendiri, selama ini biasa menggunakan pupuk organik khususnya pupuk kandang sebanyak 40 ton per hektar.

“Kita berharap pemerintah dapat membantu mencarikan solusi bagi petani. Khususnya menyediakan jaringan listrik di sekitar kawasan lahan pertanian. Pasalnya, kita sudah mengajukan permohonan namun sampai sekarang belum terealisasi,” katanya.

Kawasan pesisir pantai selatan Bantul khususnya di Dusun Samas, Srigading, Sanden, Bantul sendiri, sebenarnya memiliki sebanyak 30 hektar lahan potensial yang bisa dikembangkan dengan sistem irigasi kabut. Sayangnya, hingga saat ini sistem ini baru dikembangkan sebanyak 1,3 hektar karena berbagai kendala tersebut.

 

Lihat juga...